Akurat

Kembali Tergenang Banjir, 40.844 Warga Bandung Selatan Terpaksa Diungsikan

| 27 Januari 2020, 15:40 WIB
Kembali Tergenang Banjir, 40.844 Warga Bandung Selatan Terpaksa Diungsikan

AKURAT.CO, Wilayah Bandung Selatan kembali tergenang banjir, akibat intensitas hujan deras yang cukup tinggi sejak Kamis (23/1/2020). Berdasarkan data hingga Minggu (26/1/2020), pukul 18.00, sebanyak 11.659 kepala keluarga dan 40.844 jiwa dari empat kecamatan, menjadi korban terdampak banjir. 

Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kabupaten Bandung Akhmad Djohara menyebutkan, dari total jumlah KK dan jiwa terdampak, tercatat sebanyak 208 KK, 695 jiwa, 51 lansia, 39 balita, 3 ibu hamil, 5 ibu menyusui dan 1 disabilitas, berada di beberapa titik pengungsian di Kecamatan Baleendah dan Dayeuhkolot.

“Di Baleendah, terdapat beberapa titik pengungsian, antara lain Gedung eks-Inkanas, Gedung shelter Parunghalang dan SDN Cibadak. Ada juga yang menempati kantor RW dan masjid,” ujar Ajo, sapaan akrabnya, saat dihubungi, Senin (27/1/2020). 

Di Desa Dayeuhkolot, Kecamatan Dayeuhkolot, para pengungsi tersebar di beberapa titik, antara lain aula desa dan masjid-masjid. Sedangkan di Desa Citeureup, pengungsi menempati kantor RW, masjid, posyandu dan rumah toko.

“Untuk wilayah Majalaya dan Rancaekek tercatat tidak ada pengungsi, sedangkan untuk Bojongsoang, sampai saat ini masih dilakukan pendataan,” kata dia. 

Dia menekankan, banjir paling parah terjadi di RW 04 Kampung Bojongasih, Desa Dayeuhkolot, dan RW 13 Kampung Ciputat, Kelurahan Andir, dengan tinggi muka air (TMA) 60 hingga 200 sentimeter.

Dilaporkan juga, beberapa akses jalan yang tidak bisa dilalui, antara lain Jalan Raya Banjaran-Bandung dengan TMA 30-40 cm, Jalan Raya Bandung-Ciparay dengan TMA 10-50 cm dan Jalan Raya Andir-Katapang dengan TMA 30-70 cm.

“Pusdalops (Pusat Pengendalian Operasi) terus melaporkan pembaharuan data satu kali 24 jam. Personel kami di lapangan, bersama muspika (musyawarah pimpinan kecamatan), aparat desa/kelurahan dan para relawan penggiat kebencanaan, melakukan assessment dan evakuasi warga terdampak banjir di empat kecamatan tersebut,” paparnya. 

Pihaknya juga terus berkoordinasi dengan BPBD Jabar dan Badan SAR Nasional. Koordinasi lintas sektor dengan perangkat daerah dan instansi terkait lainnya juga terus berjalan.

“Dinas Kesehatan membuka posko dan melakukan piket petugas kesehatan di tiap kecamatan terdampak. Untuk penyaluran logistik, kami bekerjasama dengan Dinas Sosial. Sementara untuk penanganan bencana, kami berkoordinasi dengan Satpol PP, PMI, TNI dan Polri,” urai Ajo. 

Terkait logistik, sampai saat ini pihaknya telah menyalurkan 30 paket makanan siap saji, 58 dus air mineral, 37 dus mi instan, 51 paket sembako, 78 lembar selimut, dan 59 lembar matras.

“Khusus untuk pembersihan material pasca banjir di Kecamatan Paseh, kami telah menyalurkan 48 buah slaber karet, 72 buah sikat gagang panjang, 84 botol pewangi lantai, dan 400 lembar karung,” bebernya. 

Perahu untuk kebutuhan evakuasi pun disiapkan pihaknya di beberapa titik banjir. Antara lain sebanyak 5 unit perahu karet, 7 unit perahu fiber dan 3 unit perahu aluminium. Selain itu, disiapkan pula dua unit tenda peleton yang dapat difungsikan sebagai shelter.[] 

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.