Akurat Logo

Hidrogen Hijau Digadang-gadang Jadi Masa Depan Baja, tapi Ada 3 Masalah Besar

Idham Nur Indrajaya | 4 Oktober 2026, 19:45 WIB
Hidrogen Hijau Digadang-gadang Jadi Masa Depan Baja, tapi Ada 3 Masalah Besar
Hidrogen hijau digadang-gadang jadi masa depan baja, tetapi biaya, infrastruktur, dan pasar masih menjadi tiga tantangan besar. - Ilustrasi: Gemini Google

AKURAT.CO Hidrogen hijau mulai dilirik sebagai salah satu teknologi penting untuk menekan emisi industri baja. Namun, menjadikan hidrogen sebagai pengganti karbon dalam produksi baja tidak sesederhana menyediakan energi terbarukan. Ada sedikitnya tiga masalah besar yang harus diselesaikan Indonesia: biaya produksi, kesiapan infrastruktur dan teknologi, serta siapa yang akan membeli baja rendah karbon dengan harga lebih tinggi.

Persoalan tersebut muncul dalam Green Steel Conference bertajuk “Accelerating the Steel Transition: Building a Competitive, Green Steel, and Responsible Steel Industry Road to COP31” yang digelar AEER di Jakarta, 29 September 2026.

Konferensi tersebut mempertemukan pemerintah, industri baja, penyedia energi, lembaga keuangan, akademisi, peneliti, organisasi masyarakat sipil, hingga masyarakat di sekitar kawasan industri baja. Salah satu pembahasannya adalah bagaimana teknologi dapat digunakan untuk menurunkan emisi tanpa membuat industri kehilangan daya saing.

Di titik inilah hidrogen hijau menjadi menarik. Teknologi tersebut menawarkan kemungkinan untuk mengurangi ketergantungan industri baja terhadap karbon dalam proses produksi. Indonesia juga memiliki sumber energi terbarukan yang relatif beragam, mulai dari tenaga surya, panas bumi, angin hingga hidro.

Masalahnya, keberadaan sumber energi terbarukan tidak otomatis membuat hidrogen hijau murah dan siap digunakan industri baja.

Mengapa Hidrogen Hijau Dianggap Penting untuk Baja?

Industri baja merupakan salah satu sektor yang sulit didekarbonisasi. Proses produksi tidak hanya membutuhkan listrik dalam jumlah besar, tetapi juga membutuhkan sumber energi dan material yang mampu mendukung proses pengolahan bijih besi.

Selama ini, karbon memiliki posisi penting dalam proses tersebut. Karena itu, mengurangi emisi industri baja tidak cukup hanya dengan mengganti listrik berbasis fosil dengan listrik dari energi terbarukan.

Hidrogen hijau menawarkan salah satu alternatif. Hidrogen yang diproduksi menggunakan energi terbarukan dapat digunakan untuk menggantikan sebagian fungsi karbon dalam proses produksi baja tertentu.

Nanang Kurniawan, VP Technology & Engineering Pertamina New & Renewable Energy, dalam konferensi tersebut menyebut hidrogen hijau sebagai salah satu opsi yang dapat digunakan untuk menggantikan karbon dalam produksi baja.

Indonesia sendiri memiliki modal awal berupa potensi energi terbarukan. Sumber tersebut dapat menjadi basis produksi hidrogen hijau, terutama jika biaya teknologi energi terbarukan terus mengalami penurunan.

Namun, potensi tersebut baru merupakan titik awal. Antara listrik terbarukan dan baja yang benar-benar diproduksi dengan hidrogen terdapat rantai teknologi dan investasi yang panjang.

Baca Juga: Energi Hijau dan Data Center Jadi Bidikan Baru Pemerintah

Baca Juga: Luhut dan Wang Yi Bahas Penguatan Kerja Sama Indonesia-China di Teknologi hingga Energi Hijau

Halaman:
Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.