PDIP Pilih Jadi Oposisi Prabowo-Gibran, Pakar: Megawati Malu Ingkari Perjanjian Batu Tulis

AKURAT.CO Direktur Political and Public Policy Studies, Jerry Massie, menyebut ada sejumlah faktor yang menguatkan bahwa PDI Perjuangan akan menjadi oposisi jika Prabowo Subianto-Gibran Rakabuming Raka menjadi presiden dan wakil presiden.
Pertama, kata Jerry, terkait kesalahan Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri yang mengingkari perjanjian Batu Tulis dan membuat Prabowo merasa kecewa.
Baca Juga: PDIP Siap Jadi Oposisi, TKN: Kami Hormati, Tapi Prabowo Tetap Ingin Merangkul
"Alasan PDIP tak akan berkoalisi tak lepas dari kesalahan fatal di perjanjian batu tulis 2009 silam. Jadi Mega malu dan dia saya yakin tak akan masuk gerbong pemerintahan Prabowo-Gibran. Memang sebaiknya mereka di luar pemerintahan biar menarik," kata Jerry kepada wartawan, Sabtu (17/2/2024).
Selain itu, karena sikap Presiden Joko Widodo (Jokowi) yang mendukung pencalonan Gibran sebagai cawapres. Di sisi lain, sikap menantu Jokowi, Bobby Nasution yang tiba-tiba meninggalkan PDIP dan beralih dukungan ke Prabowo-Gibran.
Menurutnya, sejumlah hal tersebut menjadi pengganjal bagi PDIP untuk masuk pemerintahan. Apalagi, Sekjen PDIP, Hasto Kristiyanto juga sudah menegaskan bahwa partainya siap berada di luar pemerintahan.
"Faktor Jokowi dan Gibran bahkan anak mantu Jokowi, Bobby Wali Kota Medan. Nah, di dalan hati Mega sakit hati dengan keputusan Jokowi lebih mendukung Prabowo ketimbang Ganjar," ujarnya.
Jerry juga menyinggung soal kembali dekatnya Prabowo dengan mantan istrinya, yakni Titiek Soeharto. Hal ini yang diyakini membuat PDIP sulit bergabung karena Megawati diduga menjaga jarak dengan keluarga Presiden Soeharto.
Baca Juga: DPR Dihuni 8 Fraksi Adu Kuat Oposisi
"Selanjutnya faktor Titiek Soeharto anak mantan Presiden ke-2 RI Jenderal Soeharto. Saya percaya dan yakin mereka akan rujuk. Prabowo sempat menyebut nama ibu Titiek disejumlah kesempatan," katanya.
"Serta Titiek kini duduk di Wakil Ketua Dewan Pembina DPP Partai Gerindra. Selama ini Mega dan keluarga Soeharto berseberangan," tandasnya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Terpopuler
- 1Kalender Jawa 15 Oktober 2026: Watak Weton Kamis Kliwon Dikenal Ramah dan Mudah Bergaul
- 2Kalender Jawa 14 Oktober 2026: Rabu Wage Dikenal Punya Watak Teguh dan Penuh Pertimbangan
- 3Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK
- 4Bangkai Kapal Tertua di Dunia Berusia 4.700 Tahun Ditemukan di Turki, Apa Saja yang Terungkap?
- 5Trump Sudah Berhati-Hati Terlibat Perang, Netanyahu Berupaya Memicu Kembali Konfrontasi dengan Iran
- 6Fabio Calonego Akui Ditawari Naturalisasi, Tertarik Bela Timnas Indonesia
- 7Kalender Jawa 16 Oktober 2026: Weton Jumat Legi Disebut Punya Karakter Unik
- 8Gubernur Bali I Wayan Koster Viral Usai Adu Mulut dengan Petugas SPBU, Ini Profilnya
- 9Dua Tahun Dipimpin Prabowo: Harga Pupuk Turun 20 Persen, Kesejahteraan Petani Meningkat
- 10Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK






