Akurat Logo

Seberapa Besar Pensiunan Soeharto Setelah 32 Tahun Berkuasa Di Indonesia? Jumlahnya Bikin Melongo

Deni Muhtarudin | 19 Oktober 2023, 16:36 WIB
Seberapa Besar Pensiunan Soeharto Setelah 32 Tahun Berkuasa Di Indonesia? Jumlahnya Bikin Melongo

AKURAT.CO Soeharto merupakan Presiden RI ke-2 yang menjabat selama 32 tahun lamanya. Namun setelah beberapa bulan kejatuhannya pada 1998, Soeharto menyatakan jika dirinya tak memiliki uang satu sen pun.

Diketahui, Soeharto mengundurkan diri sebagai Presiden RI pada 21 Mei 1998 setelah runtuhnya dukungan untuk kepemimpinannya. Hal ini dikarena munculnya krisis ekonomi dan politik yang sangat parah di Indonesia akibat krisis keuangan Asia 1997.

Lalu seberapa besar dana pensiun yang diterima Soeharto? simak ulasannya berikut! Ada dua versi berbeda terkait dana pensiun Soeharto, di antaranya:

Baca Juga: Mantan Menkeu Ungkap Kegeraman Soeharto Ihwal Kasus BLBI: Pelaku Diminta Dijebloskan Ke Nusakambangan

Versi pertama

Versi pertama ini disampaikan oleh Staf Khusus Kementerian Sekretaris Negara pada 1996 yang juga orang terdekat Soeharto, Yusril Ihza Mahendra yang mengatakan jika Soeharto mendapat pensiun sebesar Rp20 miliar.

Dalam wawancara pada 2018, Yusril bercerita pernah menemui Soeharto di Jl Cendana ketika tidak lagi berkuasa. Saat itu Yusril menjabat sebagai Menteri Sekretaris Negara di era Presiden SBY pada 2004-2009.

Yusril mengatakan jika Soeharto ingin memiliki rumah yang diberikan negara untuk masa pensiunnya

“Ya kan yang lain sudah, toh. Gus Dur sudah dikasih rumah, Megawati sudah. Ya yang belum kan saya,” ujar Yusril dengan meniru gaya khas Soeharto.

Yusril bahkan mengatakan jika Soeharto bermimpi ingin diberi rumah di Jl Teuku Umar, Menteng. Namun keinginannya pupus karena jatah rumah mantan presiden hanya Rp20 miliar, sedangkan rumah di Menteng sekitar Rp75 miliar. 

Namun Soeharto justru melempar candaan dengan mengatakan jika dana pensiunnya seharusnya mencukupi untuk membeli rumah di Menteng karena ia menjabat Presiden sebanyak enam kali.

“Kalau begitu, ya saya kan jadi presiden enam kali. Berarti enam kali Rp20 miliar, jadi Rp120 miliar,” katanya sambil tertawa.

“Gak, pak. Ngitungnya cuma sekali,” timpal Yusril.

Baca Juga: Jokowi Presiden Paling Disukai, Soeharto Nomor 2

Yusril mengaku pembicaraan mengenai rumah pensiun baru berlanjut satu bulan setelahnya, ketika Yusril datang kembali ke rumah Soeharto di Cendana. 

Kala itu Soeharto tak lagi meminta rumah di Menteng. Ia hanya ingin dana pensiunnya yang sebesar Rp20 miliar itu diterima dalam bentuk uang. Hal ini dikarenakan Soeharto ingin merenovasi rumahnya di Cendana.

Akhirnya Yusril pun mengajukan permintaan pada Menteri Keuangan Sri mulyani dan atas izin presiden SBY, dana Rp20 miliar itu diterima Soeharto. 

Versi kedua

Wisma Puri Jati Ayu yang terletak di belakang Museum Purnabhakti TMII merupakan rumah keluarga besar Soeharto yang didirikan oleh Tien Soeharto pada 1970-an.

Kala itu Tien ingin membangun rumah untuk tempat singgah sekaligus untuk melestarikan budaya daerah.

Tak ada informasi pasti mengenai asal biaya pembangunan rumah itu, apakah dari uang pribadi atau tidak.

Baca Juga: Sejarah Reklamasi Teluk Jakarta, Menuai Polemik Dari Zaman Soeharto Hingga Anies Baswedan

Namun saat lengser, Soeharto menolak diberi rumah oleh negara dan hanya meminta negara mengganti biaya pembuatan rumah Puri Jati Ayu.

Pemerintah pun akhirnya memberi uang pensiun pada Soeharto dengan bentuk uang pengganti harga tanah dan pembangunan rumah Puri Jati Ayu sebesar Rp26,5 miliar. Sampai saat ini, rumah Puri Jati Ayu masih berdiri kokoh di TMII. 

Dikutip melalui CNBC, setelah lengser, Soeharto diketahui memiliki kekayaan yang berasal dari yayasan dengan harta Rp4 triliun dan 72 rekening dengan nilai deposito Rp24 miliar. Keluarga Cendana pun memiliki 400 ribu hektare tanah. 

Kekayaan yang dimiliki Soeharto digadang-gadang tak lepas dari kesuksesannya menjadi penguasa Indonesia selama 32 tahun. Ross H. McLeod dalam “Soeharto’s Indonesia: A Better Class of Corruption” (A Journal of Policy Analysis and Reform, 2000) mengatakan Soeharto telah membangun sistem terstruktur yang menguntungkan.

Baca Juga: Mahfud MD Kenang Ridwan Saidi Si Tukang Kritik Soeharto

Awalnya ia akan mempekerjakan kenalan-kenalannya di militer, sipil, atau proyek-proyek negara lainnya. Dengan begitu, mereka akan mudah dijadikan sebagai ‘pembantu’ Soeharto untuk mengumpulkan pundi-pundi.

Lebih lanjut, Soeharto juga banyak bersentuhan dengan dunia bisnis, akibat kedekatanya dengan beberapa pengusaha ternama, seperti pendiri Salim Group, Liem Sioe Liong.

Tak hanya itu, kekayaan Soeharto juga dibantu oleh bisnis anak-anaknya yang sedikit banyak terpengaruh oleh nama besar Soeharto.[]

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.