Bahlil: Pemerintah Siapkan Kontrak Jangka Panjang Minyak Rusia

AKURAT.CO Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia mengungkapkan, pemerintah tengah menyiapkan kontrak jangka panjang untuk pengadaan minyak mentah dari Rusia.
Bahlil mengatakan, pengadaan tahap pertama minyak Rusia telah terealisasi. Saat ini pemerintah juga sedang melanjutkan proses pengadaan tahap kedua sekaligus menyiapkan kerja sama dalam jangka panjang.
"Tahap pertama kan sudah. Nah, tahap dua lagi berjalan. Nanti kita bikin kontrak jangka panjang kok," kata Bahlil di Kementerian ESDM, Rabu (5/8/2026).
Baca Juga: Bahlil Rombak Pejabat ESDM, Kepala Badan Geologi hingga LEMIGAS Diganti
Meski demikian, Bahlil belum merinci volume minyak mentah yang telah masuk ke Indonesia pada tahap pertama. Ia mengaku tidak mengingat angka pasti dari pengadaan tersebut.
Lebih lanjut, Bahlil menegaskan bahwa pengadaan minyak dari Rusia dilakukan langsung oleh negara, bukan oleh PT Pertamina (Persero). Menurutnya, mekanisme tersebut dipilih untuk memastikan kebijakan pengadaan energi tetap berada di bawah kendali pemerintah.
Ia menjelaskan, setelah minyak mentah diperoleh negara, pemerintah akan menentukan alokasi pemanfaatannya sesuai kebutuhan nasional.
"Yang melakukan impor adalah negara. Setelah negara ambil, baru negara mau siapkan untuk ke mana untuk kepentingan rakyat, bangsa, dan negara, itu urusan negara lah," ujarnya.
Bahlil juga menegaskan bahwa kebijakan pengadaan energi tetap mengacu pada prinsip politik luar negeri Indonesia yang bebas dan aktif. Karena itu, pemerintah tidak ingin ada campur tangan negara lain dalam menentukan sumber pasokan energi nasional.
"Dan negara kita ini kan menganut asas bebas aktif. Kita tidak mendikte negara lain, tapi negara lain juga tidak boleh mendikte kita, ya. Independensi negara kita harus kita jaga," tutur Bahlil.
Diberitakan sebelumnya, Indonesia melalui langkah diplomasi Presiden Prabowo Subianto mengamankan kerja sama strategis dengan Rusia untuk memperkuat ketahanan energi nasional, khususnya melalui pasokan minyak mentah (crude) dan pembangunan infrastruktur energi.
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, menyampaikan hal tersebut usai menemui Presiden Prabowo Subianto di Istana Merdeka, Kamis (16/4/2026), guna menindaklanjuti hasil kunjungan kerja pemerintah ke Rusia.
“Alhamdulillah cukup menggembirakan. Kita akan mendapat pasokan crude dari Rusia, dan mereka juga siap membangun sejumlah infrastruktur penting untuk meningkatkan cadangan dan ketahanan energi nasional,” ujar Bahlil.
Menurutnya, kerja sama ini merupakan bagian dari kemitraan jangka panjang di sektor energi, termasuk untuk memenuhi kebutuhan minyak nasional yang masih bergantung pada impor.
Saat ini, konsumsi bahan bakar minyak (BBM) Indonesia mencapai sekitar 1,6 juta barel per hari, sementara produksi domestik (lifting) baru berada di kisaran 600–610 ribu barel per hari.
“Kita masih impor sekitar 1 juta barel per hari. Di tengah kondisi global seperti sekarang, kita harus mencari sumber pasokan dari berbagai negara, tidak hanya bergantung pada satu pihak,” jelasnya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Kalender Jawa 18 September 2026: Watak Weton Jumat Pon, Bijak dan Mudah Bergaul
- 2Persija Banding Sanksi Komdis PSSI, 2 Larangan Laga Kandang Jadi Sorotan
- 3Kalender Jawa 19 September 2026: Watak Weton Sabtu Wage, Setia dan Berpendirian Kuat
- 4FIFA ASEAN Cup: PSSI Rilis 23 Pemain Timnas Indonesia, Jay Idzes dan Beckham Putra Absen
- 5Prediksi Skor Roma vs Inter 19 September 2026: Duel Dua Tim Sempurna di Olimpico
- 6Soal Dualitas Alumni Universitas Trisakti, Menteri Maman: Hanya Ada Satu Ikatan yakni IKA Trisakti
- 7Gerindra Buka Pintu Koalisi 2029, Begini Respons PDIP
- 8Prediksi Skor Sevilla vs Barcelona 20 September 2026: Blaugrana Diprediksi Menang
- 9Geledah Rumah Lampri, KPK Sita Bukti Dugaan Aliran Uang
- 10Presiden Prabowo: Saya Tidak Ingin Ada Orang Lapar di Indonesia









