Ketua DPD Soroti OTT KPK: Tingginya Biaya Politik Jadi Akar Masalah

AKURAT.CO Ketua Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia (DPD RI), Sultan Bachtiar Najamudin, menanggapi maraknya operasi tangkap tangan (OTT) yang dilakukan Komisi Pemberantasan Korupsi dalam beberapa waktu terakhir.
Ia menilai, fenomena tersebut menunjukkan masih adanya persoalan mendasar dalam sistem politik Indonesia, terutama terkait tingginya biaya politik.
Sultan menyayangkan praktik korupsi yang masih terungkap melalui OTT KPK.
Menurutnya, kondisi ini menandakan upaya menekan praktik korupsi belum sepenuhnya berhasil.
“Tentu kita menyayangkan. Praktik-praktik yang seharusnya makin hari makin menurun justru masih terjadi,” ujar Sultan saat ditemui di kawasan Kediaman, Jakarta Selatan, Sabtu (14/3/2026).
Ia mengatakan terdapat berbagai analisis terkait penyebab maraknya kasus korupsi.
Namun, salah satu persoalan utama yang menurutnya perlu mendapat perhatian adalah tingginya biaya politik dalam sistem demokrasi saat ini.
Hal tersebut juga ia bahas dalam bukunya yang berjudul Green Democracy.
“Tentu banyak analisanya, tetapi saya ingin menyoroti satu hal di hulu. Saya bahkan sudah membuat kajian empiris dalam buku saya Green Democracy. Salah satu sumber masalah demokrasi kita saat ini adalah biaya politik yang sangat tinggi,” jelasnya.
Menurut Sultan, banyak kepala daerah yang memiliki kinerja baik dan berintegritas.
Baca Juga: TB Hasanuddin Minta Polisi Ungkap Aktor Intelektual Penyiraman Air Keras Andrie Yunus
Namun secara rasional, tingginya biaya politik berpotensi memunculkan dorongan untuk mengembalikan biaya yang telah dikeluarkan selama proses politik.
“Meskipun banyak tokoh daerah atau kepala daerah yang bekerja dengan baik dan bersih, secara logika rasional jika biaya politik mahal, maka ketika menjabat bisa muncul dorongan untuk ‘mengembalikan’ biaya tersebut,” ujarnya.
Karena itu, ia menilai perlu ada pembahasan bersama untuk mencari solusi yang tepat dalam menekan tingginya biaya politik.
Upaya tersebut dapat dimulai dari perbaikan aturan hingga regulasi yang lebih efisien.
“Sudah selayaknya ke depan kita duduk bersama mencari solusi yang paling proporsional. Saya tidak mengatakan harus ekstrem dengan memangkas habis, tetapi mari mencari formula yang paling ideal, efisien, dan efektif,” tegasnya.
Ia menambahkan, langkah efisiensi dapat dimulai dari pembenahan aturan main, regulasi, hingga pembahasan di tingkat undang-undang.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini

Terpopuler
- 1Tidak Semua Pengabdian Berujung Bintang, Hormat untuk Kolonel Edward Sitorus
- 2Kalender Jawa 15 Oktober 2026: Watak Weton Kamis Kliwon Dikenal Ramah dan Mudah Bergaul
- 3Dua Jenderal TNI AD Dinilai Memenuhi Syarat Jadi Calon Panglima TNI, Siapa Saja?
- 4Tudingan Ijazah Palsu Dirinya dan Gibran Terus Bergulir, Jokowi: Berpotensi Pengalihan Isu
- 5Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK
- 6Prediksi Skor Roma vs Genoa 18 Oktober 2026: Giallorossi Diunggulkan
- 7Cara Cek Desil Online Oktober 2026 Pakai NIK KTP, Ini Link Resminya
- 8Kalender Jawa 16 Oktober 2026: Weton Jumat Legi Disebut Punya Karakter Unik
- 9Dua Tahun Dipimpin Prabowo: Harga Pupuk Turun 20 Persen, Kesejahteraan Petani Meningkat
- 10Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK









