Kenapa Maudy Ayunda Disebut Tone Deaf? Ini Alasan Konten Mindfulness Dikritik Warganet

AKURAT.CO Nama Maudy Ayunda kembali menjadi perbincangan di media sosial hingga disebut tone deaf setelah konten YouTube berjudul “Mindfulness in the Age of Bad News” menuai kritik dari warganet.
Lantas, kenapa Maudy Ayunda disebut tone deaf? Istilah tersebut muncul karena sebagian warganet menilai cara Maudy membahas kesehatan mental di tengah berbagai kabar buruk kurang mempertimbangkan kondisi masyarakat yang mengalami persoalan tersebut secara langsung.
Inilah penjelasan lengkap yang membuat nama Maudy Ayunda menjadi sorotan di media sosial hingga disebut tone deaf.
Baca Juga: THE BOYZ Buka Babak Baru, 9 Member Resmi Gabung 78 RECORDS untuk Aktivitas Grup!
Kenapa Maudy Ayunda Disebut Tone Deaf?
Kritik terhadap Maudy Ayunda kembali ramai setelah konten YouTube miliknya yang berjudul “Mindfulness in the Age of Bad News” menjadi perbincangan warganet.
Melalui video tersebut, Maudy membahas cara seseorang menjaga kesehatan mental ketika setiap hari dihadapkan dengan berbagai kabar buruk.
Menurutnya, banyaknya informasi negatif dari dalam maupun luar negeri dapat membuat seseorang merasa lelah, cemas, bahkan kewalahan secara emosional.
Namun, pembahasan tersebut justru mendapat kritik dari sebagian warganet. Mereka menilai cara Maudy menyampaikan topik tersebut kurang mempertimbangkan kondisi masyarakat yang sedang menghadapi berbagai persoalan secara langsung.
Baca Juga: Pemerintah Setuju Bahas 15 RUU Kabupaten/Kota, Mendagri Minta 3 Hal Jadi Batasan
Salah satu hal yang menjadi sorotan adalah penggunaan istilah “bad news” untuk menggambarkan berbagai persoalan seperti politik, ekonomi, bencana, hingga masalah sosial.
Sebagian warganet merasa persoalan tersebut tidak selalu bisa dilihat hanya sebagai berita negatif yang perlu dibatasi agar tidak mengganggu ketenangan pikiran.
Pada dasarnya, kritik yang muncul bukan ditujukan kepada konsep mindfulness. Mindfulness sendiri merupakan cara untuk lebih sadar terhadap pikiran, perasaan, dan kondisi yang sedang dialami tanpa langsung terbawa oleh emosi tersebut.
Yang menjadi persoalan adalah konteks pembahasannya. Sebagian warganet menilai pengalaman seseorang dalam menghadapi berita buruk bisa sangat berbeda.
Bagi orang yang hanya melihat suatu masalah melalui pemberitaan, mengurangi paparan berita mungkin dapat membantu menjaga kesehatan mental.
Namun, bagi masyarakat yang mengalami langsung dampak bencana, masalah ekonomi, kerusakan lingkungan, atau persoalan sosial, situasinya tentu berbeda. Mereka tidak sekadar membaca atau menonton berita, tetapi merasakan langsung dampaknya dalam kehidupan sehari-hari.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini

Terpopuler
- 1Kalender Jawa 28 Oktober 2026: Watak Weton Rabu Pon, Benarkah Dikenal Pekerja Keras?
- 24 Link CCTV Jakarta Hari Ini, 28 Oktober 2026: Pantau Situasi Demo di Bundaran HI!
- 3Pemimpin Oposisi Israel Berjanji akan Mengganti Pemerintahan Netanyahu setelah Pemilu
- 4Prediksi Skor Roma vs Cagliari 28 Oktober 2026: Giallorossi Diunggulkan Menang
- 5Materi Matematika TKA SMA 2026, Cek Kisi-Kisi dan Contoh Soal Terbaru
- 6Kalender Jawa 27 Oktober 2026: Watak Weton Selasa Pahing Dikenal Cerdas dan Banyak Akal
- 7Kalender Jawa 29 Oktober 2026: Watak Weton Kamis Wage Dikenal Punya Cita-Cita Tinggi
- 8Biaya Marketplace Makin Tinggi, Brand Lokal Mulai Mengandalkan Website Sendiri
- 9Silmy Karim Didakwa Terima Rp1,2 Miliar dari Pungli Dokumen Imigrasi
- 10KPK Ingatkan Nusron Wahid untuk Kooperatif dan Berharap Dukungan Penuh Pemerintah





