Akurat Logo

Dirty Vote, Bawa Kepentingan Masyarakat atau Paslon?

Atikah Umiyani | 12 Februari 2024, 13:53 WIB
Dirty Vote, Bawa Kepentingan Masyarakat atau Paslon?

AKURAT.CO Pengamat politik Citra Institute, Efriza menilai film Dirty Vote menjadi blunder karena dirilis tepat hari pertama masa tenang Pilpres 2024.

Menurutnya, momentum peluncuran film tersebut kurang tepat dan justru potensi menimbulkan polemik. Sebab, sejumlah pemeran dalam film tersebut terindikasi punya kedekatan dan hubungan kerja dengan salah satu kontestan di pilpres.

Baca Juga: Airlangga: ‘Dirty Vote’ kampanye Hitam, Tak Perlu Dikomentari

"Malah menghadirkan polemik, seperti adanya kepentingan yang bermain dalam film ini, tidak lagi objektif, apalagi momentumnya dikeluarkan di hari pertama masa tenang pasca kampanye. Ini malah menjadi blunder," kata Efriza kepada wartawan di Jakarta, Senin (12/2/2024).

Efriza pun menganggap wajar jika akhirnya ada pihak-pihak yang mempertanyakan kepentingan siapa yang ingin dibawa oleh film tersebut, untuk masyarakat atau untuk kepentingan paslon tertentu.

"Akhirnya akan menjadi polemik, seperti kepentingan siapa yang mereka bawa, murni untuk masyarakat atau salah satu pasangan calon? Kedua, pertanyaannya, emosi yang hadir didalam kerisauannya untuk bangsa ini atau sebenarnya ada kerisauan tersembunyi?," ujarnya.

Menurut Efriza, semestinya film tersebut dirilis jauh-jauh hari sebelum pencoblosan jika memang ditujukan untuk memberi edukasi kepada masyarakat.

Baca Juga: Heboh Dokumenter Dirty Vote, Ini Daftar 6 Karya Film Dandhy Dwi Laksono yang Mengangkat Isu Politik Indonesia

"Ini minggu tenang, semestinya lakukan itu sebulan sebelumnya, seminggu sebelumnya, di akhir kampanye kan masih bisa, meski niatnya penghakiman sekalipun, tapi akademisi tetap harus memberikan contoh yang baik," tuturnya.

Kendati begitu, dirinya tetap mengapresiasi karya tersebut. Hanya saja, dia menyayangkan karena dirilis mendekati hari pencoblosan sehingga sarat akan kepentingan politik praktis.

"Jadi saya mengapresiasi, saya setuju dengan pernyataannya, meski pro dan kontra ya. Tapi karena momentumnya tidak tepat. Sangat disayangkan, niat baik akhirnya menjadi blunder," pungkasnya.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.