Akurat Logo

Antisipasi Kekeringan Panjang, Ditjen Hortikultura Siapkan Langkah Antisipasi Krisis Pangan

Yosi Winosa | 4 November 2026, 18:30 WIB
Antisipasi Kekeringan Panjang, Ditjen Hortikultura Siapkan Langkah Antisipasi Krisis Pangan
Ribuan hektare sawah di Kabupaten Demak alami kekeringan

AKURAT.CO Ancaman kekeringan panjang akibat fenomena El Niño yang diproyeksikan bertahan hingga April 2027 membayangi ketahanan pangan nasional termasuk di sektor hortikultura.

Guna mencegah kelangkaan serta gejolak harga komoditas sensitif seperti cabai dan bawang merah, Kementerian Pertanian melalui Direktorat Jenderal Hortikultura menerapkan strategi mitigasi komprehensif, mulai dari tanggap darurat air hingga penyediaan benih unggul adaptif iklim.

Direktur Hilirisasi Hasil Hortikultura Ditjen Hortikultura Kementan, Freddy Lumban Gaol menjelaskan bahwa Pemerintah telah menyandingkan peta area rawan kekeringan dengan lokasi sentra produksi utama hortikultura. Pemetaan terintegrasi ini menjadi acuan utama pemerintah dalam menjaga stabilitas pasokan dan harga.

Baca Juga: PDIP Sentil Penanganan Kekeringan dan Karhutla: Jangan Tunggu Desa Krisis Air Baru Bergerak

Menurut Freddy, Kementan memfasilitasi koordinasi kelancaran distribusi dari daerah yang mengalami surplus ke daerah yang minus pasokan.

Di samping memperkuat kawasan produksi dan mendorong program pangan pekarangan beragam bergizi, pemerintah mendistribusikan bantuan pompa air di area terdampak kekeringan melalui koordinasi dengan Ditjen Prasarana dan Sarana Pertanian (PSP).

"Langkah mitigasi ini diperkuat lewat koordinasi bersama asosiasi champion cabai dan asosiasi bawang merah, serta sosialisasi asuransi pertanian bagi para petani," ujar Freddy.

Ia menambahkan, peran sektor swasta produsen benih, pupuk, dan pestisida bersama kalangan akademisi sangat strategis untuk mengolaborasikan pengalaman lapangan menjadi rekomendasi aksi nyata.

Guru Besar Universitas Padjadjaran, Prof. Dedi Ruswandi, M.Sc., Ph.D., mengingatkan bahwa El Niño berstatus sangat kuat per Oktober dan diperkirakan berlanjut hingga awal 2027.

Kondisi ini memperpanjang kekeringan di Jawa, Bali, NTB, dan NTT, serta menggeser awal musim hujan. Pemanasan global pun diproyeksikan meningkatkan frekuensi El Niño ekstrem dari sekali dalam 20 tahun menjadi sekali dalam 10 tahun.

Prof. Dedi menggarisbawahi bahwa masalah utama dalam penanganan El Niño terdahulu adalah "kekurangan aksi dini" (lack of early action). Peringatan dini dan informasi iklim dari BMKG belum optimal diterjemahkan menjadi keputusan teknis di tingkat petani, seperti penentuan waktu tanam dan pemilihan varietas.

Halaman:
Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.