AKURAT.CO, Produksi daging tipis tanpa tulang (filet) ikan patin di Kabupaten Tulungagung, Jawa Timur meningkat dua kali lipat selama kurun dua tahun terakhir, yakni dari sebelumnya di kisaran 5-6 ton per hari menjadi 12 ton.
" Produksi perikanan untuk komoditas ikan patin di sini meningkat pesat. Produksi besar dan pasarnya (permintaan) juga tinggi. Tahun ini pertimbuhan (produksinya) pesat sekali," kata Kepala Dinas Perikanan Kabupaten Tulungagung Tatang Suhartono di Tulungagung, seperti diberitakan Antara, Selasa (11/9).
Untuk produksi perikanan saja di Tulungagung secara keseluruhan telah mencapai 56 ton per hari. Namun tidak semua diolah di industri hilir menjadi filet.
Sebagian besar di antaranya langsung dikirim ke pasar-pasar ikan, untuk konsumsi lokal serta industri pengolahan di luar daerah.
Sekitar 20 persen yang masuk ke industri hilir pengolahan filet yang dikelola sistem kemitraan dan telah bekerjasama dengan industri besar dengan pendampingan langsung dinas perikanan.
" Sistem kemitraan dalam rantai industri pengolahan ikan patin menjadi filet ini sangat menguntungkan bagi pembudidaya, mitra maupun perusahaan yang menjadi induknya. Karena sebagian besar biaya produksi dibantu, sementara harga jual sudah pasti dengan margin keuntungan yang telah ditentukan sebelumnya," papar Tatang.
Ia menjelaskan, dalam industri filet ikan patin tak hanya diambil dagingnya.
Bagian lain juga laku, di antaranya kepala, kulit dan isi perut, bisa dimanfaatkan, seperti untuk tepung ikan dan pakan ternak.
Kepala patin sendiri dihargai sekitar Rp1.500 sampai Rp2 ribu per kilogram.
Dari data Dinas Peternakan Tulungagung, meningkatnya produksi ikan patin, tak lepas dari luasan kolam milik pembudidaya di Tulungagung.
Saat ini, luasan kolam untuk perikanan patin di Tulungagung sudah mencapai sekitar 60 hektare, dari dua tahun sebelumnya sekitar lima sampai enam hektar.
Dalam sehari, dari luasan lahan itu, bisa dihasilkan sekitar 56 ton ikan patin segar.
Harga impas atau Break Event Point (BEP) untuk budidaya patin, dipatok sebesar Rp11 ribu per kilogram.
Pengelola kemitraan membeli hasil panen petani dengan harga sekitar Rp14.500 per kilogram.
Kemudian, pabrik membeli dengan harga Rp15.500 per kilogram. Dengan begitu, petani ada margin keuntungan sekitar Rp3.500 per kilogram.[]
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Kalender Jawa 18 September 2026: Watak Weton Jumat Pon, Bijak dan Mudah Bergaul
- 2Persija Banding Sanksi Komdis PSSI, 2 Larangan Laga Kandang Jadi Sorotan
- 3Prediksi Skor Brentford vs Chelsea 19 September 2026: Duel Ketat, Apakah Akan Berakhir Imbang?
- 4Kalender Jawa 19 September 2026: Watak Weton Sabtu Wage, Setia dan Berpendirian Kuat
- 5FIFA ASEAN Cup: PSSI Rilis 23 Pemain Timnas Indonesia, Jay Idzes dan Beckham Putra Absen
- 6Gara-gara Kembang Api di Hotel Pemain Persib, Persija Disanksi Tak Gelar 2 Laga di Kandang
- 7Prediksi Skor Juventus vs NEC Nijmegen 18 September 2026: Siapa yang Akan Menang?
- 8Prediksi Skor Roma vs Inter 19 September 2026: Duel Dua Tim Sempurna di Olimpico
- 9Geledah Rumah Lampri, KPK Sita Bukti Dugaan Aliran Uang
- 10Presiden Prabowo: Saya Tidak Ingin Ada Orang Lapar di Indonesia





