7 Brand Indonesia yang Mengusung Sustainable Fashion, Gaya Trendi Tanpa Rusak Lingkungan

AKURAT.CO - Industri fashion adalah salah satu sektor ekonomi terbesar di dunia, tetapi pertumbuhannya juga telah memunculkan masalah lingkungan dan sosial yang signifikan.
Salah satu permasalahan utama adalah munculnya konsep "fast fashion." Fast fashion mengacu pada produksi pakaian yang cepat, murah, dan seringkali bersifat sekali pakai.
Model bisnis ini menekankan produksi massal dan penawaran pakaian dengan cepat ke pasar untuk merespons tren mode terbaru.
Meskipun fast fashion telah menghasilkan akses yang lebih mudah dan terjangkau ke pakaian yang modis, model bisnis ini juga memiliki dampak negatif yang serius, seperti peningkatan limbah tekstil.
Maka untuk mengatasi permasalahan tersebut, semakin banyak pula merek fashion yang menerapkan konsep sustainable fashion.
Baca Juga: Sejarah Christian Dior, Brand Fashion Mewah yang Lekat dengan Nuansa Tahayul dan Mistis
Apa Itu Sustainable Fashion
Dikutip dari zerowaste.id, sustainable fashion atau fesyen berkelanjutan merupakan praktek dalam dunia mode yang mengutamakan nilai-nilai yang melibatkan berbagai pihak di dalamnya, terutama fokus pada aspek lingkungan dan kemanusiaan.
Tujuannya adalah untuk membuat fesyen, dalam segala bentuknya, mulai dari gaya hidup pribadi hingga aspek bisnis, menjadi lebih makmur dan meninggalkan dampak negatif seminim mungkin.
Fesyen berkelanjutan bertujuan untuk menyatukan seluruh pihak di industri fesyen, termasuk perancang, produsen, distributor, dan konsumen, agar bersama-sama bekerja untuk mengubah cara bahan baku fesyen diperoleh, diproduksi, dan dikonsumsi, menuju arah yang lebih berkelanjutan.
Brand Fashion Indonesia yang Menerapkan Konsep Sustainable Fashion
Dikutip dari berbagai sumber, berikut ada 7 brand fashion yang mengusung konsep sustainable fashion:
1. Osem
Osem adalah merek fashion lokal yang menerapkan konsep less or zero waste dengan menghindari pemborosan sisa kain hasil produksi. Merek ini menggunakan sisa kain produksi yang tersedia melalui praktik upcycling, di mana mereka mengolah kembali sisa kain menjadi produk baru. Selain itu, mereka juga berbagi sisa kain tersebut dengan label lain yang membutuhkannya.
Selain praktik less waste, Osem juga menjalankan pendekatan yang berkelanjutan dalam pewarnaan pakaian mereka. Mereka menggunakan tumbuhan Indigofera Tinctoria untuk menghasilkan warna biru yang alami pada pakaian tie-dye mereka.
2. Setali Indonesia
Brand Setali Indonesia didirikan oleh Andien Aisyah dan Intan Anggita Pratiwie. Mereka berdua menciptakan Setali Indonesia sebagai merek fashion yang menerapkan prinsip keberlanjutan dalam produk-produknya.
Dengan konsep 'Reuse, Repair, Recycle', Setali Indonesia berkomitmen untuk mengurangi sampah yang dihasilkan dalam produksi dengan cara mendaur ulang sisa kain untuk digunakan dalam produk lain, yang bertujuan memperpanjang masa pakai pakaian dan menciptakan nilai tambah.
3. Sare Studio
Brand yang didirikan oleh Cempaka Asriani dan Putri Amandewi ini adalah sebuah merek pakaian tidur (pajamas) yang mendukung sustainable fashion.
Sare telah meraih sertifikasi EU Ecolabel sebagai merek yang memenuhi standar lingkungan di seluruh siklus hidup produk, mulai dari pengadaan bahan baku hingga proses distribusi serta pembuangan.
4. Sukkha Citta
Denica Riadini-Flesch adalah perintis di balik kelahiran Sukkha Citta pada tahun 2016.
Brand ini menonjol dengan ciri khasnya yang unik, yaitu penggunaan pewarnaan yang berasal dari buah-buahan, serta langkah awal untuk menanam kapas sendiri sebagai bahan baku pakaian.
Selain itu, Sukkha Citta juga mengambil peran dalam memberdayakan para pengrajin lokal, terutama perempuan, dan berkomitmen untuk mengurangi limbah tekstil dengan mengolah sisa-sisa kain menjadi kemasan pakaian.
5. Kana Goods
Sancaya Rini mendirikan Kana Goods pada tahun 2013, mengusung konsep perpaduan antara elemen tradisional dan modern.
Kana Goods meraih penghargaan "Merit Prize in Textiles Category" pada INACRAFT AWARD 2017, sebuah pameran kerajinan tangan tahunan yang diselenggarakan oleh Asosiasi Eksportir dan Produsen Handicraft Indonesia (ASEPHI).
Mereka menonjolkan penggunaan pewarna alami yang dihasilkan dari tumbuhan dan daun, menciptakan nuansa dan citra Indonesia dalam produk-produknya.
Penggunaan bahan-bahan alami ini dipilih untuk mengurangi dampak negatif lingkungan yang seringkali dihasilkan oleh tekstil konvensional.
6. Rentique
Berbeda dengan brand lainnya, Rentique berkomitmen mendukung gaya hidup berkelanjutan dan hidup dengan lebih sederhana dengan menyediakan layanan penyewaan pakaian.
Tujuan utamanya adalah untuk mendorong masyarakat agar lebih peduli terhadap lingkungan sambil menghemat anggaran berbelanja.
7. Imaji Studio
Imaji Studio Dalam upaya mendukung konsep zero waste, mereka aktif berpartisipasi dalam upcycling.
Sisa-sisa kain hasil produksi diolah kembali dan ditingkatkan kualitasnya menjadi aksesoris yang elegan dan berkualitas
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Demo BEM UI 28 Oktober 2026: Cek Lokasi, Jadwal, dan Informasi Terbaru
- 2Kalender Jawa 28 Oktober 2026: Watak Weton Rabu Pon, Benarkah Dikenal Pekerja Keras?
- 3KPK Tegaskan Tak Sita atau Terima Pengembalian Rp40 Juta dari PCNU Terkait Muktamar NU
- 44 Link CCTV Jakarta Hari Ini, 28 Oktober 2026: Pantau Situasi Demo di Bundaran HI!
- 5Prediksi Skor Roma vs Cagliari 28 Oktober 2026: Giallorossi Diunggulkan Menang
- 6Kalender Jawa 27 Oktober 2026: Watak Weton Selasa Pahing Dikenal Cerdas dan Banyak Akal
- 7Materi Matematika TKA SMA 2026, Cek Kisi-Kisi dan Contoh Soal Terbaru
- 8Prediksi Sassuolo vs Lazio 28 Oktober 2026: Jay Idzes Absen, Biancocelesti Diunggulkan
- 9KPK Ingatkan Nusron Wahid untuk Kooperatif dan Berharap Dukungan Penuh Pemerintah
- 10Geledah Kantor Pusat Djarum, KPK Dalami Penyimpangan Penerimaan Cukai Rokok








