FIFA Akhirnya Merilis Temuan dalam Kasus Pemalsuan Dokumen Naturalisasi Malaysia

AKURAT.CO Kasus pemalsuan dokumen pemain naturalisasi Malaysia yang menyeret Asosiasi Sepak Bola Malaysia (FAM) masuk babak baru. Federasi Sepak Bola Internasional (FIFA) semakin merinci bahwa sejumlah pemain di bawah naungan FAM terbukti menggunakan dokumen palsu untuk memenuhi syarat bermain bagi tim nasional Harimau Malaya.
Malaymail, Selasa (7/10/2025) menulis laporan bahwa dalam hasil penyelidikan yang dilakukan Komite Disiplin FIFA (FDC), ditemukan sejumlah bukti yang tidak sesuai dengan data yang diajukan oleh FAM.
Investigasi mencakup berbagai berkas perkara, di antaranya FPSD-18683 hingga FPSD-19521. Temuan tersebut menunjukkan adanya perbedaan mencolok antara dokumen yang diserahkan oleh FAM dan bukti autentik yang dikumpulkan oleh penyidik FIFA.
Dalam rilisnya yang dikeluarkan Senin malam (6/10), FIFA menyebut telah memperoleh salinan akta kelahiran asli dari kakek dan nenek beberapa pemain yang diduga menggunakan identitas palsu.
Setelah penyelidikan, laporan FDC mengungkapkan adanya inkonsistensi yang signifikan antara dokumen yang diserahkan oleh FAM dan dokumen asli.
Dikatakan Sekretariat berhasil mengumpulkan salinan akta kelahiran asli nenek atau kakek para pemain yang terlibat, yang menunjukkan María Belen Concepcion Martin (Santa Cruz de la Palma, Spanyol), Carlos Rogelio Fernandez (Villa Maria Selva, Santa Fe de la Cruz, Argentina), Omar Eli Holgado Gardon (Caseros, Buenos Aires, Argentina), Concepcion Agueda Alaniz (Roldan, Argentina), Nair de Oliveira (Abre Campo, Brasil), Gregorio Irazabal y Lamiquiz (Villa de Guernica y Luno, Viscaya, Spanyol) dan Hendrik Jan Hevel (Den Haag, Belanda).
Namun, gugatan yang diajukan oleh FAM menyebutkan bahwa Maria Belen Concepion Martin berasal dari Malaka, Carlos Rogelio Fernandez (Penang), Omar Eli Holgado Gardon (Georgetown), Concepcion Agueda Alaniz (Penang), Nair de Oliveira (Johor), Gregorio Irazabal y Lamiquiz (Kuching), dan Hendrick Jan Hevel (Malacca Straits Settlements).
Sebelumnya hari ini, FAM mengonfirmasi telah menerima putusan tertulis lengkap dari FIFA terkait keputusan penangguhan tujuh pemain warisan karena diduga melanggar kode etik disiplin.
FAM, dalam sebuah pernyataan, mengumumkan bahwa mereka sekarang akan mengajukan banding secara resmi melalui jalur hukum yang tepat, karena semua bukti pendukung telah lengkap dan siap untuk segera diserahkan kepada FIFA.
FAM menyatakan bahwa mereka mempermasalahkan beberapa kesimpulan yang diambil oleh FIFA, terutama tuduhan bahwa para pemain memperoleh dokumen palsu atau sengaja berupaya menghindari aturan kelayakan.
Bulan lalu, FAM dan tujuh pemain warisan tersebut dijatuhi sanksi oleh Komite Disiplin FIFA setelah terbukti melanggar Pasal 22 Kode Disiplin FIFA terkait pemalsuan dokumen.
Dalam pernyataannya, FIFA menuduh bahwa FAM telah menyerahkan dokumen palsu untuk memverifikasi kelayakan para pemain, yang kemudian memungkinkan mereka untuk tampil di babak ketiga kualifikasi Piala Asia 2027 melawan Vietnam pada 10 Juni.
Ketujuh pemain yang dijatuhi sanksi adalah Gabriel Felipe Arrocha, Facundo Garces, Rodrigo Holgado, Imanol Machuca, Joao Figueiredo, Jon Irazabal, dan Hector Hevel.
Akibatnya, FAM didenda CHF350.000 (sekitar RM1,8 juta/ Rp7 M), sementara masing-masing pemain didenda CHF2.000 (sekitar RM10.560/ Rp41 juta) dan dijatuhi hukuman larangan bermain sepak bola selama 12 bulan, efektif sejak tanggal pemberitahuan keputusan.
Proses Naturalisasi Kilat dan Tertutup yang Mencurigakan
Permohonan FAM kepada FIFA untuk mengonfirmasi kelayakan para pemain diajukan secara bertahap, dimulai pada Maret 2025 dengan Hevel, diikuti oleh Palmero. Pada bulan Juni, dokumentasi untuk lima pemain lainnya juga diajukan. FIFA awalnya menyetujui kelayakan mereka untuk bermain untuk Malaysia, tetapi kalimat "tampaknya memenuhi syarat" menunjukkan bahwa persetujuan FIFA didasarkan pada dokumentasi yang diberikan, dengan FAM bertanggung jawab jika ditemukan pelanggaran lebih lanjut.
Sehari setelah ketujuh pemain tersebut tampil dalam kemenangan 4-0 Malaysia atas Vietnam di kualifikasi Piala ASEAN pada 10 Juni 2025, FIFA menerima pengaduan yang mempertanyakan kelayakan mereka.
Pengadu berpendapat bahwa proses naturalisasi dan debut internasional para pemain ini "berlangsung dalam jangka waktu yang dipertanyakan, sehingga menimbulkan pertanyaan penting tentang validitas proses ini." Terlebih tidak seperti proses yang dilakukan PSSI merekrut pemain keturunan untuk dinaturalisasi secara terbuka, FAM Malaysia melakukannya tanpa transparansi dan cenderung menutup-nutupi kejelasan asal usul para pemain.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini








