Baja Indonesia Tak Lagi Cukup Murah, Emisi Karbon Kini Jadi Penentu Daya Saing

AKURAT.CO Selama ini, baja murah menjadi salah satu modal penting untuk memenangkan persaingan industri. Namun, ukuran tersebut perlahan berubah. Baja Indonesia tidak lagi cukup hanya murah dan berkualitas karena emisi karbon yang melekat dalam proses produksinya mulai ikut menentukan daya saing di pasar global.
Perubahan ini membuat persoalan dekarbonisasi industri baja menjadi lebih luas daripada sekadar mengganti teknologi di dalam pabrik. Energi bersih, pembiayaan, kebijakan perdagangan, permintaan pasar, hingga kemampuan perusahaan membuktikan jejak karbon produknya kini ikut menentukan posisi industri baja Indonesia.
Hal tersebut menjadi salah satu pokok pembahasan dalam Green Steel Conference bertajuk “Accelerating the Steel Transition: Building a Competitive, Green Steel, and Responsible Steel Industry Road to COP31” yang diselenggarakan Aksi Ekologi dan Emansipasi Rakyat (AEER) pada 29 September 2026 di Oria Hotel, Jakarta Pusat.
Baca Juga: PTBA Perkuat Transisi Energi dan Pengurangan Emisi Karbon melalui Uji Coba Cofiring Tahap II
Baca Juga: Jakarta Matikan Lampu 60 Menit, Langkah Bersama Kurangi Emisi Karbon demi Masa Depan Kota
Secara sederhana, emisi karbon menjadi faktor daya saing karena pasar dan regulasi internasional mulai memperhitungkan jejak emisi suatu produk. Konsekuensinya, produsen baja harus mulai memikirkan bukan hanya berapa biaya untuk menghasilkan satu produk, tetapi juga berapa besar emisi yang dihasilkan sepanjang proses produksinya.
Beberapa faktor yang membuat isu karbon semakin penting bagi industri baja antara lain:
penerapan kebijakan perdagangan seperti Carbon Border Adjustment Mechanism (CBAM) Uni Eropa;
tuntutan terhadap pengurangan emisi dari rantai produksi;
kebutuhan pembiayaan untuk investasi teknologi rendah karbon;
munculnya kebutuhan green procurement;
perkembangan permintaan terhadap green steel;
tuntutan terhadap kepatuhan lingkungan dan tanggung jawab sosial.
Mengapa Baja Indonesia Tak Lagi Cukup Mengandalkan Harga Murah?
Daya saing industri selama ini lazim dikaitkan dengan harga, kualitas, produktivitas, kapasitas produksi, serta efisiensi. Industri yang mampu menghasilkan produk berkualitas dengan biaya lebih rendah tentu memiliki posisi yang lebih kuat.
Namun, transisi menuju ekonomi rendah karbon menambahkan variabel baru ke dalam persaingan tersebut.
Emisi yang dihasilkan selama proses produksi semakin mungkin diperhitungkan oleh pembeli, regulator, lembaga keuangan, hingga investor. Artinya, perusahaan dengan biaya produksi rendah tetapi intensitas emisi tinggi dapat menghadapi tantangan berbeda dibandingkan sebelumnya.
Robby Fadillah, Direktur Industri, Perdagangan, dan Peningkatan Investasi Kementerian PPN/Bappenas, menempatkan dekarbonisasi industri baja dalam konteks daya saing industri nasional. Menurut dia, daya saing baja ke depan tidak cukup dilihat dari harga dan kualitas produk, tetapi juga dari intensitas emisi karbon yang dihasilkan selama proses produksinya.
Perubahan tersebut penting karena industri baja memiliki posisi strategis dalam perekonomian. Baja menjadi bahan dasar bagi infrastruktur, konstruksi, manufaktur, dan berbagai kegiatan ekonomi lainnya.
Dengan posisi tersebut, persoalan emisi baja bukan hanya urusan satu kelompok industri. Jika biaya untuk menurunkan emisi meningkat, dampaknya dapat merambat ke investasi, harga produk, rantai pasok, dan kemampuan perusahaan bersaing di pasar internasional.
Bagaimana CBAM Mengubah Persaingan Industri Baja?
Salah satu istilah yang semakin penting dalam pembahasan ini adalah Carbon Border Adjustment Mechanism atau CBAM Uni Eropa.
Kebijakan tersebut membuat kandungan karbon produk semakin berkaitan dengan akses pasar. Bagi produsen baja, perkembangan ini memberikan sinyal bahwa jejak karbon bukan lagi informasi yang hanya relevan bagi laporan keberlanjutan perusahaan.
Karbon mulai memiliki dimensi perdagangan.
Inilah salah satu alasan industri baja Indonesia perlu memiliki kemampuan untuk menelusuri emisi dari proses produksi hulu hingga hilir. Tanpa sistem pengukuran dan penelusuran yang memadai, perusahaan akan semakin sulit menunjukkan seberapa rendah atau tinggi emisi yang melekat pada produknya.
The Indonesian Iron & Steel Industry Association (IISIA) menyoroti persoalan tersebut dalam konferensi. Selain kebutuhan menurunkan emisi, industri juga menghadapi kompleksitas dalam menelusuri emisi dari rantai produksi.
Dengan demikian, tekanan dekarbonisasi pada akhirnya tidak berhenti pada pertanyaan “teknologi apa yang digunakan?”
Pertanyaannya berkembang menjadi:
“Bisakah produsen membuktikan bahwa baja yang dihasilkan memiliki jejak karbon yang sesuai dengan tuntutan pasar?”
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Cara Cek Penerima BSU Kemnaker 2026 Pakai NIK, Begini Status Link Resminya
- 2Setelah 'Cabut' dari Timnas Portugal, Masa Depan Cristiano Ronaldo dalam Ketidakpastian
- 3Prediksi Belgia vs Turki 3 Oktober 2026: Susunan Pemain, H2H, dan Skor
- 4Asian Games: Indonesia Berpeluang Raih 5 Emas Besok, Padel Salah Satunya!
- 5Trump Siapkan Tambahan 10.000 Pasukan AS ke Timur Tengah, Senator Desak Kongres Hentikan Dana Perang Iran
- 6Moto3 Jepang: Tanpa Alasan! Hiroshi Aoyama Tuntut Veda Ega Pratama dan Zen Mitani All Out di 'Kandang'
- 7Kalender Jawa 2 Oktober 2026: Watak Weton Jumat Pahing Dikenal Punya Cita-Cita Tinggi
- 8Dokumen Pendidikan Gibran Dilaporkan ke Bareskrim, Keaslian Syarat Cawapres 2024 Jadi Sorotan
- 9Hanya Kompromi Politik, Fahri Hamzah Tantang DPR Tetapkan Ambang Batas Parlemen Nol atau 20 Persen
- 10Marc Marquez Dibayangi 'Kutukan' Mandalika Jelang Tampil di MotoGP Indonesia






