Turun Langsung Urus Pemadaman Listrik, Bahlil: 10 Hari Saya Jadi Project Manager PLN

AKURAT.CO Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengaku turun langsung menangani persoalan pengadaan batu bara untuk PT PLN (Persero) setelah muncul kekhawatiran mengenai kecukupan pasokan bagi pembangkit listrik nasional.
Bahlil bahkan menyebut dirinya dalam dua pekan terakhir berperan sebagai "Project Manager" PLN untuk memastikan rantai pasok batu bara berjalan sesuai kebutuhan.
"Saya 10 hari terakhir jabatan saya Menteri ESDM merangkap PM PLN pengadaan batu bara. Project Manager. Jadi ngurus batu bara sekarang sampai saya tahu lokasi cara bagaimana mengirimnya," kata Bahlil dalam acara Energy Forum di Jakarta, Kamis (25/6/2026).
Baca Juga: Dua PLTU Disinyalir Jadi Biang Kerok Pemadaman Bergilir, Plt Dirjen Gatrik: Sudah Tidak Masalah
Bahlil menuturkan, pemerintah telah melakukan pembahasan khusus terkait persoalan pasokan batu bara bersama Jaksa Agung, Kepala BIN, pimpinan DPR, Menteri Sekretaris Negara, dan Sekretaris Kabinet untuk mengurai akar masalah yang kembali muncul seperti yang pernah terjadi pada 2022.
“Kita mau bedah ini apa ini masalahnya PLN. Karena PLN ini di tahun 2022 juga begini. Bahkan 2022 itu sempat kita melarang ekspor batu bara,” ujarnya.
Lebih lanjut, Bahlil mengatakan, total kebutuhan batu bara PLN untuk pembangkit listrik sepanjang tahun mencapai 154 juta metrik ton.
Sementara melalui skema Domestic Market Obligation (DMO), pemerintah telah menugaskan perusahaan tambang memasok sekitar 180 juta hingga 190 juta metrik ton.
Dari jumlah tersebut, perusahaan yang telah diverifikasi dan menyatakan kesediaan memasok mencapai 160 juta hingga 170 juta ton. Adapun, sampai saat ini kontrak yang telah ditandatangani PLN sudah mencapai 141 juta ton.
"Artinya ini dari 1 Januari sampai dengan bulan Juni. Dari 154 juta kurang 141 juta itu kan berarti tinggal 13 juta,” ucap Bahlil.
Bahlil menilai persoalan utama bukan terletak pada ketersediaan volume batu bara nasional, melainkan pada spesifikasi batu bara yang dibutuhkan PLN.
Hasil evaluasi pemerintah menunjukkan bahwa pembangkit memerlukan batu bara kategori medium dengan nilai kalori di atas 5.000 kcal/kg sebagai bahan pencampur dalam operasionalnya.
“Nah kalau pemerintah memberikan DMO teknisnya kan kamu perusahaan gitu lho. Jangan air sudah di batang leher baru teriak,” tuturnya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Dulu Minta Gibran Diganti, Kini Syahganda Bilang Sikapnya Berubah: Sekarang Saya di Pemerintahan
- 2Pengurus PCNU Serahkan Bukti dan Kembalikan Uang Risywah Muktamar ke KPK
- 3Jokowi Muncul di Kertanegara, Prabowo Pergi Tak Lama Setelah Pertemuan
- 4Digempur Bertubi-tubi oleh Iran dan Kehabisan Amunisi, Tentara AS Tinggalkan Camp Buehring di Kuwait
- 5Daftar 26 Produk Indonesia yang Disebut Diboikot di Malaysia Usai FIFA ASEAN Cup 2026
- 6Setelah Timnas Indonesia yang Semakin 'Belanda' Juara, Masih Pantaskah Mempersoalkan Naturalisasi?
- 7Jadwal Persib Hari Ini vs Port FC, Cek Jam Tayang dan Live Streaming
- 8Di Balik Sukses Emil Audero di Final, Ada Rasa Cemas yang Dirasakan Sang Ayah
- 9Prabowo Instruksikan Percepatan Pembangunan 100 Kampung Nelayan, Target Beroperasi Akhir Tahun
- 10Amankan Investasi di Indonesia, Prabowo Anggap Semua Investor Saudara









