AKURAT.CO Dicky Nugraha selaku Sustainable Development and Climate Change Harita Group mengungkapkan bahwa Harita Group akan melakukan ekspansi bisnis mengembangkan Battery Electric Vehicle (BEV) dengan memanfaatkan peluang besar pengelolaan limonit untuk pembuatan produk BEV di pasaran.
Menurut Dicky, Harita melihat adanya peluang yang besar untuk pengembangan bisnis dari yang sebelumnya hanya pada pengelolaan nikel untuk stainless steel dan turunannya, menjadi mengolah nikel kadar rendah atau limonit menjadi BEV.
“Ternyata kami melihat ada opportunity dalam mengembangkan ke battery electric vehicle dari yang sebelumnya. Kita tidak memanfaatkan limonit yang masih kita sebut sebagai over prudent, ternyata itu masih bisa kita confirm menjadi salah satu vehicle dari baterai mobil diesel itu,” kata Dicky Nugraha dalam acara diskusi Temu Profesi Tahunan ke-31 2022 Perhapi di Hotel Claro, Kendari, Sulawesi Tenggara, Rabu (26/10/2022) kemarin.
Menurut Dicky, seperti yang sudah diketahui publik bahwa di tahun 2050 nanti penggunaan energi BEV akan menggeser sebanyak 95% penggunaan energi fosil.
“Di situlah kami mengambil opportunity bahwa kita akan melakukan produk, open, dan juga market beneficien dengan mengolah limonit yang awalnya hanya over prudent menjadi suatu yang lebih valuable secara economic prospective,” ujarnya.
Dicky menambahkan bahwa terkait BEV secara spesifik sebelumnya merupakan energi yang tinggi sebelum adanya electric battery dari mangan, nikel, dan cobalt (MNC). Ia juga mengungkapkan bahwa BEV akan mendominasi market atau pasaran baterai yang semula hanya menggunakan solar, bensin, atau bahan bakar fosil lainnya.
Market yang ada saat ini, kata Dicky, perkembangannya relatif cukup besar untuk market di Eropa. Dari sisi mayoritas penduduknya sendiri jauh lebih dulu mengenal konsep ESQ dan juga suistainability bahwa hal itu sekarang mengakui kenaikan dari 65% sebelumnya.
“Walaupun ada sedikit menghambat karena tahun terakhir masih sangat optimis bahwa market dari BEV masih sangat besar ke depannya,” cetusnya.
Selain itu, Dicky menuturkan bahwa terkait dengan BEV tidak lepas dari proposal penurunan efek gas rumah kaca (GRK) yang disepakati oleh Indonesia. Menurutnya hal itu tidak bisa dipisahkan dari konsep renewable energy.
“Dilihat dari konsep suistanability penggunaan renewable energy atau BEV bukan solusi utama dari konsep suistanability. Konsep utama dari suistanabelty sebenarnya satu mengurangi konsumsi itu saja,” tuturnya. []
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Kalender Jawa 28 Oktober 2026: Watak Weton Rabu Pon, Benarkah Dikenal Pekerja Keras?
- 24 Link CCTV Jakarta Hari Ini, 28 Oktober 2026: Pantau Situasi Demo di Bundaran HI!
- 3Pemimpin Oposisi Israel Berjanji akan Mengganti Pemerintahan Netanyahu setelah Pemilu
- 4Prediksi Skor Roma vs Cagliari 28 Oktober 2026: Giallorossi Diunggulkan Menang
- 5Materi Matematika TKA SMA 2026, Cek Kisi-Kisi dan Contoh Soal Terbaru
- 6Kalender Jawa 27 Oktober 2026: Watak Weton Selasa Pahing Dikenal Cerdas dan Banyak Akal
- 7Kalender Jawa 29 Oktober 2026: Watak Weton Kamis Wage Dikenal Punya Cita-Cita Tinggi
- 8Biaya Marketplace Makin Tinggi, Brand Lokal Mulai Mengandalkan Website Sendiri
- 9Silmy Karim Didakwa Terima Rp1,2 Miliar dari Pungli Dokumen Imigrasi
- 10KPK Ingatkan Nusron Wahid untuk Kooperatif dan Berharap Dukungan Penuh Pemerintah





