Jumlah Anak Semakin Sedikit, tapi Risiko Sandwich Generation Semakin Berat

AKURAT.CO Bayangkan sebuah keluarga dengan hanya dua anak. Keduanya sudah memasuki usia produktif, tetapi pada saat yang sama orang tua mulai menua dan membutuhkan lebih banyak dukungan.
Ketika tanggung jawab keluarga harus dibagi, jumlah saudara yang bisa ikut menanggung biaya, waktu, dan perawatan menjadi semakin terbatas. Inilah salah satu alasan sandwich generation berpotensi menghadapi tekanan yang lebih berat di tengah perubahan demografi Indonesia.
Persoalannya menjadi semakin relevan karena Indonesia sedang bergerak menuju masyarakat menua. Jumlah lansia meningkat, sementara tingkat kelahiran terus menurun. Struktur keluarga yang terbentuk pun berbeda dibandingkan beberapa dekade lalu.
Riset DBS Foundation berjudul “Indonesia Menuju Populasi Menua: Seberapa Siapkah Kita?” menunjukkan bahwa persoalan tersebut bukan hanya mengenai bertambahnya jumlah penduduk berusia lanjut. Perubahan demografi juga menyentuh cara keluarga membagi tanggung jawab ekonomi antargenerasi.
Mengapa jumlah anak yang semakin sedikit bisa memperberat risiko sandwich generation?
Jumlah anak yang lebih sedikit tidak otomatis membuat setiap keluarga menjadi sandwich generation. Namun, ketika jumlah anggota keluarga produktif yang dapat berbagi tanggung jawab semakin terbatas, sementara kebutuhan orang tua di usia lanjut tetap ada, tekanan pada setiap anak berpotensi meningkat.
Beberapa perubahan yang perlu diperhatikan adalah:
Total Fertility Rate (TFR) turun dari 3,11 pada awal 1990-an menjadi 2,13 pada 2024.
TFR diproyeksikan kembali turun menjadi 1,97 pada 2045.
Proporsi lansia telah mencapai 12% pada 2025 dan diproyeksikan lebih dari 20% pada 2045.
Sekitar 82,96% rumah tangga lansia bergantung pada penghasilan anggota keluarga yang bekerja.
Sebanyak 55,32% lansia masih bekerja dan 84,75% lansia pekerja berada di sektor informal.
Kepemilikan tabungan atau dana pensiun masih hanya 5,37%.
Kombinasi data tersebut menunjukkan bahwa persoalan sandwich generation bukan semata-mata soal jumlah anak. Masalah yang lebih mendasar adalah berapa banyak orang yang dapat berbagi tanggung jawab ketika kebutuhan antargenerasi muncul bersamaan.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Ancaman Denny Indrayana ke Presiden Prabowo Bentuk Penghinaan pada Mandat Rakyat
- 2Tujuh Dekade Asuransi Astra Menjaga Asa: Merajut Kemandirian Ekonomi UMKM, Perempuan, hingga Penyandang Disabilitas
- 3Memutus Mata Rantai Kejahatan Keuangan Digital: Upaya OJK Melindungi Masyarakat dari Jerat Judi Online
- 4Tak Tergilas Disrupsi, Tak Terjebak Perang Harga: Rahasia Bluebird Menjaga Takhta di Industri Transportasi Dalam Negeri
- 5Ina Liem Kini Setuju Gibran Mundur dari Wapres, Alasannya Bikin Heboh
- 6Putin Nyatakan Rusia Siap Perang dengan Eropa Meskipun Tidak Menginginkannya
- 7Viking Sebut Terduga Pembunuh ARK Bukan Pendukung Persija, Terindikasi Kelompok Suporter Klub Lain
- 8Moto3 GP Malaysia: Hiroshi Aoyama Puji Kecerdikan Veda Ega Pratama Taklukkan Suhu Lintasan Sepang
- 9Harga Cabai Berangsur Turun Awal November
- 10Geledah Kantor PT IPPS, Kejagung Sita Ponsel dan Temukan Akses Ruangan Rahasia








