Akurat

F1 GP Australia: Timur Tengah Membara, Ribuan Personel Putar Otak Cari Jalur Aman Menuju Melbourne

Dian Eko Prasetio | 2 Maret 2026, 17:45 WIB
F1 GP Australia: Timur Tengah Membara, Ribuan Personel Putar Otak Cari Jalur Aman Menuju Melbourne
Salah satu pembalap F1 dalam uji coba pramusim di Sirkuit Shakir, Shakir, Bahrain, 22 Februari 2026.

AKURAT.CO, Eskalasi krisis di Timur Tengah yang melibatkan serangan Amerika Serikat serta Israel ke Iran berdampak langsung pada kesiapan musim balap Formula One (F1) 2026.

Kurang lebih seribu personel jet darat tersebut terpaksa mengubah rencana perjalanan mereka menuju seri pembuka F1 GP Australia di Melbourne, Australia.

Gangguan penerbangan internasional menjadi momok utama menjelang F1 GP Australia.

Banyak staf tim yang tertahan atau harus memutar rute guna menghindari pusat transit internasional seperti Qatar serta Uni Emirat Arab yang terdampak serangan rudal.

Kepala Eksekutif Australian Grand Prix Corporation, Travis Auld, mengungkapkan bahwa proses perubahan jadwal terbang ini terjadi secara masif dalam beberapa hari terakhir.

"Anda berbicara tentang tim, pembalap, serta personel F1. Saya memperkirakan ada hampir seribu orang yang seharusnya tiba antara hari ini serta Rabu, tetapi semuanya harus mengubah rute," ujar Auld dilansir dari The Guardian.

Meski ada kendala pada personel, Auld memastikan balapan di Sirkuit Albert Park pada 6–8 Maret mendatang tetap berjalan sesuai jadwal.

Beruntung, mobil balap serta perlengkapan teknis sudah tiba di Melbourne lebih awal karena dikirim langsung setelah sesi uji coba pramusim di Bahrain bulan lalu, sebelum konflik pecah.

Auld memberikan jaminan bahwa sosok-sosok krusial dalam setiap tim tidak akan absen. Prioritas perjalanan diberikan kepada mereka yang memiliki peran vital di lintasan.

"Para pembalap akan berada di sini, para insinyur, serta kepala tim juga hadir. Mereka diprioritaskan, jadi Anda tidak akan melihat kejutan pembalap berbeda di balik helm nanti," tegasnya.

Namun, situasi berbeda dialami oleh produsen ban Pirelli. Mereka terpaksa membatalkan uji coba ban basah di Bahrain akibat konflik tersebut.

Beberapa staf Pirelli dikabarkan masih tertahan di Manama, yang menjadi salah satu titik target serangan drone.

Selain Pirelli, beberapa anggota tim McLaren serta Mercedes juga dilaporkan masih berada di Bahrain.

Termasuk di antaranya adalah pembalap ketiga Mercedes, Frederik Vesti, yang baru-baru ini terpantau masih beraktivitas di lintasan Sakhir.

Dampak konflik ini diprediksi akan berbuntut panjang bagi kalender balap 2026.

Mengingat F1 memiliki ketergantungan besar pada investasi serta lokasi di Timur Tengah, nasib putaran keempat di Bahrain serta seri kelima di Arab Saudi pada April mendatang kini menjadi tanda tanya besar.

F1 yang dikenal sebagai olahraga dengan mobilisasi logistik global paling kompleks kini harus bersiap menghadapi ketidakpastian keamanan di wilayah tersebut.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.