Politik Balas Jasa, Kebijakan Kolonial yang Tak Sengaja Menyulut Nasionalisme

AKURAT.CO Awal abad ke-20 menandai babak baru dalam sejarah kolonialisme di Indonesia. Setelah ratusan tahun rakyat menderita akibat tanam paksa (Cultuurstelsel) yang menguntungkan Belanda namun menyengsarakan pribumi, muncul sebuah kebijakan baru yang disebut Politik Balas Jasa atau Ethical Policy.
Kebijakan ini diumumkan oleh Ratu Wilhelmina pada 1901, sebagai wujud tanggung jawab moral Belanda terhadap rakyat Hindia Belanda.
Tekanan dari kalangan humanis dan pemikir liberal di Belanda memaksa pemerintah kolonial untuk memperbaiki nasib masyarakat pribumi, meski tetap dengan tujuan menjaga stabilitas dan produktivitas ekonomi kolonial.
Tiga Pilar Politik Balas Jasa
Politik Balas Jasa berfokus pada tiga program utama:
-
Irigasi – membangun jaringan pengairan untuk mendukung pertanian rakyat.
-
Pendidikan – membuka akses sekolah bagi pribumi, meski terbatas untuk kalangan tertentu.
-
Transmigrasi – memindahkan penduduk dari Jawa yang padat ke daerah-daerah lain.
Menurut sejarawan Sartono Kartodirdjo, kebijakan ini menjadi tonggak perubahan sosial di tanah jajahan.
Namun, sejarawan Nugroho Notosusanto menilai penerapannya tetap sarat kepentingan kolonial. Manfaat yang dirasakan rakyat seringkali hanya efek samping dari ambisi Belanda menjaga kekuasaan.
Baca Juga: Politik Identitas: Antara Ruang Aspirasi dan Ancaman Polarisasi
Dampak: Lahirnya Kaum Terpelajar dan Pergerakan Nasional
Meski terbatas, program pendidikan melahirkan generasi terpelajar pribumi.
Dari sinilah muncul tokoh-tokoh pergerakan nasional seperti Soetomo (pendiri Budi Utomo) dan Ki Hajar Dewantara (Bapak Pendidikan Nasional).
Mereka menjadi motor kesadaran nasional yang kelak menggelorakan perjuangan menuju kemerdekaan.
Politik Balas Jasa mungkin lahir dari kepentingan kolonial, tetapi tanpa disadari menjadi titik awal bangkitnya nasionalisme Indonesia.
Dari ruang kelas dan diskusi para pelajar bumiputra, lahir gagasan kebebasan dan cita-cita merdeka.
Dengan kata lain, kebijakan yang dimaksudkan untuk memperkuat kekuasaan Belanda justru menumbuhkan semangat perlawanan rakyat Indonesia.
Laporan: Nora Niswatun Choirina/magang
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Kecelakaan Maut di Afrika Selatan, 21 Orang Tewas dalam Tabrakan Tiga Kendaraan
- 2Terpukau Atmosfer Persija vs Persib di SUGBK, John Herdman: Belum Pernah Saya Rasakan
- 3Apa Itu Gempa Megathrust? Ini Wilayah Indonesia yang Berpotensi Terdampak
- 4Tokoh Partai Reformasi Britania Raya Balas Trump soal Irlandia Bersatu: Jangan Campuri Politik Inggris!
- 5Soal Kabar Jokowi-Megawati Bakal Bertemu, Said Abdullah: Kartunya Mati, Jangan Dihidupkan Lagi
- 6Suahasil Nazara Jadi Menkeu Baru, Ini Sosok dan Perjalanan Kariernya
- 7ACL Two: FC Seoul Siapkan Pemain SMA Lawan Persib Bandung, Anggap Remeh?
- 8Ismed Sofyan Puji Shin Tae-yong Usai Persija Kalahkan Persib, Putuskan Kebuntuan 3 Tahun
- 9Sidang Korupsi Kuota Haji Ungkap Marwan Dasopang Mendorong Kuota Tambahan Tidak Seluruhnya untuk Jemaah Reguler
- 10Fahd A Rafiq Bersama Tujuh Tersangka OTT Summarecon Digiring ke Mobil Tahanan KPK




