Saran LP3ES: Hindari Pemborosan Jumlah Menteri di Pemerintahan, Hanya Buat Oposisi Lemah!

AKURAT.CO Direktur Pusat Media dan Demokrasi LP3ES, Wijayanto, menyoroti pentingnya unsur kritik ke pemerintah alias oposisi untuk menjadi penyeimbang pemerintahan ke depan.
Menurutnya, keberadaan oposisi yakni menjalankan fungsi kritik dalam mengawal setiap kebijakan di pemerintahan selanjutnya.
“Jelas bahwa Indonesia sangat membutuhkan masyarakat sipil yang kuat saat ini. Koalisi harus diartikan ada yang berdiri di luar kekuasaan untuk selalu menjalankan fungsi kritiknya, agar kekuasaan negara tidak berubah wujud menjadi leviathan ganas,” katanya dalam diskusi bertajuk Koalisi Besar Menuju Demagog Otoriter, dikutip Minggu (19/5/2024).
Baca Juga: Dalam Majelis Rektor PTN di Padang, Mentan Amran Sambut Baik Kelompok Tani Mahasiswa
Selain itu, ia menyinggung tentang wacana pembentukan kabinet berisi 40 menteri. Menurutnya hal tersebut harus dihindari karena bisa membuat oposisi menjadi lemah. Alhasil tidak ada penyeimbang.
“Harus dihindari pemborosan jumlah kementerian di kabinet mendatang. Juga, memberikan pengertian bahwa kekuasaan tidak selalu harus seragam pemikiran dan anti kritik, anti antagonisme,” tuturnya.
“Padahal dalam demokrasi yang baik, kritisisme dan antagonisme adalah hal hal yang penting agar fungsi kontrol dan check and balancing tetap berjalan. Jika semua menjadi bagian dari kekuasaan maka akan membahayakan demokrasi,” sambung Wijayanto.
Baca Juga: Rektor Paramadina: Belum Ada Tanda-tanda Kebangkitan Demokrasi Pasca-pilpres 2024
Ia kemudian membandingkan pemerintahan Orde Baru zaman Presiden ke-2 RI, Suharto. Saat itu, rezim Soeharto tetap mementingkan peran oposisi sebagai rekan kritis untuk pemerintah.
Namun, kata Wijayanto, hal itu tidak lagi terjadi di masa reformasi, oposisi melemah seolah pemerintah tidak butuh gagasan-gagasan kritik.
“Pemerintahan Orde Baru dulu, tetap menyadari tentang perlu adanya pemikiran-pemikiran yang berbeda. Contohnya dulu LP3ES sangat kuat dan bisa berperan sebagai partner kritis dari pemerintah. Mantan presiden Suharto sendiri menyadari akan pentingnya gagasan-gagasan yang lain sebagai masukan. Hal itu yang tidak ada di masa reformasi, seakan-akan tidak memerlukan gagasan-gagasan yang lain,” demikian Wijayanto.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini

Terpopuler
- 1Tolak Bertahan di KTM Demi Ducati, Pedro Acosta: Saya Ingin Kalahkan Marc Marquez dengan Senjata yang Sama!
- 2Seharusnya Denny Indrayana Paham Penjelasan Jokowi Soal Ijazah Gibran, Kecuali Ada Dorongan Politik
- 3Prediksi Indonesia vs Malaysia di FIFA ASEAN Cup 2026: Susunan Pemain dan Skor!
- 4Kalender Jawa 25 September 2026: Benarkah Jumat Kliwon Hari Baik untuk Menikah?
- 5Live Streaming Timnas Indonesia vs Singapura Malam Ini, Cek Jam Tayang dan Linknya
- 6Klik Link Live Streaming Indonesia vs Malaysia FIFA ASEAN Cup 2026 Malam Ini
- 7Indonesia vs Singapura Hari Ini Jam Berapa? Cek Jadwal FIFA ASEAN Cup 2026!
- 8Prediksi Skor Indonesia vs Singapura Hari Ini 25 September 2026, Cek Susunan Pemain!
- 9KPK Pantau Temuan Fasilitas Mewah di Lapas Cibinong
- 10Kunjungi Pindad, Ketua MPR Dorong Penguatan Industri Pertahanan Nasional








