Akurat Logo

Artis Maju di Pilkada 2020, Yang Instan Sulit Menang

Ghassan Faikar | 8 September 2020, 15:13 WIB
Artis Maju di Pilkada 2020, Yang Instan Sulit Menang

AKURAT.CO  Sejumlah artis kembali meramaikan Pilkada 2020. Popularitas menjadi andalan mereka dan partai politik untuk mendulang suara.

Cukupkah modal popularitas membawa kemenangan?

Hingga pendaftaran berakhir di KPU seluruh daerah, ada 7 artis yang telah mendaftar dalam Pilkada serentak 2020. Enam di antaranya, maju sebagai pendamping, dan hanya satu orang yang maju sebagai orang nomor satu.

Artis Sahrul Gunawan telah mendaftar ke KPU Kota Bandung dan maju sebagai calon wakil Bupati Bandung. Pesinetron ini berpasangan dengan Dadang Supriatna. Pasangan ini diusung oleh PKB, Partai Demokrat, Partai Nasdem dan terakhir memberikan dukungan PKS.

Pesinetron Cinta Fitri, Firman Mutakin juga resmi mendaftar sebagai calon wakil wali kota Cilegon berpasangan dengan Ali Mujahidin. Pasangan ini maju tanpa partai, tetapi lewat jalur independen. Firman maju berbekal 39.262 dukungan.

Aldy Fairuz juga telah mendaftar ke KPU Kabupaten Karawang. Ia maju sebagai calon wakil Bupati Karawang berpasangan dengan Yesi Karya Lianti. Pasangan ini diusung oleh PDIP, PAN, PPP dan PBB.

Nama lainnya adalah penyanyi dangdut Fadia Arafiq putri A Rafiq. Ia telah mendaftarkan diri sebagai calon Bupati Pekalongan. Padia yang juga Ketua DPD Partai Golkar ini menggandeng Ketua PDIP Pekalongan, Riswadi, sebagai wakilnya. Selain Golkar dan PDIP, pasangan Padia – Riswadi ini diusung oleh PAN, PKS, Partai Demokrat dan PSI.

Pesinetro Lucky Hakim juga telah mendaftar ke KPU Indramayu. Ia maju di sebagai calon wakil Bupati Indramayu. Pasangan Lucky adalah Nina Agustian Da’i Bachtiar. Pasangan ini diusung PDIP dan Partai Gerindra.

Ada juga Iyeth Bustami yang maju sebagai calon wakil Bupati Bengkalis, Riau. Iyeth dipasangkan dengan Kaderismanto. Ia mendapat dukungan dari PDIP dan PKB.

Presenter dan pesinetron lainnya yang sudah mendaftar adalah David Chalik. Ia maju sebagai calon wakil walikota Bukittinggi, Sumatera Barat berpasangan dengan Irwandi. David didukung oleh PAN dan PKB.

Apakah popularitas cukup untuk memenangkan pilkada?

Direktur Eksekutif Perludem Khoirunnisa Nur Agustyati mengatakan, para pesohor ini setidaknya punya modal awal, popularitas. Sehingga ketika kampanye tidak perlu susah payah lagi mengenalkan dirinya ke masyarakat.

“Dalam kontestasi pilkada, partai selalu memasang target menang. Sehingga popularitas dan elektabilitas yang tinggi dari para kandidat menjadi pertimbangan utama,” ungkapnya dalam wawancara di channel Metrotvnews, (5/9/2020).

Sejauh ini, lanjut Khoirunnisa, ada dua tipe artis yang maju di pilkada. Pertama, artis yang memang sudah berkecimpung lama ke dunia politik atauaktif menjadi pengurus partai. Baru setelah itu mereka maju dalam pilkada atau pileg.

“Kedua, figur yang sebelumnya hanya kita kenal di layar kaca dan media-media, lalu tiba-tiba dicalonkan oleh partai politik. Jadi bisa dibilang prosesnya instan, tidak ada proses kaderisasi di partai. Mereka menjadi anggota partai sesaat sebelum mendaftarkan diri ke KPU,” tuturnya.

Tipe yang kedua ini membuat mereka tidak melewati proses internalisasi visi, misi partai politik. Padahal seharusnya, saat berkampanye para artis sudah memiliki pemahaman yang utuh seperti apa ideologi partainya.

Bagaimana dengan peluang mereka?

Menurut Khoirunnisa, popularitas bisa menjadi modal awal, namun tidak semua artis yang ikut pilkada bisa menang. Ada proses panjang yang harus dilalui, misalnya bagaimana artis itu mampu menyampaikan secara lugas apa yang akan dia lakukan, visi dan misinya serta programnya seperti apa. Apakah visi dan misi ini didialogkan kepada masyarakat atau tidak. Kalau pada masa kampanye ini tidak terdeliver dengan baik, maka calon akan sulit menang.

Pilkada 2018 lalu bisa menjadi pelajaran. Jika melihat data Pilkada 2018, sejumlah artis justru banyak yang gagal.Hanya, Hengky Kurniawan yang berhasil menang di Pilkada Kabupaten Bandung Barat. Ia kini menjadi wakil bupati Bandung Barat.

Sedangkan empat artis lain yang maju pada pilkada serentak tersebut, kalah. Mereka adalah Deddy Mizwar, Nurul Arifin, Inggrid Kansil dan Nurul Qomar. Deddy, maju sebagai calon gubernur Jawa Barat. Hasil quick count, ia hanya meraih 25.38 persen, kalah oleh pasangan Ridwan Kamil dan Uu Ruhzanul Ulum yang meraih suara 32,26 persen.

Nurul Arifin juga gagal saat menjadi calon walikota Bandung berpasangan dengan Rully Hidayat. Pasangan ini kalah oleh pasangan M Oded Danial dan Yana Mulyana.

Hasil quick count lembaga Polisight Nurul Arifin dan Ruli memperoleh 22,5 persen, sedangkan pasangan Oded Danial dan Yana memperoleh 51,4 persen. Begitupun dengan Inggrid Kansil yang maju sebagai wakil Bupati Bogor berpasangan dengan Jaro Ade.

Inggrid kalah oleh pasangan Ade Yasin dan Iwan Setiawan. Berdasarkan quick qount LSI Denny JA, Ade- Inggrid memperoleh suara 37.50 persen, sedangkan Ade Yasin-Iwan mendapat suara 41,7 persen.

Pelawak Nurul Qomar juga harus menelan pil pahit di Pilkada Cirebon. Ia maju sebagai calon wakil bupati dipasangkan dengan Mohammad Lutfhi. Namun Komar hanya memperoleh suara 25,94 persen. Kalah dari pasangan Sunjaya Purwadisastra dan Imron yang memperoleh suara 32.56 persen.

Dari data itu bisa dilihat bahwa popularitas tidak menjamin kemenangan. Ada banyak faktor yang bisa membuat para artis menang atau kalah di Pilkada 2020.

Selain harus mampu meyakinkan masyarakat dengan program, mungkin juga karena kompetitor yang lebih bagus. Atau jangan-jangan para artis kalah karena politik uang.

Yang terakhir ini sepertinya sulit dilawan oleh siapapun. Menurut kamu bagaimana ? ‘[]

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.