AKURAT.CO Pemerintah Indonesia akan melakukan impor beras sebesar 5,18 juta ton pada tahun ini. Langkah ini diambil untuk mengisi Cadangan Pangan Pemerintah (CPP) dan memperkuat Cadangan Pangan Pemerintah Daerah (CPPD) guna mengurangi disparitas harga beras antar wilayah. Badan Pangan Nasional menyatakan bahwa impor beras tersebut akan membantu menjaga stabilitas harga dan pasokan beras di berbagai daerah.
Menurut Pelaksana Tugas (Plt) Sekretaris Utama Badan Pangan Nasional (NFA), Sarwo Edhy, jumlah impor beras hingga saat ini mencapai 1.774.904 ton, atau sekitar 1,77 juta ton.
"Perlu kami sampaikan bahwa sampai dengan saat ini jumlah impor beras itu 1.774.904 ton, jadi ada sekitar 1,77 juta ton. Dan rencana impor Mei sampai Desember sesuai dengan kesepakatan hasil Rakortas itu 3,4 juta ton," ujar Sarwo Edhy di sela Rapat Koordinasi Pengendalian Inflasi Daerah baru-baru ini.
Baca Juga: Ini Alasan Pemerintah Tetap Impor Beras di Tengah Panen Raya
Sehingga, total impor beras yang direncanakan untuk tahun ini mencapai sekitar 5,18 juta ton. Sarwo Edhy menambahkan bahwa impor tersebut akan dilakukan dengan catatan tidak dilakukan pada saat masa panen untuk menjaga stabilitas harga di tingkat petani.
Sebagian beras impor tahun ini berasal dari sisa kuota impor 2023. Total kuota impor beras tahun ini yang sudah diterbitkan Persetujuan Impornya (PI) mencapai 3,6 juta ton. Awalnya, kuota impor beras ditetapkan sebesar 2 juta ton, namun kemudian ditambah lagi menjadi 1,6 juta ton.
"Sudah terbit PI-nya 3,6 juta ton tahun ini. Posisi stok beras sampai akhir tahun 2024 9,6 juta ton dengan catatan kalau realisasi impor 5,1 juta ton dapat terealisasi," jelas Edhy.
Impor beras ini dianggap perlu karena proyeksi produksi beras dalam negeri tahun ini lebih rendah dibandingkan tahun lalu. Produksi beras pada periode panen Januari hingga Juni 2024 tercatat mengalami penurunan.
"Perkiraan produksi 2024 sebesar 31,5 juta ton setara beras dapat tercapai, ini belum dihitung bila terjadi banjir, kekeringan, atau hama penyakit. Kalau itu terjadi, 31,5 juta ton bisa berkurang lagi karena periode Januari-Juni 2024 dibandingkan periode yang sama Januari-Juni 2023, saat ini kita mengalami shortage 2,4 juta ton. Antisipasi dengan impor karena memang impor ini bukan barang haram juga dilakukan jika produksi dalam negeri kurang," tukasnya.
Keputusan untuk melakukan impor ini diharapkan dapat membantu menjaga stabilitas pasokan dan harga beras di dalam negeri, terutama di tengah tantangan produksi yang dihadapi.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini

Terpopuler
- 1Kalender Jawa 10 Oktober 2026: Watak Weton Sabtu Kliwon dan Hari Baiknya
- 2Eks Ketua KY Soroti Putusan MK soal Ijazah Gibran: Tidak Menemukan Bukti Bukan Berarti Terbukti
- 3Kontak Tembak di Papua Barat Daya, Komandan Operasi OPM Dikabarkan Tewas
- 4Kalender Jawa 12 Oktober 2026: Watak Weton Senin Pahing Dikenal Tegas dan Punya Cita-Cita Tinggi
- 5India Diguncang Gelombang Penangkapan, Ribuan Orang Ditahan Jelang Demo Tuntut Ketua KPU Mundur
- 6Kalender Jawa 13 Oktober 2026: Watak Weton Selasa Pon, Setia tetapi Mudah Cemburu
- 7Prediksi Lens vs Sporting CP 13 Oktober 2026: Skor, H2H, dan Susunan Pemain
- 8Kesepakatan Diesel Trump-Putin Dicibir Zelensky: Kami Dijadikan Kedok
- 9KPK Jadwalkan Ulang Pemeriksaan Nusron Wahid Pekan Ini
- 10Eratnya Persahabatan Indonesia-Mesir, Prabowo Antarkan Langsung Keberangkatan Presiden El-Sisi









