Erick Thohir Bakal Terapkan Sistem Promosi-Degradasi Cabor, SEA Games Thailand Tolok Ukur
Leo Farhan | 21 November 2025, 19:35 WIB

AKURAT.CO, Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora), Erick Thohir, menegaskan bahwa SEA Games Thailand 2025 bakal menjadi titik krusial dalam penataan ulang arah pembinaan olahraga nasional.
Ajang dua tahunan itu akan menjadi dasar penerapan sistem promosi dan degradasi bagi cabang olahraga (cabor), yang berkaitan langsung dengan pendanaan negara dan arah prestasi menuju Olimpiade 2028.
Erick menyebut SEA Games kali ini bukan sekadar arena kompetisi, melainkan instrumen evaluasi besar untuk menilai efektif atau tidaknya program pembinaan dari setiap cabor.
"Ini menjadi dasar kami di Kemenpora sebagai bahan evaluasi. Kami akan mendorong roadmap untuk menuju Olimpiade 2028. Artinya evaluasi yang dilakukan untuk SEA Games tahun ini akan jadi sasaran antara Asian Games dan SEA Games ke depan," kata Erick di Media Center Kemenpora, Senayan, Jakarta, Jumat (21/11).
Ia menegaskan seluruh cabor yang dikirim harus menunjukkan keseriusan dengan membawa pulang medali, sesuai target yang telah disepakati bersama. Kemenpora, ditegaskan Erick, tidak akan ragu menerapkan promosi dan degradasi bagi cabor berdasarkan kinerja masing-masing.
Erick menjelaskan, cabor yang gagal memenuhi target bakal dialihkan ke jalur pendanaan mandiri. Mekanisme ini berlaku khusus dalam kerangka 17 cabor strategis prioritas Desain Besar Olahraga Nasional (DBON).
"Kalau cabor tidak tepat sasaran, masuk ke jalur berangkat mandiri. Ini masuk ke cabor strategis 17 cabor itu. Jadi ada promosi dan degradasi di DBON supaya sama-sama serius membangun olahraga kita," tambahnya.
Menjawab pertanyaan soal keterkaitan promosi-degradasi dengan efisiensi anggaran, Erick menjelaskan bahwa setiap cabor memiliki karakter pembinaan berbeda. Karena itu, rumusan Key Performance Indicator (KPI) tidak bisa disamaratakan.
“Tolok ukur ini menarik karena masing-masing cabor punya metode dan sistem berbeda. Kalau dilihat dari Pak Wamen, di bulutangkis ada sistem sirkuit. Kalau di angkat besi beda lagi, itu lebih banyak pemusatan di Indonesia lalu di luar negeri,” jelasnya.
Kemenpora tidak ingin pembinaan olahraga nasional dicap sebagai pemborosan. Karena itu, sistem evaluasi berbasis target, termasuk medali, yang menjadi fondasi dalam menentukan pendanaan masa depan setiap cabor.
"Itulah kenapa sistem evaluasi dari cabor yang promosi dan degradasi perlu ada target medali dan lain-lain. Kami dorong pendanaan maksimal tentu berharap hasil maksimal tapi jangan sampai ada temuan penyalahgunaan pendanaan," katanya.
Melalui kerja sama dengan BPKP dan Kejaksaan, Erick memastikan seluruh proses berlangsung transparan dan akuntabel, sekaligus mengirim pesan tegas bahwa transformasi olahraga Indonesia tidak boleh setengah hati.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Kalender Jawa 10 Oktober 2026: Watak Weton Sabtu Kliwon dan Hari Baiknya
- 2Eks Ketua KY Soroti Putusan MK soal Ijazah Gibran: Tidak Menemukan Bukti Bukan Berarti Terbukti
- 3Kalender Jawa 12 Oktober 2026: Watak Weton Senin Pahing Dikenal Tegas dan Punya Cita-Cita Tinggi
- 4Kontak Tembak di Papua Barat Daya, Komandan Operasi OPM Dikabarkan Tewas
- 5India Diguncang Gelombang Penangkapan, Ribuan Orang Ditahan Jelang Demo Tuntut Ketua KPU Mundur
- 6Kalender Jawa 13 Oktober 2026: Watak Weton Selasa Pon, Setia tetapi Mudah Cemburu
- 7Prediksi Lens vs Sporting CP 13 Oktober 2026: Skor, H2H, dan Susunan Pemain
- 8Kesepakatan Diesel Trump-Putin Dicibir Zelensky: Kami Dijadikan Kedok
- 9KPK Jadwalkan Ulang Pemeriksaan Nusron Wahid Pekan Ini
- 10Eratnya Persahabatan Indonesia-Mesir, Prabowo Antarkan Langsung Keberangkatan Presiden El-Sisi







