Akurat

Enggak Ada Jaminan Ganjar-Mahfud dan Anies-Muhaimin Bisa Kompak Jika Berkoalisi

Paskalis Rubedanto | 17 Januari 2024, 10:56 WIB
Enggak Ada Jaminan Ganjar-Mahfud dan Anies-Muhaimin Bisa Kompak Jika Berkoalisi

AKURAT.CO Desas desus peleburan koalisi kubu pasangan calon nomor urut 1, Anies Baswedan-Muhaimin Iskandar, dan nomor urut 3, Ganjar Pranowo-Mahfud MD, masih menjadi perbincangan hangat.

Pasalnya, kedua kubu tersebut memang diketahui memiliki kesamaan tujuan, yakni mengalahkan paslon nomor urut 2, Prabowo Subianto-Gibran Rakabuming Raka, yang elektabilitasnya selalu paling tinggi.

Pengamat politik dari Universitas Al-Azhar Indonesia (UAI), Ujang Komaruddin mengatakan, peleburan koalisi Anies-Muhaimin (Amin) dan Ganjar-Mahfud bisa terjadi dan tergantung kepentingan masing-masing. 

Baca Juga: Tengok Vanue Konser IU di Ice BSD, Terkemuka di Asia Tenggara dan Pernah Raih Penghargaan Gedung Hemat Energi Nasional

“Tergantung kepentingan. Jadi yang mempertemukan adalah soal kepentingan, itu saja. Plusnya mungkin mereka sama-sama pihak yang ingin mengalahkan Jokowi atau mengalahkan yang didukung Jokowi, Prabowo-Gibran,” kata Ujang, kepada Akurat.co, di Jakarta, Rabu (17/1/2024).

“Karena Prabowo-Gibran selalu di atas elaktabilitasnya, maka tadi plusnya adalah mereka ingin bersatu, ingin bersama mengalahkan Prabowo-Gibran sekaligus mengalahkan Jokowi sebagai King Maker,” tambahnya.

Kendati demikian, menurut Ujang, kesamaan tujuan kedua poros tersebut tidak bisa menjamin kekompakan antara keduanya, karena basis masa mereka adalah basis kekecewaan kepada Presiden Joko Widodo.

Baca Juga: Piala Asia: Akui Vietnam Main Bagus Lawan Jepang, Shayne Pattynama Minta Suporter tak Khawatir

“Minusnya ya mungkin tidak akan selalu ada kekompakan, tidak selalu ada persamaan yang betul-betul matang dan terencana. Karena tadi, basis masanya adalah basis kekecewaan kepada Jokowi yang sekaligus ingin mengalahkan Prabowo-Gibran didukung Jokowi,” beber Ujang.

Terlebih seperti yang diketahui, dari kubu Amin, terdapat PKS yang selama ini seperti air dan minyak dengan PDIP. Perbedaan seperti itu yang menurut Ujang bisa membuat kedua kubu itu akan sulit kompak jika bersatu. 

“Minusnya bisa tidak kompak dan tidak bersatu. Di dalam alias di internal mereka tidak bersatu ya bisa saling membiarkan seolah-olah bersatu padahal tidak kompak juga, biasanya begitu,” pungkas Ujang.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.