Akurat Logo

Mitos Gerhana Bulan: Benarkah Berbahaya bagi Manusia dan Ibu Hamil?

Idham Nur Indrajaya | 25 Agustus 2026, 10:33 WIB
Mitos Gerhana Bulan: Benarkah Berbahaya bagi Manusia dan Ibu Hamil?
Mitos gerhana bulan masih dipercaya. Simak fakta soal kesehatan, ibu hamil, mental, nyamuk, pasang laut, dan blood moon. - Ilustrasi: Gemini Google

AKURAT.CO Bulan yang berubah menjadi merah saat gerhana bulan total memang terlihat dramatis. Tak heran jika sejak dulu fenomena ini sering dikaitkan dengan berbagai kepercayaan, mulai dari kesehatan manusia, kehamilan, kondisi mental, hingga perubahan perilaku hewan.

Namun, tidak semua cerita tersebut dapat dibuktikan secara ilmiah. Mitos gerhana bulan perlu dipisahkan dari fakta agar masyarakat tidak salah memahami fenomena astronomi yang sebenarnya dapat diamati dengan aman.

Ringkasan

Sebagian besar mitos gerhana bulan yang mengaitkannya dengan gangguan kesehatan manusia, kehamilan, atau kesehatan mental tidak memiliki bukti ilmiah yang memadai. Di sisi lain, beberapa fenomena yang terjadi ketika gerhana berlangsung memang nyata, tetapi sering disalahartikan sebagai dampak langsung dari gerhana.

Beberapa poin pentingnya adalah:

  • Gerhana bulan tidak terbukti menyebabkan gangguan kesehatan manusia.

  • Ibu hamil tidak terbukti mengalami risiko khusus akibat gerhana bulan.

  • Melihat gerhana bulan dengan mata telanjang aman bagi mata.

  • Gerhana bulan tidak terbukti menyebabkan gangguan mental.

  • Pasang surut air laut berkaitan dengan gravitasi Bulan dan Matahari, bukan semata-mata karena gerhana.

  • Ada penelitian yang mengamati perubahan pada nyamuk saat gerhana, tetapi temuannya tidak boleh digeneralisasi secara berlebihan.

  • Bulan tidak selalu terlihat merah saat gerhana bulan total.

Hal penting yang perlu dipahami adalah fenomena yang terjadi bersamaan belum tentu disebabkan oleh gerhana bulan. Prinsip ini membantu membedakan fakta astronomi dari mitos yang berkembang di masyarakat.

Apakah gerhana bulan berdampak pada kesehatan manusia?

Salah satu mitos gerhana bulan yang paling sering muncul adalah anggapan bahwa fenomena ini dapat mengganggu kesehatan manusia. Sampai saat ini, tidak ada bukti ilmiah yang memadai untuk menyatakan bahwa gerhana bulan secara langsung menyebabkan penyakit atau gangguan kesehatan tertentu.

Gerhana bulan pada dasarnya merupakan fenomena ketika Bumi berada di antara Matahari dan Bulan. Posisi tersebut membuat Bulan memasuki bayangan Bumi sehingga cahaya yang diterimanya berubah dan penampakannya dari Bumi menjadi berbeda.

Perubahan posisi benda langit tersebut tidak berarti tubuh manusia tiba-tiba menerima sesuatu yang berbahaya.

Ada pula kesalahpahaman mengenai keamanan mata. Sebagian orang menyamakan gerhana bulan dengan gerhana matahari sehingga mengira diperlukan alat pelindung khusus untuk melihat Bulan.

Padahal, keduanya berbeda.

Gerhana matahari melibatkan pengamatan terhadap Matahari sehingga melihatnya secara langsung tanpa perlindungan yang tepat dapat menyebabkan cedera pada retina. Sementara itu, gerhana bulan dapat diamati dengan mata telanjang.

Jadi, masyarakat yang ingin menyaksikan gerhana bulan tidak perlu khawatir matanya rusak hanya karena melihat Bulan secara langsung.

Meski demikian, keselamatan tetap perlu diperhatikan. Gerhana berlangsung pada malam hari dan kondisi lingkungan yang gelap dapat membuat seseorang tersandung, terutama jika menonton di halaman, lapangan, atau lokasi terbuka yang minim penerangan.

Artinya, risiko praktis saat mengamati gerhana justru lebih berkaitan dengan kondisi tempat pengamatan, bukan sinar Bulan saat gerhana.

Benarkah gerhana bulan berbahaya bagi ibu hamil?

Mitos gerhana bulan juga kerap dikaitkan dengan kehamilan. Salah satu kepercayaan yang berkembang adalah ibu hamil tidak boleh melihat atau keluar rumah ketika gerhana berlangsung karena dikhawatirkan dapat memengaruhi janin.

Ada pula anggapan bahwa bayi yang lahir bertepatan dengan gerhana bulan berisiko mengalami kelainan.

Klaim tersebut tidak memiliki dasar ilmiah yang memadai.

Tidak ada bukti bahwa gerhana bulan menyebabkan kelainan janin hanya karena seorang ibu hamil menyaksikan fenomena tersebut. Kondisi kehamilan tetap lebih berkaitan dengan faktor kesehatan ibu, perkembangan janin, nutrisi, pemeriksaan medis, dan berbagai faktor biologis lainnya.

Karena itu, gerhana bulan tidak perlu diposisikan sebagai ancaman khusus bagi kehamilan.

Menariknya, kepercayaan semacam ini menunjukkan bagaimana fenomena alam yang terlihat tidak biasa dapat dikaitkan dengan peristiwa yang juga dianggap penting dalam kehidupan manusia. Kehamilan dan kelahiran merupakan kondisi yang secara alami membuat seseorang lebih berhati-hati, sehingga kepercayaan yang sudah ada dari generasi sebelumnya dapat semakin kuat.

Apakah gerhana bulan bisa memengaruhi kesehatan mental?

Bulan sejak lama sering dikaitkan dengan perubahan perilaku manusia. Dari sinilah muncul berbagai cerita bahwa seseorang dapat menjadi lebih emosional, agresif, atau mengalami gangguan mental ketika Bulan berada dalam kondisi tertentu.

Namun, gerhana bulan tidak dapat langsung dianggap sebagai penyebab gangguan mental.

Salah satu kekeliruan yang sering terjadi adalah menganggap dua peristiwa yang berlangsung bersamaan pasti memiliki hubungan sebab-akibat. Misalnya, seseorang mengalami tekanan psikologis pada malam gerhana, kemudian gerhana dianggap sebagai penyebabnya.

Padahal, kondisi mental manusia sangat kompleks.

Tekanan pekerjaan, masalah keluarga, kurang tidur, kondisi lingkungan, dan berbagai faktor lain dapat memengaruhi perilaku seseorang. Satu kejadian yang kebetulan berlangsung bersamaan dengan gerhana tidak cukup untuk membuktikan bahwa gerhana menjadi penyebabnya.

Karena itu, klaim mengenai gerhana bulan dan kesehatan mental sebaiknya tidak diterima begitu saja tanpa bukti penelitian yang kuat.

Baca Juga: Gerhana Matahari 2027: Ada 'Cincin Api' dan Gerhana Total hingga 6 Menit

Baca Juga: Apa Itu Gerhana Matahari Total? Ini Pengertian dan Proses Terjadinya

Benarkah nyamuk bertambah banyak ketika gerhana bulan?

Klaim tentang nyamuk sedikit berbeda dari mitos kesehatan karena terdapat penelitian yang mengamati perubahan pada serangga ketika terjadi gerhana bulan.

Dalam penelitian di rawa pesisir Chambers County yang disebut dalam narasi sumber, kelompok nyamuk dari spesies Aedes, Anopheles, Culex, dan Psorophora dilaporkan mengalami peningkatan selama gerhana bulan, kemudian menurun ketika kondisi kembali ke fase bulan purnama.

Temuan tersebut menarik, tetapi perlu dibaca secara hati-hati.

Hasil sebuah penelitian pada lokasi dan kondisi tertentu tidak otomatis berarti gerhana bulan akan selalu membuat jumlah nyamuk meningkat di setiap daerah. Ada banyak faktor lain yang memengaruhi populasi dan aktivitas nyamuk, termasuk habitat, genangan air, kelembapan, suhu, dan karakteristik masing-masing spesies.

Dengan kata lain, lebih tepat mengatakan bahwa ada penelitian yang mengamati perubahan tertentu pada nyamuk selama gerhana, bukan menyimpulkan bahwa gerhana bulan secara universal menyebabkan ledakan populasi nyamuk.

Bagi masyarakat, langkah pencegahan yang paling masuk akal tetap sama: menjaga kebersihan lingkungan, menghilangkan genangan air, dan mencegah tempat berkembang biak nyamuk.

Apakah gerhana bulan menyebabkan pasang surut air laut?

Hubungan antara gerhana bulan dan air laut juga sering disalahartikan.

Pasang surut air laut memang dipengaruhi oleh gaya gravitasi Bulan dan Matahari. Posisi relatif ketiga benda langit tersebut memengaruhi bagaimana air laut mengalami pasang dan surut.

Namun, gerhana bulan bukan penyebab tunggal pasang surut air laut.

Gerhana terjadi karena konfigurasi posisi Bumi, Bulan, dan Matahari menyebabkan Bulan masuk ke dalam bayangan Bumi. Sementara itu, pasang surut merupakan fenomena gravitasi yang terjadi secara berkala.

Jadi, ketika gerhana bulan terjadi bersamaan dengan kondisi pasang tertentu, bukan berarti gerhana tersebut menjadi tombol yang membuat air laut tiba-tiba naik.

Ini merupakan contoh sederhana mengapa hubungan waktu harus dibedakan dari hubungan sebab-akibat.

Bagi masyarakat pesisir, informasi mengenai kondisi pasang sebaiknya tetap mengacu pada data dan prakiraan kelautan resmi. Jangan menggunakan keberadaan gerhana sebagai satu-satunya indikator untuk memperkirakan kondisi air laut.

Apakah gerhana bulan menyebabkan perubahan suhu atau iklim?

Ketika gerhana bulan berlangsung, cahaya alami di malam hari memang berubah. Bulan yang sebelumnya terlihat terang dapat menjadi jauh lebih redup ketika memasuki bayangan Bumi.

Namun, perubahan pencahayaan tersebut tidak berarti gerhana bulan menyebabkan perubahan iklim.

Suhu udara dipengaruhi oleh banyak faktor, seperti tutupan awan, kelembapan, angin, kondisi permukaan, dan waktu. Berkurangnya cahaya Bulan selama gerhana tidak dapat dijadikan alasan bahwa iklim atau suhu suatu wilayah akan berubah secara signifikan.

Di sinilah gerhana bulan kembali sering tertukar dengan gerhana matahari. Gerhana matahari terjadi pada siang hari ketika Bulan menghalangi cahaya Matahari ke wilayah tertentu di Bumi. Kondisi tersebut memang dapat menyebabkan perubahan pencahayaan dan suhu lokal dalam situasi tertentu.

Gerhana bulan memiliki mekanisme yang berbeda.

Mengapa Bulan bisa berwarna merah saat gerhana?

Salah satu bagian paling menarik dari gerhana bulan total adalah perubahan warna Bulan. Fenomena ini sering disebut blood moon karena Bulan dapat terlihat merah atau jingga.

Ketika Bulan memasuki bayangan Bumi, sebagian cahaya Matahari masih dapat mencapai permukaannya setelah melewati atmosfer Bumi. Atmosfer kemudian memengaruhi cahaya tersebut sehingga warna kemerahan dapat lebih dominan.

Namun, anggapan bahwa Bulan selalu berwarna merah adalah mitos.

Penampakan Bulan saat gerhana dapat berbeda-beda. Dalam kondisi tertentu, Bulan bisa tampak merah terang, merah tua, jingga, kecokelatan, bahkan sangat gelap.

Kondisi atmosfer di sekitar Bumi menjadi salah satu faktor yang memengaruhi penampakan tersebut. Debu dan aerosol di atmosfer, misalnya, dapat memengaruhi bagaimana cahaya diteruskan hingga mencapai Bulan dan kemudian kembali menuju mata pengamat.

Karena itu, dua gerhana bulan yang diamati pada waktu berbeda tidak selalu menghasilkan warna yang identik.

Mengapa mitos gerhana bulan bisa bertahan lama?

Gerhana bulan merupakan fenomena yang mudah memancing perhatian karena penampakannya sangat berbeda dari malam biasa. Bulan yang biasanya terang dapat berubah menjadi gelap atau kemerahan dalam waktu tertentu.

Bagi masyarakat pada masa ketika mekanisme astronomi belum dipahami secara luas, perubahan tersebut dapat dianggap sebagai pertanda.

Mitos kemudian dapat bertahan karena diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Ketika seseorang memiliki pengalaman tertentu yang kebetulan terjadi bersamaan dengan gerhana, pengalaman itu juga dapat memperkuat keyakinannya.

Misalnya, seseorang melihat gerhana ketika air laut sedang tinggi. Karena kedua kejadian berlangsung pada waktu yang berdekatan, ia mungkin menyimpulkan bahwa gerhana menyebabkan air laut naik.

Padahal, pasang surut memiliki mekanisme gravitasi tersendiri.

Hal serupa dapat terjadi pada kesehatan. Seseorang yang kebetulan sakit pada malam gerhana mungkin menganggap penyakit tersebut berkaitan dengan gerhana. Tanpa penelitian yang membandingkan kondisi secara sistematis, pengalaman pribadi seperti itu tidak cukup untuk membuktikan hubungan sebab-akibat.

Inilah salah satu pelajaran penting dari gerhana bulan: sesuatu yang terjadi bersamaan belum tentu saling menyebabkan.

Mitos atau fakta? Ini ringkasannya

Klaim

Status

Penjelasan

Gerhana bulan berbahaya bagi kesehatan manusia

Mitos/tidak terbukti

Tidak ada bukti memadai bahwa gerhana bulan secara langsung membahayakan tubuh

Melihat gerhana bulan merusak mata

Mitos

Gerhana bulan dapat diamati dengan mata telanjang

Gerhana bulan berbahaya bagi ibu hamil

Mitos

Tidak ada dasar ilmiah bahwa gerhana menyebabkan gangguan kehamilan

Gerhana bulan menyebabkan penyakit mental

Tidak terbukti

Tidak ada dasar kuat untuk menjadikannya penyebab gangguan mental

Gerhana bulan berkaitan dengan pasang surut

Fakta dengan konteks

Pasang dipengaruhi gravitasi Bulan dan Matahari

Nyamuk berubah saat gerhana

Perlu konteks

Penelitian tertentu mengamati perubahan, tetapi hasilnya tidak dapat digeneralisasi begitu saja

Bulan selalu berwarna merah

Mitos

Warna gerhana dapat bervariasi sesuai kondisi atmosfer dan pengamatan

Apa yang perlu diperhatikan saat menyaksikan gerhana bulan?

Gerhana bulan justru dapat menjadi kesempatan menarik untuk mengamati fenomena astronomi tanpa peralatan rumit.

Beberapa hal yang perlu diingat:

  • Gerhana bulan aman diamati dengan mata telanjang.

  • Tidak ada bukti memadai bahwa gerhana bulan membahayakan ibu hamil.

  • Jangan menyamakan gerhana bulan dengan gerhana matahari dalam hal keamanan mata.

  • Pasang surut tidak terjadi semata-mata karena gerhana.

  • Warna Bulan saat gerhana tidak selalu merah.

  • Penelitian tentang perubahan perilaku hewan perlu dibaca sesuai konteksnya.

  • Pastikan lokasi pengamatan aman dan memiliki penerangan yang cukup.

Baca Juga: Gerhana Bulan 2026 Bisa Disaksikan 3 Miliar Orang, Ini Wilayah yang Beruntung

Baca Juga: Ada Gerhana Bulan Sebagian Akhir Agustus 2026, Ini Daftar Wilayah yang Bisa Melihat

FAQ

Apakah gerhana bulan berbahaya bagi manusia?

Gerhana bulan tidak terbukti secara ilmiah menyebabkan gangguan kesehatan pada manusia. Fenomena ini juga aman diamati dengan mata telanjang. Hal yang justru perlu diperhatikan adalah keselamatan lokasi pengamatan karena gerhana berlangsung pada malam hari.

Apakah ibu hamil boleh melihat gerhana bulan?

Ibu hamil boleh melihat gerhana bulan. Tidak ada bukti ilmiah yang menunjukkan bahwa melihat gerhana bulan dapat menyebabkan kelainan pada janin atau gangguan kehamilan.

Apakah gerhana bulan bisa merusak mata?

Tidak. Gerhana bulan dapat dilihat langsung tanpa alat pelindung mata khusus. Risiko kerusakan retina lebih berkaitan dengan melihat Matahari secara langsung, seperti saat mengamati gerhana matahari tanpa perlindungan yang tepat.

Apakah gerhana bulan menyebabkan air laut pasang?

Tidak tepat jika pasang surut disebut disebabkan oleh gerhana bulan. Pasang surut terutama dipengaruhi oleh gaya gravitasi Bulan dan Matahari serta posisi relatif benda-benda langit tersebut terhadap Bumi.

Mengapa Bulan berubah menjadi merah saat gerhana?

Bulan dapat terlihat merah ketika gerhana bulan total karena cahaya Matahari melewati atmosfer Bumi sebelum mencapai permukaan Bulan. Warna yang terlihat dapat berbeda-beda bergantung pada kondisi atmosfer dan faktor pengamatan lainnya.

Apakah gerhana bulan memengaruhi kesehatan mental?

Belum ada bukti ilmiah yang memadai untuk menyatakan bahwa gerhana bulan menyebabkan gangguan mental. Kondisi psikologis manusia dipengaruhi banyak faktor sehingga tidak tepat mengaitkannya dengan gerhana hanya berdasarkan waktu terjadinya.

Apakah nyamuk benar-benar bertambah saat gerhana bulan?

Penelitian tertentu memang mengamati perubahan pada beberapa kelompok nyamuk selama gerhana bulan. Namun, temuan tersebut tidak berarti gerhana selalu menyebabkan jumlah nyamuk meningkat di semua wilayah karena kondisi lingkungan dan karakteristik spesies juga berpengaruh.

Gerhana bulan mungkin tampak misterius ketika Bulan berubah menjadi kemerahan di langit malam. Namun, sebagian besar hal yang membuatnya menakutkan justru berasal dari cerita yang berkembang di sekitarnya.

Memahami sains tidak harus membuat fenomena alam kehilangan daya tariknya. Sebaliknya, mengetahui alasan di balik perubahan warna Bulan, hubungan gravitasi dengan pasang surut, serta batas bukti mengenai dampaknya terhadap manusia membuat gerhana semakin menarik untuk diamati.

Jadi, ketika gerhana bulan berikutnya muncul, tidak perlu panik karena berbagai mitos. Nikmati fenomenanya, amati dengan aman, dan tetap bedakan antara apa yang benar-benar terjadi di alam dan apa yang hanya dipercaya manusia.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.