Menteri Bahlil Pastikan Proyek Blok Tuna Segera Masuk Tahap EPC

AKURAT.CO Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia mengungkapkan perkembangan proyek migas yang berada di Blok Tuna.
Bahlil menyampaikan, perusahaan asal Inggris Harbour Energy telah melepas sebagian kepemilikan sahamnya di proyek tersebut kepada pengusaha nasional swasta.
Adapun, Harbour Energy melalui Premier Oil Tuna BV, hengkang dari Blok Tuna setelah sempat menjadi operator dan bermitra dengan BUMN migas asal Rusia, Zarubezhneft, lewat anak usahanya di Asia, ZN Asia Ltd (ZAL).
Baca Juga: Kementerian ESDM Siapkan Papua Jadi Pilar Strategis Ketahanan Energi Nasional
“Sama harbour itu, ya? Itu yang di blok dekat Vietnam itu, kalau tidak salah. Nah itu, kemarin dari harbour Inggris, itu sudah melepas sebagian sahamnya untuk ke pengusaha nasional,” kata Bahlil di Kementerian ESDM, Senin (11/5/2026).
Bahlil mengatakan, proyek Blok Tuna ditargetkan segera memasuki tahap Engineering, Procurement, and Construction (EPC).
Pemerintah pun mendorong percepatan pengembangan lapangan agar produksi dapat dimulai dalam beberapa tahun ke depan.
Jadi saya pikir itu sebentar lagi sudah EPCnya sudah jalan. Dan kita targetkan untuk bisa melakukan percepatan produksinya di 2028, paling lama 2029,” ujarnya.
Baca Juga: Kementerian ESDM Siapkan Papua Jadi Pilar Strategis Ketahanan Energi Nasional
Saat ditanya apakah pengusaha nasional yang masuk ke proyek tersebut berasal dari PT Pertamina (Persero), Bahlil menegaskan bahwa investor yang dimaksud merupakan pihak swasta nasional.
“Bukan Pertamina, swasta,” tutur Bahlil.
Diberitakan sebelumnya, Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) mendorong PT Pertamina (Persero) untuk menggantikan Harbour Energy Group di Blok Tuna.
Kepala SKK Migas, Djoko Siswanto mengatakan bahwa Harbour memang sudah menyatakan keinginannya untuk mengalihkan atau farm-out atas partisipasi mereka di Blok Tuna.
Sehingga, Djoko berharap PT Pertamina dapat mengantikan Harbour di Blok Tuna untuk mendampingi BUMN asal Rusia Zarubezhneft.
“Harbour keputusannya ingin mem-farm-out, keluar lah. Nah sekarang dalam proses tender-nya oleh harbour. Siapa yang akan masuk. Kita berharap ada Pertamina di situ. Ada perusahaan nasional,” kata Djoko di Komplek Parlemen Senayan dikutip, Rabu (12/11/2025).
Lebih lanjut, Djoko menyampaikan bahwa sudah ada pembicaraan dengan Pertamina terkait dengan kesempatan ini dan Djoko berharap keputusan pengganti Harbour di Blok Tuna.
“Sudah (open data) saya minta November ini selesai, selesai keputusan Harbournya setelah itu siapa ambil alih),” tutur Djoko.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini

Terpopuler
- 1Eks Ketua KY Soroti Putusan MK soal Ijazah Gibran: Tidak Menemukan Bukti Bukan Berarti Terbukti
- 2Kalender Jawa 12 Oktober 2026: Watak Weton Senin Pahing Dikenal Tegas dan Punya Cita-Cita Tinggi
- 3Kontak Tembak di Papua Barat Daya, Komandan Operasi OPM Dikabarkan Tewas
- 4Prediksi Lens vs Sporting CP 13 Oktober 2026: Skor, H2H, dan Susunan Pemain
- 5Kalender Jawa 13 Oktober 2026: Watak Weton Selasa Pon, Setia tetapi Mudah Cemburu
- 6Aprilia Buang Peluang Emas Meski Kuasai 4 Besar di Mandalika, Marc Marquez Pemenang Sesungguhnya!
- 7Prediksi Skor Sabah FK vs Slavia Praha 13 Oktober 2026: Siapa yang Diunggulkan?
- 8Zelensky: Jika Trump dan Putin Menginginkan Pemilu di Ukraina, Syaratnya Gencatan Senjata 60 Hari
- 9Belajar dari Jepang, Erick Thohir Ingin Timnas Indonesia Punya Dua Skuad Berkualitas
- 10Kata Gibran Terkait Survei Celios: Kritik Harus Dijawab dengan Kerja Lebih Baik







