Akurat Logo

Lima Puluh Tahun 'Thrilla in Manila', Duel yang Memperburuk Kesehatan Muhammad Ali di Hari Tua

Badri | 14 Oktober 2025, 12:36 WIB
Lima Puluh Tahun 'Thrilla in Manila', Duel yang Memperburuk Kesehatan Muhammad Ali di Hari Tua

AKURAT.CO, Lima puluh tahun berlalu sejak pertarungan bersejarah antara Muhammad Ali dan Joe Frazier digelar di ibukota Filipina, Manila. Kedua petarung juga sudah mangkat namun kisah duel terakhir dari trilogi Ali-Frazier itu tetap bertahan.

Thrilla in Manila adalah tajuk duel di mana Muhammad Ali menghadapi Joe Frazier untuk kali ketiga sekaligus mempertaruhkan sabuk juara dunia kelas berat WBA dan WBC miliknya.

Rabu, 1 Oktober 1975, adalah jadwal yang ditentukan untuk Thrilla in Manila. Lokasinya adalah Araneta Coliseum yang terletak di kawasan Quezon City.

Baca Juga: Celana Tinju 'Thrilla in Manila-nya' Muhammad Ali Dilelang, Diperkirakan Sentuh Rp95 Miliar

Salah seorang penulis biografi resmi Muhammad Ali, Thomas Hauser, mengatakan bahwa duel Thrilla in Manila adalah duel yang paling berdampak pada kondisi kedua petarung, baik fisik maupun kejiwaan.

Menulis di The Guardian, Thomas Hauser mengenang momen ketika ia menonton kembali rekaman pertarungan Thrilla in Manila bersama Muhammad Ali pada 1989.

Sungguhpun Ali menang karena Frazier dianggap tak bisa melanjutkan laga setelah ronde ke-14, Hauser menyebut sang legenda “memicingkan” matanya menonton video ketika ia menerima pukulan Joe Frazier.

“Dia tampaknya merasakan lagi rasa sakit (pukulan Frazier). Ketika rekaman (video) selesai, dia menghadap ke saya dan bilang, ‘Frazier berhenti (bertarung) sebelum saya melakukannya. Saya berpikir saya tidak bisa bertarung lagi’,”.

Bertahun-tahun kemudian, Frazier menyiratkan bahwa permusuhannya dengan Ali masih bertahan. Ia menyebut bahwa pukulannya terhadap Ali di Thrilla in Manila berdampak pada kesehatan sang rival di kemudian hari.

“Dia menang. Tetapi saya memulangkan dia lebih buruk ketimbang ketika saat dia datang. Lihat dia sekarang. Dia merosot (kesehatannya),” kata Frazier.

Baca Juga: Arum: Kehebohan Laga Josua-Fury bakal Dekati Ali-Frazier 1971

“Katakan pada saya sekarang; dia atau saya; siapa yang lebih buruk ketika bicara saat ini? Manila tidak lagi penting. Dia sudah habis, saya masih ada di sini.”

Ali memaklumi kebencian Frazier terhadapnya. Sepanjang rivalitas mereka, Ali mengeksploitasi kesan bahwa Frazier adalah orang kulit hitam yang mewakili otoritas kulit putih di Amerika Serikat.

“Saya tidak berpikir ada dua orang besar pernah bertarung seperti saya dan Joe Frazier. Satu pertarungan, mungkin. Tetapi tiga kali? Hanya kami,” kata Ali.

“Saya minta maaf terhadap Joe Frazier karena dia marah pada saya. Saya minta maaf karena menyakiti dia. Joe Frazier adalah seorang lelaki yang baik.

“Saya tidak bisa melakukan apa yang sudah saya lakukan tanpa dia, dia tidak bisa melakukan apa yang sudah dia lakukan tanpa saya. Dan jika Tuhan memanggil saya untuk perang suci, saya ingin Joe Frazier berjuang bersama saya.”

Joe Frazier meninggal dunia pada usia 67 tahun pada 2011. Sementara Muhammad Ali wafat lima tahun kemudian dengan kondisi kesehatan yang memburuk di dekade terakhir hidupnya.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

B
Reporter
Badri
H