Akurat Logo

Mengapa Oktober Disebut Bulan Bahasa? Ini Sejarah dan Maknanya

Redaksi Akurat | 10 Oktober 2026, 07:36 WIB
Mengapa Oktober Disebut Bulan Bahasa? Ini Sejarah dan Maknanya
Mengapa Oktober Disebut Bulan Bahasa? Ini Sejarah dan Maknanya

AKURAT.CO Oktober dikenal sebagai Bulan Bahasa dan Sastra di Indonesia.

Setiap tahun, berbagai sekolah, perguruan tinggi, dan lembaga kebahasaan menggelar kegiatan untuk memperingati momentum tersebut. Kegiatan yang diselenggarakan beragam, mulai dari lomba menulis puisi, membaca cerpen, berpidato, hingga diskusi mengenai penggunaan bahasa Indonesia.

Namun, mengapa Oktober disebut sebagai Bulan Bahasa? Penetapan bulan ini berkaitan erat dengan salah satu peristiwa bersejarah dalam perjalanan bangsa Indonesia, yakni Sumpah Pemuda yang diperingati setiap 28 Oktober.

Sumpah Pemuda bukan hanya menjadi simbol persatuan pemuda dari berbagai daerah, tetapi juga menegaskan kedudukan bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan. Semangat inilah yang kemudian menjadi landasan penyelenggaraan Bulan Bahasa dan Sastra setiap Oktober.

Baca Juga: Rayakan Sumpah Pemuda, Biruni Foundation Ajak Anak-anak di Tepi Kali Ciliwung Berani Bermimpi dan Cinta Belajar

Mengapa Oktober Disebut Bulan Bahasa?

Oktober disebut Bulan Bahasa karena bertepatan dengan peringatan Sumpah Pemuda pada 28 Oktober 1928.

Dalam ikrar tersebut, para pemuda Indonesia menyatakan tekad untuk menjunjung bahasa persatuan, yaitu bahasa Indonesia.

Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah, menjelaskan bahwa kegiatan Bulan Bahasa dan Sastra telah diselenggarakan secara rutin setiap Oktober sejak 1980. Kegiatan ini menjadi salah satu upaya untuk membina dan mengembangkan bahasa serta sastra Indonesia.

Dengan demikian, penetapan Oktober sebagai Bulan Bahasa tidak terlepas dari makna historis Sumpah Pemuda. Bulan ini menjadi momentum untuk mengingat kembali peran bahasa Indonesia dalam membangun identitas nasional sekaligus mendorong masyarakat agar semakin menghargai bahasa dan sastra.

Peringatan tersebut juga tidak hanya ditujukan kepada pelajar atau kalangan akademisi. Masyarakat luas dapat berpartisipasi melalui berbagai kegiatan yang mendorong penggunaan bahasa Indonesia secara baik, pengembangan kemampuan literasi, serta pelestarian karya sastra.

Sejarah Bulan Bahasa dan Sastra Indonesia

Bulan Bahasa dan Sastra Indonesia mulai diselenggarakan secara rutin pada 1980. Penyelenggaraannya berkaitan dengan upaya pemerintah untuk menghidupkan semangat Sumpah Pemuda melalui kegiatan kebahasaan dan kesastraan.

Menurut Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, kegiatan tersebut kemudian menjadi agenda tahunan yang berlangsung setiap Oktober. Tujuannya tidak sebatas memperingati peristiwa bersejarah, tetapi juga memperkuat pembinaan dan pengembangan bahasa serta sastra Indonesia.

Seiring perkembangannya, Bulan Bahasa dan Sastra diselenggarakan oleh berbagai lembaga, termasuk sekolah, perguruan tinggi, komunitas literasi, dan instansi pemerintah. Bentuk kegiatannya pun semakin beragam, menyesuaikan kebutuhan masyarakat serta perkembangan dunia pendidikan dan komunikasi.

Melalui kegiatan tersebut, masyarakat diharapkan tidak hanya mengenal sejarah bahasa Indonesia, tetapi juga memahami pentingnya menjaga kualitas penggunaannya dalam kehidupan sehari-hari.

Hubungan Bulan Bahasa dengan Sumpah Pemuda 1928

Untuk memahami alasan Oktober diperingati sebagai Bulan Bahasa, penting untuk melihat kembali peristiwa Kongres Pemuda II pada 27–28 Oktober 1928.

Pada masa itu, Indonesia masih berada di bawah penjajahan Belanda. Berbagai organisasi pemuda dari latar belakang daerah dan kelompok yang berbeda mulai menyadari pentingnya persatuan untuk memperjuangkan cita-cita kebangsaan.

Kongres Pemuda II menjadi salah satu momentum penting dalam proses tersebut. Para peserta membahas gagasan mengenai persatuan tanah air, bangsa, dan bahasa. Hasilnya kemudian dikenal sebagai Sumpah Pemuda.

Museum Sumpah Pemuda mencatat tiga pokok ikrar tersebut, yaitu pengakuan terhadap satu tanah air, satu bangsa, dan bahasa persatuan, yakni bahasa Indonesia.

Ikrar ketiga memiliki arti penting dalam perkembangan bahasa Indonesia. Para pemuda dari berbagai latar belakang menyepakati bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan, meskipun masyarakat Nusantara memiliki beragam bahasa daerah.

Keputusan tersebut memperlihatkan bahwa persatuan bangsa tidak harus menghapus perbedaan budaya maupun bahasa daerah. Sebaliknya, diperlukan bahasa bersama yang dapat menjembatani komunikasi antarkelompok masyarakat.

Perlu dipahami bahwa Sumpah Pemuda menegaskan bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan, bukan menetapkannya sebagai bahasa negara secara formal pada 1928. Kedudukan bahasa Indonesia sebagai bahasa negara kemudian ditegaskan dalam Pasal 36 Undang-Undang Dasar 1945.

Karena itulah, Sumpah Pemuda menjadi tonggak penting dalam sejarah bahasa Indonesia sekaligus alasan utama Oktober diperingati sebagai Bulan Bahasa dan Sastra.

Apa Tujuan Peringatan Bulan Bahasa?

Peringatan Bulan Bahasa dan Sastra memiliki sejumlah tujuan yang berkaitan dengan pengembangan kemampuan berbahasa, pelestarian sastra, serta penguatan identitas bangsa.

1. Meningkatkan kecintaan terhadap bahasa Indonesia

Bulan Bahasa menjadi momentum untuk meningkatkan kebanggaan masyarakat terhadap bahasa Indonesia. Penggunaannya tidak hanya diperlukan dalam komunikasi sehari-hari, tetapi juga dalam pendidikan, pemerintahan, media massa, dan berbagai bidang profesional.

2. Mendorong penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar

Melalui kegiatan kebahasaan, masyarakat dapat meningkatkan pemahaman mengenai tata bahasa, ejaan, pemilihan kata, serta penyusunan kalimat yang efektif. Hal ini penting agar komunikasi berlangsung dengan jelas dan sesuai konteks.

3. Mengembangkan minat terhadap sastra

Bulan Bahasa juga memberikan ruang bagi masyarakat untuk mengenal dan mengapresiasi karya sastra. Kegiatan seperti membaca puisi, menulis cerpen, membuat esai, dan mendiskusikan buku dapat membantu meningkatkan kreativitas serta kemampuan literasi.

4. Memperkuat persatuan bangsa

Bahasa Indonesia berfungsi sebagai alat komunikasi yang menghubungkan masyarakat dari berbagai suku dan daerah. Dengan memahami sejarahnya, masyarakat diharapkan dapat menghargai bahasa sebagai salah satu unsur pemersatu bangsa.

5. Mendorong pelestarian bahasa daerah

Pengembangan bahasa Indonesia tidak berarti mengesampingkan bahasa daerah. Indonesia memiliki kekayaan bahasa yang menjadi bagian penting dari identitas dan kebudayaan masyarakat. Oleh karena itu, pelestarian bahasa daerah juga perlu berjalan seiring dengan penguatan bahasa Indonesia.

Baca Juga: Puan Maharani: Sumpah Pemuda Momentum Refleksi Peran Generasi Muda dalam Menjaga Demokrasi

Contoh Kegiatan untuk Memperingati Bulan Bahasa

Bulan Bahasa dan Sastra dapat diperingati melalui berbagai kegiatan yang melibatkan pelajar, mahasiswa, komunitas, maupun masyarakat umum.

Di lingkungan sekolah dan perguruan tinggi, kegiatan yang sering diselenggarakan antara lain lomba membaca puisi, menulis cerpen, berpidato, berdebat, dan membaca berita. Kegiatan tersebut dapat menjadi sarana untuk melatih kemampuan berbahasa sekaligus meningkatkan kepercayaan diri peserta.

Selain perlombaan, diskusi sastra, bedah buku, seminar kebahasaan, serta lokakarya penulisan juga dapat menjadi pilihan. Melalui kegiatan tersebut, peserta dapat memperdalam pemahaman tentang bahasa Indonesia dan mengenal perkembangan karya sastra.

Di era digital, peringatan Bulan Bahasa juga dapat dilakukan melalui pembuatan konten edukatif di media sosial, seperti video tentang penggunaan kata baku, ulasan buku, atau penjelasan mengenai kesalahan ejaan yang sering ditemukan dalam tulisan.

Media massa dan komunitas literasi juga dapat berperan dengan menerbitkan artikel, menyelenggarakan diskusi, atau mengampanyekan penggunaan bahasa Indonesia yang jelas dan mudah dipahami.

Berbagai kegiatan tersebut menunjukkan bahwa Bulan Bahasa tidak harus dirayakan melalui acara besar. Upaya sederhana, seperti membiasakan diri membaca, menulis, dan menggunakan bahasa Indonesia secara tepat, juga dapat menjadi bagian dari peringatannya.

Pentingnya Menjaga Bahasa Indonesia di Era Digital

Perkembangan teknologi dan media sosial telah mengubah cara masyarakat berkomunikasi. Penggunaan bahasa singkatan, istilah asing, dan ragam bahasa informal semakin mudah ditemukan dalam percakapan digital.

Penggunaan ragam bahasa informal sebenarnya merupakan bagian dari dinamika komunikasi. Namun, masyarakat tetap perlu memahami konteks penggunaannya, terutama ketika menulis dokumen resmi, karya ilmiah, berita, atau informasi publik.

Dalam dunia jurnalistik, misalnya, penggunaan bahasa yang jelas, efektif, dan sesuai kaidah membantu pembaca memahami informasi secara akurat. Pemilihan kata yang tepat juga dapat mengurangi risiko kesalahpahaman.

Di sisi lain, bahasa Indonesia perlu terus dikembangkan agar mampu mengikuti kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. Pengembangan istilah serta peningkatan kualitas literasi menjadi bagian penting dari upaya tersebut.

Peringatan Bulan Bahasa dan Sastra dapat dimanfaatkan untuk membangun kesadaran bahwa menjaga bahasa Indonesia bukan berarti menolak bahasa asing atau ragam bahasa baru. Hal yang lebih penting adalah memiliki kemampuan menggunakan bahasa sesuai kebutuhan, tanpa mengabaikan kaidah dan konteks komunikasi.

Oktober disebut Bulan Bahasa dan Sastra karena berkaitan erat dengan peringatan Sumpah Pemuda pada 28 Oktober 1928. Ikrar untuk menjunjung bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan menjadi salah satu tonggak penting dalam pembentukan identitas nasional.

Sejak 1980, Bulan Bahasa dan Sastra diselenggarakan secara rutin untuk membina dan mengembangkan bahasa serta sastra Indonesia. Peringatan ini sekaligus menjadi kesempatan bagi masyarakat untuk meningkatkan kemampuan literasi, mengapresiasi karya sastra, dan menjaga keberagaman bahasa di Indonesia.

Dengan demikian, makna Bulan Bahasa tidak hanya terletak pada kegiatan seremonial setiap Oktober. Lebih dari itu, momentum ini mengingatkan masyarakat bahwa bahasa merupakan bagian penting dari identitas bangsa yang perlu dirawat dan dikembangkan dalam kehidupan sehari-hari.

Taqiyuddin Abdurrahman Leboe (Magang)

 

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

R
R