Akurat

Apa Itu Carok? Ini Penjelasan Pertarungan Ekstrem yang Sering Terjadi di Bangkalan

Iim Halimatus Sadiyah | 15 Januari 2024, 09:50 WIB
Apa Itu Carok? Ini Penjelasan Pertarungan Ekstrem yang Sering Terjadi di Bangkalan

AKURAT.CO Baru-baru ini, carok di Bangkalan menjadi suatu peristiwa yang menjadi perhatian masyarakat karena dianggap suatu pertarungan yang ekstrem.

Carok adalah suatu perkelahian antarkelompok menggunakan senjata tajam untuk alasan tertentu yang menyinggung harga diri.

Dikutip berbagai sumber, Senin (15/1/2024), sejarah carok yang dapat ditemukan dalam bahasa Kawi Kuno, artinya carok adalah perkelahian.

Carok tersebut biasanya terjadi antara dua orang atau dua keluarga besar, dan biasanya sering terjadi perselisihan di penduduk desa di Bangkalan, Sampang, dan Pamekasan.

Baca Juga: Rahasia di Balik Carok, Tradisi Turun-Temurun Masyarakat Madura

Apa Itu Carok?

Sebutan carok dikenal masyarakat karena viral di media sosial yang kabarnya sudah memakan 4 korban.

Pemicu carok dapat berupa perselingkuhan, perebutan tempat di keraton, dan perebutan tanah. Bisa juga menjadi dendam yang diwariskan selama bertahun-tahun.

Tidak ada istilah carok digunakan pada abad ke-12 saat Kerajaan Madura dipimpin oleh Prabu Cakraningrat dan pada abad ke-14 saat pemerintahan Jokotole. 

Bahkan pada masa pemerintahan Penembahan Semolo, putra Bindara Saud, putra Sunan Kudus, pada abad ke-17, istilah itu tidak digunakan.

Menurut sejarah budaya, carok berasal dari bahasa Kawi Kuno, yang artinya perkelahian yang biasanya dilakukan dua orang atau keluarga besar, dan juga sering terjadi perkelahian antar penduduk desa.

Baca Juga: 4 Fakta Heboh Kasus Carok di Bangkalan, Terjadi Perkelahian yang Libatkan Dua Desa Sekaligus

Carok tersebut memang cukup umum terjadi di Bangkalan, Sampang, dan Pamekasan, yang biasanya disebabkan oleh perebutan posisi di Keraton, perselingkuhan, atau perebutan tanah warisan. 

Di Madura, istilah carok digunakan pada abad ke-18. Semboyan yang digunakan oleh orang Madura adalah Lebbi Begus Pote Tollang E Tembeng Pote Matah. 

Arti dari semboyan tersebut menunjukkan bahwa mati berkalang tanah lebih baik daripada menanggung malu.

Jadi, ketika ada masalah seperti perebutan tanah warisan, orang Madura di mana pun akan menyelesaikannya dengan cara ekstrem, seperti perkelahian atau yang dikenal sebagai carok.

Celurit merupakan salah satu senjata tajam berbentuk bulan sabit yang paling sering digunakan saat carok. 

Carok sendiri memiliki dua jenis tindakan, yaitu carok ngonggai adalah carok yang dengan sengaja pergi ke rumah musuh untuk menantangnya. Teknik carok ngonggai biasanya dihargai lebih tinggi daripada teknik carok nyelep. 

Sementara carok nyelep adalah jenis kedua dari budaya carok, yaitu pelaku menyerang targetnya dari belakang atau dari samping, identik dengan tanpa pelaksanaan atau dilaksanakan secara spontan. 

Viralnya kejadian carok yang menggemparkan penduduk Tanjung Bumi ini tampaknya menggunakan jenis carok nyelep, karena pelaku melakukannya secara spontan setelah konflik di pinggir jalan. 

Itulah penjelasan lengkap mengenai carok atau perkelahian yang sudah menghebohkan warganet di media sosial karena viralnya video korban yang beredar.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.