Survei Matriks: Reshuffle Belum Memuaskan, Pigai Jadi Menteri Terburuk

AKURAT.CO Kinerja sejumlah menteri Kabinet Merah Putih menjadi sorotan dalam evaluasi dua tahun pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka.
Survei Matriks Politik Indonesia menempatkan Menteri Hak Asasi Manusia (HAM) Natalius Pigai dan Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala Badan Pertanahan Nasional (ATR/BPN) Nusron Wahid sebagai dua menteri dengan penilaian terburuk.
Berdasarkan hasil survei tersebut, Natalius Pigai menempati urutan pertama dengan persentase penilaian 82,6 persen. Nusron Wahid berada di posisi kedua dengan 78,3 persen, disusul Menteri Pekerjaan Umum Dody Hanggodo sebesar 75,2 persen.
Berikutnya, Menteri Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal Yandri Susanto memperoleh 68,2 persen, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia 65,7 persen, serta Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman Maruarar Sirait sebesar 60,7 persen.
“Natalius Pigai dan Nusron mendapat penilaian sebagai menteri terburuk di jajaran kabinet pada dua tahun pemerintahan Prabowo-Gibran,” ungkap Direktur Komunikasi Matriks Politik Indonesia Supriyadi di Jakarta, Rabu (21/10/2026).
Menurut Supriyadi, Nusron Wahid juga memiliki tingkat popularitas yang cukup tinggi, yakni 72,9 persen.
Ia menyebut nama Nusron turut menjadi sorotan terkait perkara dugaan suap pengurusan hak guna bangunan (HGB) di Kabupaten Bogor yang terungkap setelah operasi tangkap tangan (OTT) Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).
Sejumlah pejabat di lingkungan Kementerian ATR/BPN turut ditangkap dalam perkara tersebut, bersama pihak dari kalangan politik dan pengusaha.
KPK juga disebut tengah menelusuri dugaan penerimaan gratifikasi lainnya serta praktik jual-beli jabatan di lingkungan ATR/BPN.
Sementara itu, tingkat pengenalan publik terhadap Natalius Pigai tercatat sebesar 54,3 persen, sedangkan Dody Hanggodo sebesar 27,7 persen.
Supriyadi menilai Pigai menjadi salah satu menteri yang kontroversial sejak awal menjabat karena sejumlah pernyataannya. Ia juga menyinggung adanya gugatan dari pegawai Kementerian HAM terhadap menteri tersebut.
Adapun Dody Hanggodo dinilai mendapat persepsi negatif dari publik akibat gaya komunikasinya.
Supriyadi turut menyinggung isu surat perjalanan dinas ke Amerika Serikat yang membawa anggota keluarga, yang sebelumnya menjadi sorotan dan disebut berujung pada mutasi sejumlah pegawai Kementerian PU.
Di antara menteri yang masuk daftar tersebut, Bahlil Lahadalia tercatat memiliki tingkat popularitas tertinggi, yakni 85,3 persen. Sementara itu, popularitas Yandri Susanto mencapai 35,1 persen dan Maruarar Sirait sebesar 34,3 persen.
Menteri lain yang turut mendapat penilaian buruk adalah Menteri Pariwisata Widiyanti Putri Wardhana sebesar 55,3 persen, Menteri Kelautan dan Perikanan Sakti Wahyu Trenggono 50,7 persen, Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi Rini Widyantini 45,5 persen, serta Menteri Ketenagakerjaan Yassierli sebesar 40,3 persen.
Baca Juga: Abaikan Anak Kandung demi Adopsi Thayaka, Kuasa Hukum Ruben Onsu Skakmat Netizen
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Contoh Teks Pidato Hari Santri 2026 Singkat dan Lucu, Mudah Dihafal!
- 2Tumbang Lawan Lazio, Juventus Mulai Pertimbangkan Depak Luciano Spalletti dan Bidik Antonio Conte
- 3Link Twibbon Hari Santri 2026 Gratis, Lengkap dengan Cara Memasangnya
- 4Prediksi Skor Lille vs Galatasaray: Duel Sengit Demi Poin Perdana Liga Champions
- 5Prediksi Skor Aston Villa vs Viking 22 Oktober 2026: Tuan Rumah Diunggulkan Menang
- 620 Link Twibbon Hari Santri Nasional 2026 Gratis untuk Dibagikan ke Media Sosial
- 7Prediksi Skor Sporting CP vs LASK Linz 22 Oktober 2026: Tuan Rumah Diunggulkan
- 8Siapa Aktivis Greenpeace yang Viral di Bundaran HI? Ini Profil dan Pesan Aksinya
- 9Enam Perusahaan Kena Sanksi Karhutla, Total Sudah 32
- 10Prabowo Usut Tuntas Karhutla: Kali Ini Tidak Bisa Ditindak Biasa-biasa Saja









