Peter Gontha Buka 'Bobroknya' Garuda Indonesia, Begini Respons Erick Cs!

AKURAT.CO, Staff Khusus Menteri BUMN Arya Sinulingga mengatakan pihaknya sangat mendukung apabila mantan komisaris PT Garuda Indonesia (Persero) Peter Gontha telah memberikan data terkait penyewaan pesawat ke Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).
"Jadi kita dorong memang supaya mantan komisaris atau mantan direksi pada saat itu diperiksa saja untuk mengecek bagaimana dulu sampai penyewaan pesawat tersebut bisa terjadi. Kan kita tahu bahwa ini adalah kasusnya ugal-ugalannya di sana gitu, ugal-ulahannya di situ penyewaan pesawat," jelas Arya, Senin (1/11/2021).
Arya Sinulingga menyebutkan, hal itu lantaran menurut informasi Peter Gontha terlibat saat penyewaan pesawat tersebut.
"Dan beliau pun ikut menandatangani, memang ada pesawat yang beliau tidak tanda tangani, tapi beliau ikut semua tanda tangan penyewaan pesawat. Jadi kalau bisa dorong saja supaya bisa diperiksa komisaris, direksi yang pada saat itu memang bertugas di sana," papar Arya.
"Supaya terang benderang, support bener apa yang dilakukan Pak Peter Gontha, termasuk Pak Peter Gonthanya sekalian bisa menjelaskan, gitu," tukasnya.
Sebagai informasi, sebelumnya, Peter F. Gontha memang telah mulai membuka permasalahan yang terjadi di Garuda Indonesia.
Seperti diketahui, Peter Gontha menjadi Komisaris Garuda Indonesia untuk mewakili pemegang saham perusahaan yakni, PT Trans Airways.
Pencopotan Peter Gontha ditetapkan dalam Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) 13 Agustus 2021. Selain Peter Gontha, Garuda Indonesia juga mencopot Komisaris Utama Triawan Munaf, dua Komisaris Independen Yenny Wahid dan Elisa Lumbantoruan, dan Komisaris Peter Gontha.
Berikut ini sejumlah bobrok yang dibuka Peter Gontha terkait Garuda Indonesia seperti dilansir dari laman instagramnya @petergontha.
1. Dipaksa Tandatangani Penarikan PMN Garuda Indonesia Rp1 Triliun
Dalam postingan instagramnya, Peter Gontha mengungkapkan bahwa dirinya dipaksa untuk menyetujui penarikan dana Rp1 triliun dari total penyertaan modal negara (PMN) yang dianggarkan Rp7 triliun.
Peter Gontha mengatakan terpaksa menandatangani permintaan dana meskipun ia berpendapati bahwa pengajuan suntikan dana itu sama saja seperti 'membuang garam di laut'.
"Pada tanggal 27 Desember 2O20 yang lalu pada waktu saya tengah berlibur di Bali, saya dituduh memperlambat atau mempersulit pencairan uang Penyertaan Modal Negara (PMN) pada Garuda Indonesia. Saya Dipaksa menyetujui penarikan Rp1 triliun dari Rp7 triliun yang dijanjikan. Saya akhirnya tandatangan tetapi saya tau itu sama dengan buang Garam dilaut," katanya dikutip dari laman instagramnya, Sabtu (30/10/2021).
Menurut Peter Gontha seharusnya, pihak Garuda Indonesia melakukan negosiasi dengan para lessor asing yang menurutnya memberi kredit semena-mena pada Garuda Indonesia selama 2012-2016.
Direksi Tidak ada yang mau mendengar, Data Jejak Digitalnya ada pada saya. Disitupun saya dimusuhi," ucapnya.
2. Salah Beli Pesawat
Peter Gontha juga mengunkapkan bahwa Garuda Indonesia juga salah membeli pesawat berjenis CRJ1000. Ia pun mempertanyakan siapa yang mengusulkan untuk membeli pesawat tersebut
"Ini pesawat CRJ Garuda Indonesia yang salah beli, ada 17 buah. Siapa sich yang suruh beli? Siapa sich brokernya? Sekarang nganggur dan dibalikin. Ruginya jutaan?" ucapnya.
3. Uang Selisih Pesawat
Peter Gontha juga mengungkapkan selisih uang sewa pesawat Boeing 777-300ER. Ia pun mempertanyakan kemana larinya uang selisih dari harga sewa pesawat tersebut .
Ia mengungkapkan biasanya harga sewa pesawat Boeing 777-300ER adalah sebesar 750 ribu dolar AS per bulan. Namun, sejak pertama surat sewa pesawat diteken, biaya yang dikeluarkan Garuda Indonesia adalah 1,4 juta dolar AS per bulan.
"Ini Boeing 777, harga sewa di pasar rata-rata 750 ribu dolar AS per bulan. Garuda Indonesia mulai dari hari pertama bayar dua kali lipat? 1,4 juta dolar AS per bulan. Uangnya kemana sih waktu diteken? Pingin tahu aja?," tulis Peter Gontha.
4. Iuran Pilot
Peter Gontha juga mengunkapkan iuran yang harus dibayarkan Asosiasi Pilot Garuda (APG) kepada manajemen Garuda Indonesia.
Peter Gontha mengaku setiap awak cockpit harus membayar senilai Rp200.000- Rp500.000 per bulan untuk diberikan kepada manajemen.
"Tahukah Anda logo ini (Logo APG)?, setiap awak cockpit Garuda Indonesia harus membayar iuran mulai dari Rp200.000 per bulan sampai Rp500.000 per bulan. Sudah selama berpuluh tahun," tulis Peter.
Menurutnya hal tersebut harus diaudit oleh lembaga terkait. Pasalnya jika ada 1.000-1.500 awak cockpit, maka jumlah uang yang terkumpul cukup banyak.
"Hitung saja kalau Pilot Garuda ada 1.000-1.500 orang, berapa jumlahnya? Kemana uangnya? Sebaiknya diaudit," tegasnya.[]
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkini





