Akurat Logo

Indra Berharap Pembinaan Usia Muda Difasilitasi

Riandar Fata Hudaya | 15 Februari 2019, 10:08 WIB
Indra Berharap Pembinaan Usia Muda Difasilitasi

AKURAT.CO, Pada Oktober tahun kemarin ajang kompetisi sepakbola jenjang sekolah menengah pertama se-Indonesia resmi bergulir di tingkat Nasional. Ajang pencarian bakat yang juga dikenal dengan Gala Siswa Indonesia (GSI) ini menjadi salah satu sumber melahirkan timnas usia muda.

Menurut pelatih Timnas Indonesia U-22, Indra Sjafri, pembinaan usia muda di Indonesia sejatinya sudah bagus karena melibatkan banyak pakar sepakbola. Langkah semacam itu, kata Indra, punya potensi melahirkan calon-calon bintang sepakbola baru di masa depan.

“Terutama pembinaan usia muda. Di sana banyak teman-teman yang terlibat. Saya lihat mereka terlibat di sana dan itu bagus. Ini merupakan langkah bagus karena nanti GSI (Gala Siswa Indonsia) akan tambah bagus,” ujar Indra usai memimpin latihan timnas Indonesia U-22, di Lapangan ABC, Senayan, Jakarta, Kamis (14/2).

Meski demikian, Gala Siswa Indonesia harus terus mendapat dukungan berupa fasilitas. Dukungan dari berbagai pihak, jelas akan menciptakan satu timnas yang kuat. Indra mengatakan, dukungan itu harus dikonsep sesegara mungkin dalam tempo dekat.

“Sepakbola itu harus diperbaiki itu karena memang kita harus buat tim nasional kuat. Namun, harus ada supporting yang kuat kayak negeri PU, lapangan, terus training ground Timnas. Itu harus dikonsep untuk dua tahun ini. Itu harus sudah jelas di mana mau dibangun,” ujar Indra.

Fasilitas olahraga yang memadai memang menjadi salah satu komponen penting sebagai wahana pendukung progres timnas Indonesia. Mengambil contoh, Qatar, dengan proyek ambisiusnya Akademi Aspire. Proyek itu membawa hasil positif bagi sepakbola Qatar. Teraktual, mereka menjuari Piala Asia.

Walau begitu, Indra juga tak menampik bahwa bakat-bakat sepakbola bisa juga lahir dari pemain-pemain yang dalam kenyataannya tak punya lapangan dan fasilitas lengkap. Artinya, bakat-bakat yang ditemukan tanpa fasilitas itu di kemudian hari harus dikembangkan dengan dukungan berbagai wahana latihan yang mumpuni.

“Contoh si Yabes (Malaifani) ya. Dia enggak punya lapangan. Lapangannya pasir tapi mereka bisa bermain bagus,” kata mantan pelatih Bali United itu.[]

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.