China Terbuka: Raymond/Joaquin Susul Fajar/Fikri ke Putaran Kedua, Fadia/Tiwi Tersingkir

AKURAT.CO, Pasangan ganda putra bulutangkis Indonesia, Raymond Indra/Nikolaus Joaquin, tampil menjanjikan di putaran pertama China Terbuka 2026 dengan menumbangkan wakil Chinese Taipei, Lee Fang-Chih/Lee Fang-Jen.
Bertanding di Olympic Sports Center Gymnasium, Changzhou, China, Selasa (21/7) waktu setempat, Raymond/Joaquin sukses mengunci kemenangan di laga pembuka China Terbuka lewat rubber game dengan skor 21-13, 19-21, dan 21-16.
Raymond mengungkapkan bahwa kesuksesan senior mereka, Fajar Alfian/Muhammad Shohibul Fikri, yang merengkuh gelar juara di Tokyo pekan lalu menjadi bahan bakar motivasi terbesar untuk menyusul pencapaian tersebut di China Terbuka.
"Kekalahan di Jepang minggu lalu coba dievaluasi kenapa dan tadi coba direvisi. Pastinya terinspirasi dan termotivasi dengan juaranya A Fajar dan A Fikri pekan lalu di Jepang, kami mau mengejar mereka," kata Raymond.
Sempat kehilangan gim kedua akibat kesalahan fatal di poin-poin krusial, Nikolaus Joaquin mengaku bersyukur mereka cepat melupakan kegagalan dan mampu bangkit pada gim penentu.
"Di gim ketiga kami berusaha fokus lagi, tidak memikirkan yang sudah terjadi, reset dari nol pikirannya dan Puji Tuhan berhasil memegang kendali lagi dan menang," jelas Joaquin.
Bisa berlaga di panggung penutup rangkaian tur Super 1000 tahun ini diakui Joaquin sebagai pengalaman luar biasa, dan mereka bertekad melangkah sejauh mungkin.
"Tahun ini cukup luar biasa buat kami karena sudah bisa ikut semua Super 1000, dan di penutupan Super 1000 ini pastinya kami mau hasil yang terbaik untuk meningkatkan kepercayaan diri sendiri juga," tambahnya.
Sayang, hasil positif tersebut gagal diikuti pasangan ganda putri Indonesia, Siti Fadia Silva Ramadhanti/Amallia Cahaya Pratiwi yang harus bertekuk lutut di hadapan pasangan Jepang, Sayaka Hirota/Ayako Sakuramoto, dengan skor straight set 16-21 dan 4-21.
Fadia mengaku cukup kecewa dengan penampilan mereka yang melenceng jauh dan tidak harapan. Terutama di gim kedua saat mereka gagal beradaptasi dengan laju angin di lapangan.
"Mungkin faktornya non-teknis ya, karena ekspektasi kami terlalu tinggi tapi di lapangan tidak seperti yang diinginkan. Sama sekali tadi kami tidak bisa mengeluarkan bentuk permainan kami," kata Fadia.
Senada dengan Fadia, Tiwi sepakat bahwa masalah kontrol mental dan beban ekspektasi menjadi bumerang utama yang melumpuhkan permainan mereka di atas lapangan.
"Ini pelajaran bagi saya dan Kak Fadia. Ketika permainan yang kami harapkan tidak keluar, kami jadi sangat tertekan dan menjadi bumerang banget. Ke depan kami tidak boleh berfokus pada hasil, tapi bagaimana berpikir satu poin demi satu poin," evaluasi Tiwi.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini

Terpopuler
- 1Prancis Terbuka: Ganda Putra Indonesia Menggila, Leo/Daniel dan Raymond/Joaquin Melesat ke Perempat Final
- 2Link Twibbon Hari Santri 2026 Gratis, Lengkap dengan Cara Memasangnya
- 3Netanyahu: AS Akan Hentikan Bantuan Militer ke Israel, Tinggal Menunggu Waktu
- 4Megawati Hangestri Dapat Julukan Baru dari Media Korea, Apa Artinya?
- 5Pemecatan Michael Carrick Mulai Disuarakan, Ada 'Monster' Sulit Dijinakkan di Tubuh MU?
- 6Prediksi Skor Napoli vs Roma 24 Oktober 2026: Derby del Sole Diprediksi Sengit
- 7Survei IPO: Gerindra Memimpin, PSI yang Diperkuat Jokowi di Posisi Sembilan
- 850 Contoh Ucapan Hari Santri 2026 Terbaru, Singkat dan Penuh Makna
- 9KPK Sita BMW Milik Richard Erlangga dalam Korupsi BNPB, Total Ada Empat Mobil
- 10KPK Buka Peluang Kembangkan Kasus Korupsi Jalan Sumut ke Pemprov, Bobby Nasution Disorot







