Akurat Logo

Strategi Bulog Jaga Stabilitas Harga Pangan dan Percepat Swasembada Pangan

Hefriday | 2 Februari 2025, 18:00 WIB
Strategi Bulog Jaga Stabilitas Harga Pangan dan Percepat Swasembada Pangan

AKURAT.CO Pemerintah terus berupaya menjaga stabilitas harga beras dan mendukung kesejahteraan petani melalui kebijakan penyerapan gabah dan beras oleh Perum Bulog. Dengan alokasi anggaran sebesar Rp39 triliun, Bulog diinstruksikan untuk membeli 3 juta ton beras dari petani hingga April 2025.  

Menteri Koordinator bidang Pangan, Zulkifli Hasan menegaskan bahwa Bulog wajib menyerap gabah dan beras petani tanpa alasan, mengingat pemerintah telah menetapkan harga pembelian pemerintah (HPP) untuk gabah kering panen (GKP) sebesar Rp6.500 per kilogram.
 
Keputusan ini diharapkan dapat memberikan kepastian harga bagi petani dan mencegah jatuhnya harga gabah saat panen raya. Langkah ini juga menjadi bagian dari strategi besar pemerintah dalam mewujudkan swasembada pangan.
 
"Dengan penyerapan yang optimal, petani akan lebih termotivasi untuk terus menanam, sehingga ketersediaan beras dalam negeri dapat terjaga secara berkelanjutan," ucapnya di Jakarta, Jumat (31/1/2025). 
 
 
Selain itu, Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menyebutkan bahwa hingga Maret 2025, Indonesia diproyeksikan memiliki surplus beras sebesar 2,9 juta ton. "Dengan adanya tambahan penyerapan 3 juta ton beras oleh Bulog, stok beras nasional pada April 2025 diperkirakan akan mencapai 4 juta ton," tegasnya. 
 
Namun, tantangan dalam penyerapan beras oleh Bulog tidak bisa diabaikan. Sejumlah kalangan menyoroti pentingnya pengelolaan logistik dan penyimpanan yang efisien agar beras yang diserap tetap dalam kondisi baik dan tidak mengalami penyusutan kualitas akibat penyimpanan yang kurang optimal.  
 
Selain itu, Zulhas mengatakan bahwa peran sektor swasta juga menjadi perhatian dalam stabilisasi harga beras. "Pemerintah berharap pelaku usaha swasta ikut serta dalam membeli beras dengan harga yang telah ditetapkan, sehingga kompetisi sehat dalam penyerapan beras dapat terwujud tanpa merugikan petani," tukasnya. 
Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

H
Reporter
Hefriday
Yosi Winosa