Akurat Logo

Strategi Allianz Perluas Pendidikan Inklusif Lewat Pelatihan 50 Guru SLB

Idham Nur Indrajaya | 23 Oktober 2026, 18:15 WIB
Strategi Allianz Perluas Pendidikan Inklusif Lewat Pelatihan 50 Guru SLB
Allianz memperluas pendidikan inklusif lewat pelatihan 50 guru SLB di Jabodetabek melalui program MoveNow Unity in Motion. - dok. Allianz Indonesia

AKURAT.CO Allianz Indonesia memperkuat upaya mendukung pendidikan inklusif melalui pelatihan bagi 50 guru dari 23 Sekolah Luar Biasa (SLB) di wilayah Jabodetabek. Program yang dijalankan bersama ASA Foundation ini dirancang untuk membekali guru dengan metode olahraga inklusif dan pembelajaran partisipatif yang dapat diterapkan sesuai kebutuhan siswa penyandang disabilitas.

Pelatihan tersebut merupakan bagian dari MoveNow Unity in Motion, program dalam kerangka MoveNow Impact Fund 2025–2027. Pelaksanaannya mencakup dua siklus pelatihan, penerapan metode di sekolah, dan pendampingan bagi guru.

Strategi ini menempatkan penguatan kapasitas tenaga pendidik sebagai salah satu cara mendukung penerapan pendidikan inklusif. Guru tidak hanya mempelajari metode pembelajaran, tetapi juga diharapkan dapat menyesuaikan dan mengembangkan pendekatan tersebut secara mandiri di sekolah masing-masing.

Program ini dilaporkan telah menjangkau 2.286 siswa penyandang disabilitas. Meski demikian, jumlah tersebut menggambarkan jangkauan program, bukan dengan sendirinya membuktikan perubahan kemampuan atau pengalaman belajar seluruh siswa yang terlibat.

Baca Juga: Olahraga Inklusif Bukan Sekadar Aktivitas Fisik, tetapi Sarana Membangun Kemandirian Siswa Disabilitas

Baca Juga: Bukan Sekadar Pelatihan, Allianz Siapkan Pendanaan dan Mentoring untuk Bisnis Anak Muda di Program Ecopower

Strategi Allianz Perluas Pendidikan Inklusif Lewat Pelatihan Guru

Allianz Indonesia bersama ASA Foundation menjalankan MoveNow Unity in Motion dengan pendekatan Training of Trainers (ToT). Pendekatan ini menjadi bagian dari upaya memperkuat kapasitas guru agar dapat menerapkan metode pembelajaran inklusif di lingkungan sekolah.

Dalam program tersebut, guru menjadi salah satu fokus utama karena mereka berperan langsung dalam mengarahkan kegiatan belajar dan menyesuaikan metode dengan kebutuhan siswa. Penguatan kapasitas tenaga pendidik diharapkan mendukung penggunaan metode yang tidak hanya bergantung pada pelaksanaan acara tertentu, tetapi dapat dikembangkan dalam kegiatan sekolah.

Pelatihan guru juga memberi konteks pada upaya memperluas jangkauan pendidikan inklusif. Ketika tenaga pendidik memiliki pemahaman dan metode yang relevan, mereka memiliki bekal untuk merancang aktivitas pembelajaran yang memberi ruang bagi siswa untuk berpartisipasi.

Namun, pelatihan tidak otomatis menjamin bahwa suatu metode akan diterapkan secara konsisten atau menghasilkan perubahan tertentu. Penerapannya tetap bergantung pada kebutuhan siswa, kesiapan guru, dukungan sekolah, serta kesempatan untuk mengevaluasi kegiatan setelah pelatihan selesai.

Dalam konteks MoveNow Unity in Motion, karena itu, strategi Allianz dapat dilihat melalui dua aspek yang saling berkaitan: pelatihan sebagai proses pengembangan kapasitas dan penerapan metode di sekolah sebagai bagian dari upaya keberlanjutan program.

50 Guru dari 23 SLB Ikuti Dua Siklus Pelatihan

MoveNow Unity in Motion melibatkan 50 guru dari 23 SLB di Jabodetabek. Program dilaksanakan melalui dua siklus yang mencakup pelatihan, penerapan kegiatan di sekolah, dan pendampingan.

Rangkaian tersebut menunjukkan bahwa program tidak hanya berfokus pada penyampaian materi. Guru juga memperoleh kesempatan untuk menerapkan metode yang dipelajari dalam kegiatan sekolah, dengan pendampingan sebagai bagian dari proses pelaksanaan.

Penerapan di sekolah menjadi tahapan penting karena kebutuhan pembelajaran siswa penyandang disabilitas dapat berbeda-beda. Metode yang digunakan perlu disesuaikan dengan karakteristik siswa dan lingkungan belajar agar setiap peserta memiliki kesempatan untuk terlibat.

Sementara itu, pendampingan merupakan bagian dari rangkaian program yang dapat membantu guru dalam proses penerapan metode. Meski demikian, informasi yang tersedia tidak merinci durasi pendampingan, frekuensi pertemuan, ataupun indikator yang digunakan untuk menilai perkembangan kompetensi guru.

Jumlah 50 guru dan 23 sekolah memberikan gambaran mengenai cakupan pelatihan. Angka tersebut belum dapat digunakan untuk menyimpulkan bahwa seluruh guru atau sekolah telah menerapkan metode secara permanen, terlebih untuk menggeneralisasi kondisi pendidikan inklusif di seluruh Indonesia.

Evaluasi lanjutan diperlukan untuk mengetahui bagaimana metode digunakan setelah program selesai. Beberapa hal yang relevan untuk ditinjau antara lain konsistensi penerapan, penyesuaian kegiatan terhadap kebutuhan siswa, dan dukungan sekolah dalam mempertahankan metode pembelajaran.

Metode Olahraga Inklusif hingga Literasi Keuangan

Materi MoveNow Unity in Motion mencakup metode olahraga inklusif, pembelajaran partisipatif, literasi keuangan, dan keterampilan hidup atau life skills. Materi tersebut dirancang untuk mendukung kegiatan pembelajaran yang dapat disesuaikan dengan kebutuhan siswa penyandang disabilitas.

Olahraga inklusif menjadi salah satu pendekatan yang digunakan dalam program. Dalam konteks pembelajaran, aktivitas olahraga dapat menjadi ruang bagi siswa untuk bergerak, berinteraksi, dan berpartisipasi dalam kegiatan bersama. Pelaksanaannya tetap perlu mempertimbangkan aksesibilitas, keselamatan, serta kebutuhan setiap peserta.

Pembelajaran partisipatif juga menempatkan keterlibatan siswa sebagai bagian penting dari proses belajar. Guru perlu mempertimbangkan cara penyampaian instruksi, bentuk aktivitas, dan dukungan yang diperlukan agar siswa memperoleh kesempatan berpartisipasi sesuai kemampuannya.

Program ini turut mengintegrasikan literasi keuangan dan keterampilan hidup. Kedua materi tersebut memperluas konteks pembelajaran di luar aktivitas olahraga, meskipun sumber yang tersedia tidak merinci silabus, durasi setiap materi, atau bentuk penilaian yang digunakan.

Integrasi materi tersebut menunjukkan cakupan metode yang diperkenalkan dalam program. Namun, keberadaan suatu materi dalam pelatihan tidak serta-merta membuktikan bahwa siswa telah menguasai keterampilan tertentu. Untuk menilai hasilnya, diperlukan informasi mengenai penerapan materi dan evaluasi pembelajaran.

Bagi guru, tantangan berikutnya adalah menyesuaikan metode dengan situasi nyata di sekolah. Pendekatan yang dipelajari melalui pelatihan perlu diterjemahkan menjadi kegiatan yang relevan dengan kebutuhan siswa, bukan diterapkan secara seragam tanpa mempertimbangkan perbedaan kondisi.

Guru Diharapkan Menerapkan Metode Secara Berkelanjutan

Strategi penguatan kapasitas guru tidak hanya berkaitan dengan materi yang diberikan selama pelatihan, tetapi juga dengan harapan agar metode tersebut dapat digunakan dan dikembangkan setelah rangkaian program berakhir.

Ketua Yayasan Allianz Peduli, Ni Made Daryanti, menyampaikan bahwa guru memegang peran penting dalam menciptakan lingkungan belajar yang inklusif. Ia juga menjelaskan tujuan program dalam memperkuat kapasitas tenaga pendidik agar olahraga dapat dimanfaatkan sebagai sarana pembelajaran.

“Guru memiliki peran penting dalam menciptakan lingkungan belajar yang inklusif dan mendorong setiap siswa untuk berpartisipasi secara aktif. Melalui MoveNow Unity in Motion, kami memperkuat kapasitas guru agar dapat memanfaatkan olahraga sebagai sarana untuk membangun kepercayaan diri, keterampilan sosial, dan kemandirian siswa penyandang disabilitas. Dengan metode yang dapat terus diterapkan dan dikembangkan di sekolah, manfaat program diharapkan menjangkau lebih banyak siswa secara berkelanjutan,” ujar Ni Made Daryanti.

Pernyataan tersebut menegaskan orientasi program pada pengembangan kapasitas guru dan penerapan metode secara berkelanjutan. Guru diharapkan tidak hanya mengikuti pelatihan, tetapi juga dapat menggunakan pengetahuan yang diperoleh untuk menyesuaikan kegiatan pembelajaran dengan kebutuhan siswa.

Meski demikian, keberlanjutan penerapan metode perlu dibedakan dari harapan program. Untuk mengetahui apakah metode benar-benar digunakan setelah pelatihan, dibutuhkan evaluasi yang meninjau praktik guru di sekolah dan dukungan yang tersedia bagi mereka.

Keberlanjutan juga tidak hanya bergantung pada individu guru. Lingkungan sekolah, ketersediaan sarana yang sesuai, dukungan rekan kerja, serta kesempatan melakukan evaluasi dapat menjadi aspek yang relevan dalam mempertahankan praktik pembelajaran inklusif.

Dengan demikian, pelatihan dapat dipahami sebagai salah satu tahap dalam proses pengembangan kapasitas. Hasil jangka panjangnya perlu dilihat dari penerapan metode dan perubahan pembelajaran yang dapat diamati, bukan semata-mata dari jumlah peserta yang telah mengikuti program.

Halaman:
Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.