Survei Galidata Catat Elektabilitas Ganjar-Mahfud Memimpin di Jatim dan Jateng

AKURAT.CO Lembaga survei Gagas Lintas Data (Galidata.id) mencatat elektabilitas pasangan capres nomor urut 3, Ganjar Pranowo-Mahfud MD, berada di peringkat pertama.
Angka itu diperoleh berdasarkan survei top of mind terhadap 1.200 responden selama 24 Desember 2023 sampai 6 Januari 2024.
"Ganjar-Mahfud memiliki perolehan suara teratas di angka 35,3 persen; Prabowo-Gibran 33,2 persen; dan Anies-Muhaimin 27,1 persen. Elektabilitas Ganjar semakin naik di angka 36,2 persen, disusul pasangan Prabowo-Gibran sebesar 33,3 persen dan Anies-Muhaimin 26,1 persen," jelas peneliti Galidata, Arif Budiman, dalam paparan hasil survei di Jakarta, Kamis (11/1/2024).
Sementara, berdasarkan hasil survei secara nasional, elektabilitas Ganjar-Mahfud juga tertinggi yakni sekitar 36,2 persen, disusul pasangan Prabowo-Gibran sebesar 33,3 persen dan Anies-Muhaimin 26,1 persen.
Arif menjelaskan, perolehan elektabilitas Ganjar tidak lepas dari tingkat kesukaan responden kepada mantan Gubernur Jawa Tengah itu yang cukup tinggi dengan 76,7 persen, disusul Prabowo 74,8 persen dan Anies Baswedan 71,4 persen.
Sedangkan angka ketersukaan publik terhadap cawapres dipegang Mahfud MD dengan 71,3 persen, disusul Muhaimin Iskandar 70,2 persen dan posisi ketiga ditempati Gibran Rakabuming Raka dengan 60,1 persen.
Jika dilakukan simulasi secara head to head, Ganjar-Mahfud hampir menang di berbagai simulasi. Di saat simulasi pertarungan dengan Prabowo-Gibran, Ganjar-Mahfud menang di angka 49,3 persen sementara Prabowo-Gibran 40,2 persen dengan angka tidak tahu dan tidak menjawab (TT/TJ) 10,5 peren.
Baca Juga: PDIP Siap Menangkan Ganjar-Mahfud Satu Putaran
Ketika simulasi head to head dengan Anies Baswedan-Muhaimin Iskandar, Ganjar-Mahfud menang jauh dengan angka 55 persen. Kubu Anies-Muhaimin hanya memperoleh 39 persen dengan TT/TJ 6 persen.
Saat Prabowo-Gibran disandingkan head to head melawan Anies-Muhaimin, Prabowo-Gibran menang dengan angka 50,2 persen, sementara Anies-Muhaimin 43 persen dengan angka TT/TJ 6,8 persen.
Jika melihat berbasis daerah, berdasarkan sampel 800 responden, suara Prabowo-Gibran menang di Jawa Barat. Prabowo-Gibran memperoleh suara 40 persen, disusul Anies-Muhaimin 28,1 persen dan Ganjar-Mahfud 22 persen.
Namun Ganjar berkuasa di Jawa Tengah dan Jawa Timur. Di Jateng, Ganjar-Mahfud perkasa. Ganjar memperoleh 43,7 persen, sementara dua kompetitor lain Prabowo-Gibran 27 persen dan Anies-Muhaimin 24 persen.
Di Jatim, Ganjar-Mahfud bersaing menang di angka 37,1 persen. Anies-Muhaimin di peringkat kedua dengan angka 30 persen dan Prabowo-Gibran 27,6 persen.
"Untuk Jatim, Ganjar-Mahfud memimpin tipis dengan perolehan 37,1 persen. Berturut-turut dibawahnya adalah pasangan Anies-Muhaimin dengan 30 persen dan Prabowo-Gibran 27,6 persen. Undecided voters sebesar 5,3 persen kemungkinan gambaran hasil survei Galidata di Jatim mendekati dinamika saat pemilu akan sangat presisi," terang Arif.
Selain itu, berdasarkan temuan Galidata, para responden merespon positif mayoritas program Ganjar-Mahfud. Angka tertinggi ada pada program KTP Sakti (Ganjar-Mahfud) yang disukai responden di angka 23,4 persen.
Kemudian disusul Makan Siang dan Susu Gratis (Prabowo-Gibran) 21,7 persen, Sarjana Keluarga Miskin (Ganjar-Mahfud) 19,2 persen, Internet Gratis (Ganjar-Mahfud) 14,2 Persen, Program Pangan (Anies Muhaimin) 12,2 persen dan Tolak Pemindahan Ibu Kota (Anies-Muhaimin) 9,3 persen.
"Tiga program yang ditawarkan oleh Ganjar-Mahfud yakni KTP Sakti, Satu Sarjana untuk Satu Keluarga Miskin dan Internet Gratis cukup populer di kalangan responden. Hal ini tentu mengindikasikan bahwa komunikasi yang dibangun oleh capres dipahami oleh masyarakat," tutur Arif.
Hasil survei Galidata ini pun ditanggapi pengamat politik dari Lingkar Madani Indonesia (Lima), Ray Rangkuti.
Dia menilai suara Prabowo-Gibran mulai mengalami stagnasi, sementara Ganjar-Mahfud dan Anies-Muhaimin mengalami kenaikan.
Menurutnya, tingkat kepuasan Joko Widodowi yang stagnan mempengaruhi dukungan suara untuk Prabowo-Gibran.
"Sebagaimana kita ketahui, 02 ini menurut saya sekarang ini mutlak hanya mengandalkan kinerja Pak Jokowi. Kalau kinerja Pak Jokowi menurun, dia punya implikasi serius kepada elektabilitas 02," kata Ray.
Kedua, stagnasi 02 terjadi karena tagline gemoy dan susu gratis sudah tidak menarik bagi publik. Ia menilai kenaikan suara Prabowo terjadi akibat viral gemoy dan susu gratis. Viral tersebut pun tidak akan bertahan lama karena publik sudah mulai tidak tertarik.
"Yang viral-viral usianya enggak sampai tiga minggu. Jadi kalau sudah tiga minggu mengalami stagnasi, kalau enggak ya turun. Inilah menurut saya yang dialami 02 sekarang," ujar Ray.
Selain itu, isu dinasti politik dan lain-lain mulai masuk di tengah masyarakat. Ray mencontohkan gerakan intensif mahasiswa dalam menolak dinasti politik mulai membawa pengaruh.
Ia menambahkan, gaya kampanye Prabowo mulai kalah dari pasangan Anies-Muhaimin dan Ganjar-Mahfud. Kedua pasangan itu intens berkomunikasi dengan masyarakat sehingga mulai dilirik. Contohnya Ganjar yang terus turun ke basis pemilih, sementara Mahfud mulai bermain Tiktok yang berhasil meningkatkan suara pasangan nomor urut 3.
Selain itu, Ray menyoroti kenaikan kubu Ganjar-Mahfud. Ia menilai, PDIP dan pasangan Ganjar-Mahfud sudah melakukan konsolidasi untuk pemenangan. PDIP kerap mengkritik Jokowi dengan puncak ujaran Megawati Soekarnoputri yang mengritik pemerintahan berasa Orde Baru. Kritik tersebut membuat internal PDIP semakin kuat dan berhasil memisahkan antara PDIP dan Jokowi.
"Jadi, ada upaya konsolidasi berimplikasi kepada mereka yang loyal pada PDI atau sebaliknya loyal pada Jokowi. Dan kita tanya mayoritas pemilih PDI tetap loyal, malah di sini disebut 24,8 angka tertinggi menurut saya yang diperoleh dari berbagai survei," jelasnya.
Baca Juga: KNP Sosialisasikan Program KTP Sakti Ganjar-Mahfud ke Warga Karawang
"Kalau ada yang ingkar dari PDI Perjuangan pascakonsolidasi itu ikut jalan Pak Jokowi enggak lebih dari dua persen. Artinya, konsolidasi yang dilakukan oleh PDIP sukses untuk menahan pemilih tidak pergi ke Pak Jokowi," kata Ray menambahkan.
Adapun, survei Galidata mendapati margin of error 2,83 persen pada tingkat kepercayaan mencapai 95 persen.
Ada over sampel sebesar 800 responden di Jatim, Jateng dan Jawa Barat. Margin of error di masing-masing provinsi tersebut adalah 3,2 persen. Penetapan sampel di masing-masing kabupaten/kota menggunakan proporsi populasi nasional atau purposive sampling.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Kalender Jawa 18 September 2026: Watak Weton Jumat Pon, Bijak dan Mudah Bergaul
- 2Persija Banding Sanksi Komdis PSSI, 2 Larangan Laga Kandang Jadi Sorotan
- 3Prediksi Skor Brentford vs Chelsea 19 September 2026: Duel Ketat, Apakah Akan Berakhir Imbang?
- 4Kalender Jawa 19 September 2026: Watak Weton Sabtu Wage, Setia dan Berpendirian Kuat
- 5FIFA ASEAN Cup: PSSI Rilis 23 Pemain Timnas Indonesia, Jay Idzes dan Beckham Putra Absen
- 6Gara-gara Kembang Api di Hotel Pemain Persib, Persija Disanksi Tak Gelar 2 Laga di Kandang
- 7Prediksi Skor Juventus vs NEC Nijmegen 18 September 2026: Siapa yang Akan Menang?
- 8Prediksi Skor Roma vs Inter 19 September 2026: Duel Dua Tim Sempurna di Olimpico
- 9Geledah Rumah Lampri, KPK Sita Bukti Dugaan Aliran Uang
- 10Presiden Prabowo: Saya Tidak Ingin Ada Orang Lapar di Indonesia








