Investasi Hilirisasi Mineral Tembus Rp98,3 Triliun pada Triwulan I 2026

AKURAT.CO Sepanjang triwulan I-2026, investasi di sektor hilirisasi mineral mencapai Rp98,3 triliun atau sekitar 67% dari total investasi hilirisasi nasional yang mencapai Rp147,5 triliun.
Besarnya investasi tersebut ditopang oleh sejumlah komoditas strategis yang menjadi bagian dari portofolio Grup MIND ID, mulai dari nikel, tembaga, timah, hingga bauksit.
Kondisi ini menegaskan posisi holding industri pertambangan BUMN tersebut sebagai salah satu pilar utama dalam agenda hilirisasi yang terus didorong pemerintah.
Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala BKPM, Rosan Roeslani mengatakan sektor hilirisasi kini berkontribusi semakin besar terhadap investasi nasional.
Pada triwulan I-2026, realisasi investasi hilirisasi mencapai Rp147,5 triliun atau setara 29,6% dari total investasi nasional sebesar Rp498,8 triliun.
Baca Juga: Pemanfaatan Kembali Material Tambang, MIND ID Tekan Limbah B3 hingga 38 Persen
"Hal yang perlu kami soroti adalah sektor hilirisasi sumber daya alam yang kontribusinya meningkat menjadi 30 persen dari total realisasi investasi pada triwulan I 2026, yakni sebesar Rp147,5 triliun," kata Rosan dalam rapat kerja bersama Komisi XII DPR RI dikutip, Rabu (17/6/2026).
Rosan menjelaskan, sektor mineral masih menjadi penyumbang terbesar investasi hilirisasi nasional. Dari total Rp98,3 triliun investasi mineral, komoditas nikel menyumbang Rp41,5 triliun atau sekitar 42%.
Di posisi berikutnya terdapat tembaga dengan investasi Rp20,7 triliun, besi baja Rp17 triliun, bauksit Rp13,7 triliun, serta timah Rp2,5 triliun. Sementara sisanya berasal dari komoditas lain seperti emas, perak, kobalt, mangan, batubara, pasir silika, dan logam tanah jarang.
Data tersebut menunjukkan investasi hilirisasi nasional masih bertumpu pada komoditas mineral yang menjadi kekuatan utama Indonesia di pasar global.
Bagi MIND ID, capaian tersebut menjadi indikator kuat bahwa aset-aset strategis yang dikelola grup berperan besar dalam menarik investasi. ANTAM menjadi pemain utama pada rantai nilai nikel dan bauksit, PT Freeport Indonesia pada komoditas tembaga, serta PT Timah pada industri timah nasional.
Investasi besar yang masuk ke sektor mineral juga berdampak langsung pada pertumbuhan kawasan industri berbasis sumber daya alam di berbagai daerah.
Rosan mengungkapkan, sekitar 75% investasi hilirisasi berada di luar Pulau Jawa. Investasi tersebut terutama terkonsentrasi di wilayah penghasil mineral seperti Sulawesi Tengah dan Maluku Utara yang menjadi pusat pengembangan industri pengolahan nikel dan ekosistem baterai kendaraan listrik.
Baca Juga: Usai Lepas Kursi Komisaris PTBA, Suko Hartono Naik Kelas Jadi Direktur MIND ID
Data BKPM menunjukkan Sulawesi Tengah menjadi tujuan investasi terbesar kelima nasional dengan nilai Rp32,1 triliun atau 6,4% dari total investasi triwulan I 2026. Sementara Maluku Utara menempati posisi keenam dengan investasi Rp25,2 triliun atau 5%.
Kedua provinsi tersebut menjadi contoh bagaimana hilirisasi mampu mendorong pertumbuhan ekonomi daerah sekaligus memperkuat pemerataan investasi di luar Pulau Jawa.
Secara nasional, sektor industri logam dasar dan barang logam juga menjadi subsektor investasi terbesar dengan realisasi mencapai Rp69,4 triliun atau 14% dari total investasi nasional. Angka tersebut bahkan melampaui sektor pertambangan yang mencatat investasi Rp51,9 triliun.
Menurut Rosan, pemerintah akan terus memperluas hilirisasi ke berbagai komoditas strategis agar nilai tambah ekonomi yang tercipta semakin besar.
"Kami juga terus mendorong hilirisasi komoditas strategis lainnya yang menghasilkan produk bernilai tambah tinggi, seperti semikonduktor, bioetanol, produk turunan kelapa, dan rumput laut," ujarnya.
Pemerintah menargetkan realisasi investasi pada 2027 mencapai Rp2.322 triliun, naik 13,8% dibandingkan target investasi 2026 sebesar Rp2.041,3 triliun. Dalam mencapai target tersebut, hilirisasi mineral diperkirakan tetap menjadi salah satu motor utama investasi nasional.
Besarnya investasi yang mengalir ke komoditas nikel, tembaga, timah, dan bauksit juga menunjukkan bahwa agenda hilirisasi tidak lagi sekadar kebijakan pengolahan bahan mentah, melainkan telah berkembang menjadi instrumen strategis untuk menarik modal, menciptakan lapangan kerja, dan memperkuat posisi Indonesia dalam rantai pasok industri global.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini

Terpopuler
- 1Amanda Rigby Umur Berapa? Ini Profil, Pendidikan dan Kariernya
- 2Soal Kabar Jokowi-Megawati Bakal Bertemu, Said Abdullah: Kartunya Mati, Jangan Dihidupkan Lagi
- 3ACL Two: FC Seoul Siapkan Pemain SMA Lawan Persib Bandung, Anggap Remeh?
- 4Gara-gara Kembang Api di Hotel Pemain Persib, Persija Disanksi Tak Gelar 2 Laga di Kandang
- 5Sidang Korupsi Kuota Haji Ungkap Marwan Dasopang Mendorong Kuota Tambahan Tidak Seluruhnya untuk Jemaah Reguler
- 6Persija Terpaksa Jamu Java United di Bali, Terancam Pengurangan Poin Jika 4 Kali Musafir
- 7Kalender Jawa 18 September 2026: Watak Weton Jumat Pon, Bijak dan Mudah Bergaul
- 8Kenapa Thailand Ingin Berantas Ikan Nila Hitam? Ini 5 Alasannya
- 9Prabowo Pimpin Sidang DEN di Istana, Instruksikan Persiapan E50 untuk Perkuat Kemandirian Energi
- 10Terungkap di Sidang Korupsi Kuota Haji: Anak Buah Bos Maktour Setor USD10 Ribu ke Pejabat Kemenag







