Akurat Logo

Apa Isi Perjanjian Konferensi Meja Bundar dan Latar Belakang yang Perlu Diketahui

Redaksi Akurat | 3 Oktober 2026, 16:44 WIB
Apa Isi Perjanjian Konferensi Meja Bundar dan Latar Belakang yang Perlu Diketahui
Konferensi Meja Bundar

AKURAT.CO Konferensi Meja Bundar adalah momen diplomasi krusial dalam sejarah kemerdekaan Indonesia yang menciptakan kesepakatan antara Indonesia dan Belanda. Memahami inti dari persetujuan Konferensi Meja Bundar dan mengapa hal itu terjadi sangat penting untuk memahami bagaimana Indonesia diakui merdeka.

Pertemuan di Den Haag ini mengakhiri pertikaian panjang antara Indonesia dan Belanda, dan menjadi momen penting dalam hubungan antar negara. Kesepakatan ini mempunyai pengaruh besar dalam waktu yang lama pada hubungan kedua negara dan kondisi politik Indonesia.

Baca Juga: Isi Konferensi Meja Bundar dan Dampaknya bagi Indonesia

Latar Belakang Konferensi Meja Bundar

Konferensi Meja Bundar tidak terjadi secara tiba-tiba, tetapi karena banyak kejadian dan tekanan dari berbagai negara yang rumit.

Serangan Militer Belanda dan Tanggapan Negara Lain

Belanda melakukan dua serangan militer ke Indonesia pada tahun 1947 dan 1948 yang sangat dikritik oleh banyak negara. Serangan militer I pada bulan Juli 1947 dan Serangan Tentara II pada bulan Desember 1948 membuat PBB dan negara-negara penting marah.

Tekanan dari banyak negara yang memaksa Belanda untuk berunding:

  • Keputusan Dewan Keamanan PBB yang menyalahkan serangan Belanda

  • Ancaman dari Amerika Serikat untuk menghentikan bantuan Marshall Plan

  • Dukungan dari banyak negara untuk kemerdekaan Indonesia

  • Kondisi ekonomi Belanda yang memburuk karena perang

Peran Amerika Serikat dan PBB

Amerika Serikat sangat berperan dalam mencapai penyelesaian masalah Indonesia-Belanda dengan cara damai. Pemerintah AS mengancam akan menghentikan bantuan ekonomi Marshall Plan jika Belanda tidak menghentikan serangan militernya

PBB melalui Komisi Tiga Negara (KTN) yang terdiri dari Australia, Belgia, dan Amerika Serikat membantu melakukan perundingan damai. Tekanan ini membuat Belanda mengubah cara menyerang menjadi kejam.

Pelaksanaan Konferensi Meja Bundar

Konferensi Meja Bundar diadakan di Ridderzaal, Den Haag, Belanda mulai tanggal 23 Agustus sampai 2 November 1949.

Delegasi Yang Terlibat

Konferensi ini melibatkan tiga delegasi utama dengan tujuan yang berbeda:

Delegasi Indonesia:

Dipimpin oleh Mohammad Hatta

Anggota: Sultan Hamengkubuwono IX, Mr. Supomo, Dr. Leimena

Mewakili Republik Indonesia Serikat (RIS)

Perwakilan Belanda:

Delegasi Belanda:

Dipimpin oleh Mr. Van Maarseveen

Mewakili pemerintahan Kerajaan Belanda

Ditemani oleh penasihat militer dan ekonomi

Perwakilan Bijeenkomst voor Federaal Overleg (BFO):

Delegasi Bijeenkomst voor Federaal Overleg (BFO):

Mewakili negara-negara bagian yang dibuat Belanda

Dipimpin oleh Sultan Hamid II dari Pontianak

Peran Komisi PBB untuk Indonesia (UNCI)

Peran Komisi PBB untuk Indonesia (UNCI)

UNCI berperan sebagai penengah yang adil dalam perundingan. Komisi ini memastikan bahwa semua pihak dapat menyampaikan pendapatnya dengan adil dan berjalan sesuai aturan internasional.

Isi Perjanjian Konferensi Meja Bundar

Perjanjian yang di tanda tangani pada tanggal 2 November 1949 berisi beberapa poin penting yang mengubah status Indonesia di mata internasional

Pengakuan Kedaulatan Indonesia

Poin penting dari persetujuan ini adalah pengakuan kemerdekaan penuh dan tanpa syarat dari Belanda kepada Republik Indonesia Serikat. Pengakuan ini dimulai pada tanggal 27 Desember 1949 dan berakhir dengan status Indonesia sebagai negara yang dijajah.

Belanda mengakui RIS sebagai negara yang berdaulat dan merdeka, dengan wilayah meliputi seluruh bekas Hindia Belanda kecuali Irian Barat (Papua).

Bentuk Negara Republik Indonesia Serikat

Persetujuan ditetapkan bahwa Indonesia akan berbentuk negara persatuan (federasi) dengan nama Republik Indonesia Serikat. Susunan federasi ini terdiri dari:

  • Republik Indonesia sebagai sebuah negara bagian

  • 15 negara lain yang dibuat oleh belanda

  • Pemerintah federal dengan presiden sebagai pemimpin negara

  • Sistem parlementer dengan perdana menteri sebagai pemimpin pemerintah

  • Masalah wilayah Irian Barat

Salah satu hal yang paling banyak diperdebatkan dalam itu adalah soal wilayah Papua barat yang saat itu masih Belanda. Dalam perjanjian itu dijelaskan bahwa status wilayah Papua barat akan dibahas dalam perundingan antara Indonesia dan Belanda paling lambat setahun kemudian.

Keputusan ini menyebabkan masalah yang terus terjadi antara kedua negara sampai akhirnya Papua Barat menjadi bagian dari Indonesia pada tahun 1969 melalui cara yang disebut Penentuan Pendapat Rakyat (Pepera).

Kesepakatan tentang Ekonomi dan Keuangan

Masalah ekonomi menjadi hal penting dalam perjanjian yang sangat menguntungkan Belanda.

Pembagian Utang Hindia Belanda

Indonesia setuju untuk membayar utang pemerintah Hindia Belanda sebanyak 4,3 miliar gulden. Tanggungan utang ini lalu jadi masalah ekonomi yang cukup besar bagi Indonesia di masa awal setelah kemerdekaan.

Hak-hak Ekonomi Pihak Belanda

Perjanjian itu memberikan jaminan perlindungan pada investasi dan kepentingan ekonomi Belanda di Indonesia. Perusahaan dari Belanda tetap boleh beroperasi dan mendapat jaminan keamanan dari pemerintah Indonesia.

Tanggapan dan Perdebatan

Perjanjian yang dihasilkan dari Konferensi Meja Bundar menimbulkan berbagai reaksi dari banyak orang di Indonesia.

Dukungan dan Kritik

Orang yang setuju dengan perjanjian itu berpikir bahwa cara diplomasi lebih baik daripada terus melakukan perang. Mohammad Hatta sebagai pemimpin delegasi yakin bahwa perjanjian itu memberikan pengakuan internasional yang sangat dibutuhkan Indonesia.

Namun, banyak kelompok nasionalis yang mengkritik beberapa hal dalam perjanjian itu, terutama:

Ide negara serikat yang dianggap tidak sesuai dengan tujuan kemandirian

Masalah tentang wilayah Papua Barat yang belum bisa diselesaikan

Beban utang dari pemerintah Hindia Belanda yang membuat kondisi keuangan negara menjadi berat

Penerapan dan Perubahan

Negara RIS hanya bisa bertahan sekitar delapan bulan sebelum akhirnya dibubarkan pada Agustus 1950. Lalu, Indonesia kembali menggunakan bentuk negara kesatuan sesuai dengan UUD 1945, yang menunjukkan bahwa sistem federal tidak cocok dengan keadaan dan keinginan Indonesia.

Dampak Jangka Panjang dari Perjanjian

Konferensi Meja Bundar memberikan pengaruh yang cukup besar terhadap perkembangan Indonesia sebagai negara yang merdeka.

Pengakuan di Seluruh Dunia

Perjanjian ini membuka jalan bagi pengakuan kemerdekaan Indonesia oleh negara-negara lain. Negara-negara di dunia mulai mengakui Indonesia sebagai negara yang merdeka dan berdaulat.

Pelajaran dalam Hal Diplomasi

Konferensi ini menjadi tempat belajar diplomasi yang sangat penting bagi para pemimpin Indonesia. Pengalaman berunding dengan negara penjajah memberikan ilmu yang sangat berharga dalam menjalin hubungan internasional.

Hasil dari kesepakatan Konferensi Meja Bundar antara lain menerima kemerdekaan Indonesia, menjadikan Republik Indonesia Serikat sebagai negara kesatuan, menangani masalah keuangan, dan beberapa rencana terperinci lainnya.

Menilik kembali konferensi tersebut, jelas bahwa pemikiran negara-negara lain dan apa yang terjadi di seluruh dunia sangat membantu tercapainya akhir yang damai bagi pertempuran antara Indonesia dan Belanda.

Meskipun kesepakatan tersebut diwarnai oleh beberapa tarik-ulur yang sulit, kesepakatan tersebut berhasil mengakhiri status koloni Indonesia dan membuat negara-negara lain menganggapnya sebagai bangsa sendiri.

Konferensi Meja Bundar menunjukkan bahwa berunding dapat menjadi cara yang baik untuk menyelesaikan perselisihan antarnegara, dan juga memberikan pelajaran penting tentang bagaimana berunding merupakan kunci bagi suatu negara untuk mendapatkan apa yang diinginkannya secara politik.

Tia Ayulia (Magang)

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

R
R