Soal Londo Ireng, PDIP Ingatkan Ruang Kritik Harus Dijaga agar Tak Muncul 'Letupan' Seperti Kudatuli

AKURAT.CO DPP PDI Perjuangan (PDIP) mengingatkan pentingnya menjaga ruang kritik dalam demokrasi, serta suara-suara kritis tidak boleh dibungkam agar tidak memicu gejolak sosial maupun politik.
Pernyataan itu disampaikan Sekretaris Jenderal PDIP, Hasto Kristiyanto, saat dimintai tanggapan mengenai pernyataan Presiden Prabowo Subianto yang sempat menyebut istilah 'Londo Ireng' untuk mengkritik pihak-pihak tertentu, termasuk pengamat dan wartawan.
Menurutnya, PDIP berpegang pada pidato Presiden Prabowo dalam Sidang Tahunan MPR dan Sidang Bersama DPR-DPD yang menegaskan pentingnya mekanisme check and balances dalam sistem demokrasi.
Baca Juga: Prabowo Sebut PDIP Sehati dengan Pemerintah, Hasto Singgung Peran Partai Penyeimbang
"Ya sebenarnya kami berpegang dari pernyataan Presiden Prabowo ketika di hadapan sidang gabungan di DPR, dihadiri juga representasi dari DPD RI, di mana Presiden Prabowo membuka bahwa demokrasi memerlukan check and balances. Demokrasi memerlukan kritik. Itulah yang jadi pegangan PDI Perjuangan," kata Hasto di Kantor DPP PDIP, Jakarta Pusat, Minggu (26/7/2026).
Dia berharap, komitmen tersebut diwujudkan dalam tindakan nyata sehingga masyarakat tetap memiliki ruang untuk menyampaikan kritik kepada pemerintah. "Dan itu rakyat menuntut agar apa yang disampaikan oleh beliau itu juga dinyatakan melalui suatu tindakan-tindakan konkret," ujarnya.
Hasto mengaitkan hal tersebut dengan refleksi peringatan 30 tahun Peristiwa Kudatuli. Menurutnya, pembungkaman kritik pada masa lalu justru memicu gejolak yang tidak diinginkan.
"Karena pengalaman dari Kudatuli ketika suara kritis dibungkam, maka terjadi letupan yang tidak kita inginkan," katanya.
Dia mencontohkan sejumlah negara yang pernah mengalami gejolak akibat tertutupnya ruang demokrasi, seperti di Nepal dan beberapa wilayah di Bangladesh.
Baca Juga: PDIP Gelar Teatrikal Peristiwa Kudatuli, Megawati Ikuti Acara Secara Daring
Dalam kesempatan yang sama, Hasto juga menanggapi hasil survei yang menunjukkan tren penurunan kepuasan publik terhadap pemerintah, terutama terkait kondisi ekonomi, politik, dan penegakan hukum.
Menurutnya, hasil survei tersebut perlu dibaca secara komprehensif, termasuk dengan pendekatan kualitatif agar dapat menangkap kondisi masyarakat secara lebih utuh.
"Kalau kita melihat data-data di mana kelas menengah itu juga mengalami penurunan, Saudara Muhammad Chatib Basri telah mengingatkan Chilean Paradox di mana penurunan kelas menengah yang hidup miskin itu kemudian sangat berbahaya," ujarnya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini

Terpopuler
- 1Kalender Jawa 28 Oktober 2026: Watak Weton Rabu Pon, Benarkah Dikenal Pekerja Keras?
- 2Putin Nyatakan Rusia Siap Perang dengan Eropa Meskipun Tidak Menginginkannya
- 3Pemimpin Oposisi Israel Berjanji akan Mengganti Pemerintahan Netanyahu setelah Pemilu
- 44 Link CCTV Jakarta Hari Ini, 28 Oktober 2026: Pantau Situasi Demo di Bundaran HI!
- 5Viking Sebut Terduga Pembunuh ARK Bukan Pendukung Persija, Terindikasi Kelompok Suporter Klub Lain
- 6Pentagon Minta Negara NATO Redam Pernyataan Mengancam Rusia, Ada Apa?
- 7Luhut soal Polemik Ekspor Gas: Ngapain Berkelahi dengan Singapura?
- 8Kalender Jawa 29 Oktober 2026: Watak Weton Kamis Wage Dikenal Punya Cita-Cita Tinggi
- 9Geledah Kantor PT IPPS, Kejagung Sita Ponsel dan Temukan Akses Ruangan Rahasia
- 10KPK Geledah Kantor Bea Cukai Semarang dan Kanwil Jateng, Sita Uang Tunai








