Akurat Logo

Ridwan Kamil Jadi Rebutan Ganjar Dan Prabowo, Pengamat: Kendali Ada Di Golkar

Atikah Umiyani | 14 September 2023, 12:06 WIB
Ridwan Kamil Jadi Rebutan Ganjar Dan Prabowo, Pengamat: Kendali Ada Di Golkar

AKURAT.CO Pengamat politik, Ray Rangkuti menilai eks Gubernur Jawa Barat, Ridwan Kamil (RK) tengah menjadi rebutan oleh dua bakal capres yang akan bersaing, yakni Ganjar Pranowo dan Prabowo Subianto.

Diketahui, RK disebut sering bertemu dengan Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri dan mengaku sempat ditawari menjadi cawapres Ganjar. Tak berselang lama, RK mendatangi kediaman Prabowo di Jl. Kertanegara, Jakarta Selatan.
 
Ray membenarkan, RK tengah menjadi rebutan untuk menjadi cawapres. Namun, ia menyebut, RK tidak memiliki keleluasaan dalam memilih karena saat ini dirinya sudah terikat dengan Partai Golkar.
 
 
"Dia sih sebetulnya rebutan, cuma karena sudah milik Golkar, itu kan kesulitan. Jadi dia masuk partai itu sebetulnya terburu-buru kalau dalam konteks ini, sekarang ya nasibnya ditentukan Golkar. Mau ke mana ya harus seizin Golkar," kata Ray kepada Akurat.co, Kamis (14/9/2023).
 
Direktur Eksekutif Lingkar Madani ini mengatakan, RK dalam posisi yang terjepit. Sebab, dirinya akan mendapat persepi negatif dari masyarakat jika keluar dari Partai Golkar demi menerima pinangan untuk menjadi cawapres.
 
"Jadi kalau dia pergi begitu saja, tanpa izin Golkar efeknya justru negatif, bukan positif," ujarnya.
 

Sementara, Ray meyakini bahwa Golkar tidak akan memberi kesempatan kepada RK untuk menjadi cawapres. Sebab, Golkar akan mendapat banyak kerugian, terutama bagi Ketua Umum Airlangga Hartarto.
 
"Tiga kali lipat kerugian Golkar (kalau usung RK jadi cawapres), khusunya Airlangga. Dia udah enggak jadi wapres, yang dicalonkan adalah orang baru, kemudian enggak memenuhi kualifikasi rakernas mereka," pungkasnya.[]
Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.