Jelang Olimpiade Paris, IOC Didesak Minta Prancis Batalkan Larangan Atlet Mengenakan Jilbab

AKURAT.CO, Sejumlah kelompok pembela hak asasi manusia (HAM) mendesak Komite Olimpiade Internasional (IOC) untuk mendorong dibatalkannya aturan larangan menggunakan jilbab atau hijab bagi atlet Prancis.
Sejalan dengan Prancis yang akan menjadi tuan rumah Olimpiade Paris 2024 yang bakal berlangsung Juli–Agustus mendatang, desakan ini disampaikan melalui surat resmi di antaranya oleh Amnesty International dan Human Rights Watch.
Lembaga pembela HAM menyatakan bahwa larangan tersebut mendiskriminasi atlet muslim Prancis. Atlet muslim berpotensi mengalami trauma dan perasaan terhina atas kebijakan tersebut.
Baca Juga: Larangan Penggunaan Hijab di Asian Para Games Salah Siapa?
“Larangan jilbab dalam olahraga menyebabkan banyak atlet muslim didiskriminasi, dihilangkan, disingkirkan dan terhina, menyebabkan trauma dan isolasi sosial,” kata kelompok pembela HAM dalam suratnya.
“Beberapa dari mereka ditelantarkan atau mencari kesempatan bermain di tempat lain.”
Isu larangan mengenakan jilbab telah beredar lama dalam persiapan Olimpiade Paris. September lalu, Menteri Olahraga Prancis kembali menyoroti kebijakan larangan jilbab dengan penjelasan soal komitmen Pemerintahnya terhadap sekularisme.
Perserikatan Bangsa-Bangsa juga telah mengkritik aturan tersebut. Organisasi negara-negara di dunia itu mengatakan bahwa perempuan tidak bolah dipaksa untuk mematuhi aturan berpakaian.
Adapun IOC mengambil jalan “aman” dengan mengatakan bahwa aturan yang diterapkan Prancis tidak berlaku terhadap atlet dari negara lain.
Baca Juga: Bawa Jilbab Ke Piala Dunia, Nouhaila Benzina Kini Teladan Remaja Muslim Putri
Salah satu pebasket putri Spanyol, Helene Ba, menuding kebijakan larangan jilbab bagi atlet Prancis mempertajam sikap anti-muslim di negaranya. Pendiri organisasi keberagaman Basket Pour Toutes menyebut kebijakan itu melanggar Piagam Olimpiade.
“Ini memperkokoh kembali stereotip jender dan rasial, dan menyuburkan kebencian anti-muslim yang telah menjadi menjalar di masyarakat Prancis,” kata Helene Ba.
Salah seorang atlet yang terdampak aturan ini adalah Diaba Konate. Pebasket ini tak bisa bermain di negaranya meski punya karier cemerlang di Liga Basket Kampus Amerika Serikat (NCAA) bersama UC Irvine.
“Meski saya punya hasrat dan kemampuan, saya benar-benar tidak diizinkan bermain untuk Prancis karena kebijakan diskriminatif yang melarang atlet seperti saya,” kata Diaba Konate.
“Sebagai seorang perempuan muslim yang memilih mengenakan jilbab, saya tidak bisa mengekspresikan keyakinan saya dan mengejar cita-cita keatletan saya secara penuh.”
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini

Terpopuler
- 1Kecelakaan Maut di Afrika Selatan, 21 Orang Tewas dalam Tabrakan Tiga Kendaraan
- 2Terpukau Atmosfer Persija vs Persib di SUGBK, John Herdman: Belum Pernah Saya Rasakan
- 3Apa Itu Gempa Megathrust? Ini Wilayah Indonesia yang Berpotensi Terdampak
- 4Tokoh Partai Reformasi Britania Raya Balas Trump soal Irlandia Bersatu: Jangan Campuri Politik Inggris!
- 5Suahasil Nazara Jadi Menkeu Baru, Ini Sosok dan Perjalanan Kariernya
- 6Soal Kabar Jokowi-Megawati Bakal Bertemu, Said Abdullah: Kartunya Mati, Jangan Dihidupkan Lagi
- 7ACL Two: FC Seoul Siapkan Pemain SMA Lawan Persib Bandung, Anggap Remeh?
- 8Ismed Sofyan Puji Shin Tae-yong Usai Persija Kalahkan Persib, Putuskan Kebuntuan 3 Tahun
- 9Sidang Korupsi Kuota Haji Ungkap Marwan Dasopang Mendorong Kuota Tambahan Tidak Seluruhnya untuk Jemaah Reguler
- 10Fahd A Rafiq Bersama Tujuh Tersangka OTT Summarecon Digiring ke Mobil Tahanan KPK






