Gerhana Bulan 2026 Bisa Disaksikan 3 Miliar Orang, Ini Wilayah yang Beruntung

AKURAT.CO Bayangkan hampir separuh populasi dunia menatap langit yang sama dan melihat Bulan perlahan “dimakan” bayangan Bumi. Itulah gambaran besar Gerhana Bulan 2026 yang akan berlangsung pada 27–28 Agustus, ketika lebih dari 3 miliar orang berkesempatan menyaksikan setidaknya sebagian fenomena tersebut jika kondisi cuaca mendukung.
Namun, tidak semua orang akan mendapatkan pengalaman yang sama. Amerika berada di posisi paling menguntungkan karena hampir 1 miliar orang di Amerika Serikat, Kanada, Amerika Tengah, dan Amerika Selatan dapat menyaksikan seluruh rangkaian gerhana. Sementara itu, pengamat di Eropa dan Afrika harus mengejar waktu karena Bulan akan terbenam ketika gerhana masih berlangsung.
Ringkasan
Gerhana Bulan 2026 merupakan gerhana Bulan sebagian yang tergolong sangat dalam. Pada saat maksimum gerhana, sekitar 96,3% permukaan piringan Bulan akan berada di dalam umbra, yaitu bagian paling gelap dari bayangan Bumi.
Besarnya cakupan tersebut membuat fenomena ini dapat diamati dari wilayah yang sangat luas. Berdasarkan perhitungan timeanddate, sekitar 3,6 miliar orang atau 44,41% populasi dunia berada di wilayah yang setidaknya dapat melihat fase penumbra. Jika hanya menghitung fase gerhana sebagian, jumlahnya sekitar 3,34 miliar orang atau 41,21% populasi dunia.
Angka tersebut penting karena menunjukkan bahwa “bisa melihat gerhana” sebenarnya memiliki beberapa tingkatan. Sekitar 1,28 miliar orang diperkirakan dapat melihat seluruh fase parsial, sedangkan sekitar 987 juta orang dapat menyaksikan keseluruhan rangkaian sejak fase penumbra dimulai hingga berakhir.
Dengan kata lain, angka 3 miliar bukan berarti seluruh orang tersebut akan melihat Bulan berubah warna selama berjam-jam. Sebagian hanya memperoleh kesempatan melihat bagian tertentu dari prosesnya.
Ini Wilayah yang Paling Beruntung Melihat Gerhana Bulan 2026
Amerika menjadi salah satu kawasan terbaik untuk mengamati Gerhana Bulan 2026. NASA mencatat fenomena ini dapat dilihat dari sebagian besar Amerika Utara dan Amerika Selatan, serta sebagian wilayah Eropa dan Afrika.
Amerika Utara dan Selatan Mendapat Kesempatan Terbaik
Pengamat di kawasan Amerika dapat menyaksikan rangkaian gerhana dalam kondisi yang relatif paling lengkap. Hampir 1 miliar orang di Amerika Serikat, Kanada, Amerika Tengah, dan Amerika Selatan berkesempatan melihat seluruh rangkaian fenomena tersebut.
Waktu pengamatan juga berbeda menurut lokasi. Di Amerika Serikat bagian timur, puncak gerhana terjadi sekitar tengah malam waktu setempat. Sementara di pantai barat, fenomena tersebut berlangsung pada malam hari dan puncaknya terjadi lebih awal.
Perbedaan ini menunjukkan bahwa lokasi geografis tidak hanya menentukan apakah gerhana terlihat, tetapi juga seberapa lengkap pengalaman yang diperoleh pengamat.
Eropa dan Afrika Harus Berpacu dengan Waktu
Pengamat di Eropa dan Afrika tetap berkesempatan menyaksikan gerhana, tetapi tidak selalu dari awal hingga akhir. Di Inggris, misalnya, fase parsial dimulai pada dini hari 28 Agustus dan puncaknya terjadi sekitar pukul 05.10 waktu setempat. Bulan berada dekat dengan cakrawala barat sehingga lokasi dengan pandangan terbuka menjadi penting.
Situasinya berbeda dengan Amerika. Di Eropa, sebagian rangkaian gerhana berlangsung ketika Bulan sedang menuju terbenam.
Karena itu, istilah “terlihat” tidak selalu berarti “terlihat seluruhnya”. Dua orang yang sama-sama berada di wilayah visibilitas dapat memperoleh pengalaman yang berbeda hanya karena posisi geografis dan waktu terbit-terbenam Bulan.
Bagaimana dengan Indonesia?
Bagi pembaca Indonesia, kabar baiknya justru tidak berlaku. Gerhana Bulan 2026 tidak dapat diamati langsung dari Indonesia, termasuk Jakarta, karena seluruh rangkaian fenomena berlangsung ketika Bulan berada di bawah horizon wilayah tersebut. Data untuk Jakarta menunjukkan puncak gerhana secara waktu lokal terjadi sekitar pukul 11.13 WIB pada 28 Agustus, ketika Bulan sudah berada di bawah cakrawala.
NASA mencantumkan wilayah visibilitas gerhana ini meliputi Amerika, Eropa, Afrika, dan kawasan Pasifik timur, bukan Indonesia.
Artinya, meskipun lebih dari 3 miliar orang di dunia memiliki kesempatan mengamati fenomena tersebut, Indonesia bukan bagian dari wilayah yang mendapatkan pertunjukan langsung di langit malam.
Baca Juga: Ada Gerhana Bulan Sebagian Akhir Agustus 2026, Ini Daftar Wilayah yang Bisa Melihat
Baca Juga: Gerhana Matahari 2027: Ada 'Cincin Api' dan Gerhana Total hingga 6 Menit
Mengapa 96% Bulan Tertutup Bayangan tetapi Bukan Gerhana Total?
Di sinilah Gerhana Bulan 2026 menjadi menarik. Sekilas, angka 96,3% membuat fenomena ini tampak seperti gerhana total. Namun, secara astronomis statusnya tetap gerhana Bulan sebagian.
NASA menjelaskan bahwa gerhana Bulan sebagian terjadi ketika posisi Matahari, Bumi, dan Bulan tidak sepenuhnya sejajar sehingga hanya sebagian Bulan yang masuk ke dalam umbra Bumi. Pada gerhana 28 Agustus, sekitar 96,3% piringan Bulan berada di dalam umbra pada saat maksimum, tetapi sebagian kecil Bulan masih berada di luar wilayah bayangan gelap tersebut.
Inilah paradoks yang sering luput dalam pemberitaan: secara visual gerhana ini akan terlihat sangat dekat dengan gerhana total, tetapi secara definisi tetap bukan gerhana total.
Bagian Bulan yang berada di dalam umbra dapat berubah menjadi warna tembaga atau merah-oranye. Warna tersebut muncul karena sebagian cahaya Matahari melewati atmosfer Bumi sebelum mencapai permukaan Bulan. Cahaya dengan panjang gelombang lebih pendek lebih banyak tersebar di atmosfer, sementara warna merah dan oranye lebih mudah mencapai Bulan.
Karena masih ada bagian Bulan yang tidak sepenuhnya masuk umbra, fenomena ini tidak menjadi “blood moon” total seperti yang terjadi pada gerhana Bulan total.
Baca Juga: Gerhana Matahari Total Bikin Spanyol Gelap, Jutaan Orang Berburu Pemandangan Terbaik
Baca Juga: BMKG: Gerhana Matahari Total 12 Agustus Tak Terlihat di Indonesia
Berapa Lama Gerhana Bulan 2026 Berlangsung?
Keseluruhan fenomena berlangsung sekitar 5 jam 38 menit, jika dihitung sejak Bulan mulai memasuki penumbra hingga keluar sepenuhnya. Fase gerhana sebagian sendiri berlangsung sekitar 3 jam 18 menit.
Puncak gerhana terjadi pada sekitar 04.13 UTC pada 28 Agustus, ketika 96,3% piringan Bulan berada di dalam umbra Bumi.
Perbedaan antara durasi 5 jam 38 menit dan 3 jam 18 menit menjelaskan mengapa laporan tentang lama gerhana dapat menggunakan angka berbeda. Durasi yang lebih panjang menghitung fase penumbra, sedangkan durasi yang lebih pendek berfokus pada bagian ketika bayangan gelap Bumi benar-benar terlihat menutupi Bulan.
Bagi pengamat, fase parsial jauh lebih menarik secara visual. Fase penumbra relatif sulit dikenali dengan mata telanjang karena perubahan kecerahannya lebih halus.
Seperti Apa Pengalaman Melihat Gerhana dari Berbagai Wilayah?
Bayangkan dua pengamat berada di dua benua berbeda pada malam yang sama.
Pengamat pertama berada di Amerika dan memiliki kondisi langit cerah. Ia dapat melihat Bulan perlahan memasuki bayangan Bumi, mencapai kondisi hampir seluruh permukaannya tertutup, kemudian kembali keluar dari bayangan.
Pengamat kedua berada di Eropa. Ia tetap dapat menyaksikan bagian penting dari gerhana, tetapi Bulan semakin rendah di langit dan akhirnya terbenam sebelum seluruh rangkaian selesai.
Keduanya sama-sama bisa mengatakan telah melihat Gerhana Bulan 2026. Namun, pengalaman mereka tidak sama.
Hal tersebut menjadi salah satu fakta paling menarik dari fenomena ini: cakupan geografis yang luas tidak otomatis menghasilkan pengalaman pengamatan yang seragam.
Data timeanddate bahkan memperkirakan hanya sekitar 987 juta orang yang dapat melihat keseluruhan rangkaian, jauh lebih sedikit dibandingkan 3,6 miliar orang yang setidaknya dapat melihat fase penumbra.
Gerhana Matahari dan Bulan Memang Bisa Muncul Berpasangan
Gerhana Bulan ini juga tidak berdiri sendiri. Sekitar dua pekan sebelumnya, gerhana Matahari total melintasi wilayah seperti Greenland, Islandia, dan Spanyol.
Pola tersebut bukan kebetulan. Seperti dikutip dari NBC dalam laporan yang menjadi rujukan, “gerhana Matahari dan gerhana Bulan biasanya muncul berpasangan.” Keduanya dapat terjadi berdekatan karena konfigurasi Matahari, Bumi, dan Bulan berada dalam susunan tertentu selama musim gerhana.
NASA mencatat 2026 memiliki empat peristiwa gerhana, terdiri dari dua gerhana Matahari dan dua gerhana Bulan. Gerhana Bulan 28 Agustus menjadi gerhana Bulan kedua pada tahun ini setelah gerhana Bulan total pada 3 Maret.
Kapan Gerhana Bulan Total Berikutnya?
Pengamat yang melewatkan kesempatan menyaksikan gerhana Bulan total masih harus menunggu hingga akhir 2028.
NASA mencatat gerhana Bulan total berikutnya akan terjadi pada 31 Desember 2028, dengan wilayah visibilitas utama mencakup Eropa, Afrika, Asia, Australia, dan Pasifik.
Itu membuat Gerhana Bulan 2026 tetap layak diperhatikan meskipun statusnya hanya sebagian. Dengan 96,3% piringan Bulan masuk ke umbra, fenomena ini merupakan salah satu gerhana sebagian terdalam sebelum gerhana total berikutnya.
Bagi miliaran orang yang berada di wilayah visibilitas, pertunjukan tersebut akan menjadi kesempatan untuk melihat Bulan berubah dari purnama terang menjadi objek langit yang sebagian besar berwarna gelap dan kemerahan.
Bagi Indonesia, ceritanya berbeda. Fenomena yang sama berlangsung pada saat Bulan berada di bawah horizon sehingga masyarakat di Tanah Air tidak dapat menyaksikannya secara langsung.
Perbedaan tersebut mengingatkan bahwa dalam astronomi, keberuntungan tidak hanya ditentukan oleh apakah sebuah fenomena terjadi, tetapi juga oleh di mana seseorang berdiri ketika langit menampilkannya. Pada Gerhana Bulan 2026, Amerika mendapatkan kursi terbaik, sebagian Eropa dan Afrika mendapat kesempatan terbatas, sementara Indonesia harus menunggu pertunjukan langit berikutnya.
FAQ
Kapan Gerhana Bulan 2026 terjadi?
Gerhana Bulan sebagian terjadi pada 27–28 Agustus 2026, tergantung zona waktu. Puncak astronomisnya terjadi pada 28 Agustus pukul 04.13 UTC, atau sekitar 11.13 WIB.
Di negara mana Gerhana Bulan 2026 bisa dilihat?
Gerhana dapat diamati dari sebagian besar Amerika Utara dan Selatan serta bagian Eropa dan Afrika. Beberapa wilayah Pasifik dan kawasan Asia Barat juga berada dalam area visibilitas pada fase tertentu.
Berapa banyak orang yang bisa melihat Gerhana Bulan 2026?
Sekitar 3,6 miliar orang atau 44,41% populasi dunia berada di wilayah yang dapat melihat setidaknya fase penumbra. Sekitar 3,34 miliar orang dapat melihat fase gerhana sebagian.
Apakah Gerhana Bulan 2026 bisa dilihat dari Indonesia?
Tidak. Dari Indonesia, termasuk Jakarta, seluruh rangkaian gerhana berlangsung ketika Bulan berada di bawah horizon sehingga fenomena tersebut tidak dapat diamati secara langsung.
Mengapa 96% Bulan tertutup bayangan tetapi bukan gerhana total?
Karena sekitar 96,3% piringan Bulan masuk ke umbra Bumi, tetapi tidak seluruh bagian Bulan berada di dalam umbra. Selama masih ada bagian Bulan yang berada di luar umbra, secara astronomis fenomena tersebut tetap dikategorikan sebagai gerhana Bulan sebagian.
Apakah Bulan akan menjadi Blood Moon?
Sebagian besar Bulan dapat tampak berwarna merah-oranye atau tembaga karena cahaya Matahari yang melewati atmosfer Bumi. Namun, karena gerhana tidak mencapai totalitas, fenomena ini bukan “blood moon” total seperti pada gerhana Bulan total.
Kapan gerhana Bulan total berikutnya?
Gerhana Bulan total berikutnya akan terjadi pada 31 Desember 2028. NASA mencatat fenomena tersebut dapat diamati dari Eropa, Afrika, Asia, Australia, dan kawasan Pasifik.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini

Terpopuler
- 1Digempur Bertubi-tubi oleh Iran dan Kehabisan Amunisi, Tentara AS Tinggalkan Camp Buehring di Kuwait
- 2Setelah Timnas Indonesia yang Semakin 'Belanda' Juara, Masih Pantaskah Mempersoalkan Naturalisasi?
- 3Jadwal Persib Hari Ini vs Port FC, Cek Jam Tayang dan Live Streaming
- 4Kalender Jawa 10 Oktober 2026: Watak Weton Sabtu Kliwon dan Hari Baiknya
- 5Tak Perlu Pansus atau Hak Angket untuk Kasus Ijazah Gibran? Ini Kata Komisi II DPR
- 6Bertarung di Korea Selatan Hingga Thailand, Klub Indonesia Tunjukkan Daya Saing di Asia
- 7John Herdman Terkejut dengan Standar Ekspektasi, Sebut Suporter Berharap Timnas Indonesia seperti Brasil
- 8Gratis! Pekan Antariksa Dunia 2026 di Indonesia, Cek Lokasi dan Cara Daftarnya
- 9Prabowo dan El-Sisi Tingkatkan Kerja Sama Pendidikan, Mesir Beri Tambahan Beasiswa untuk Mahasiswa Indonesia
- 10Prabowo Instruksikan Percepatan Pembangunan 100 Kampung Nelayan, Target Beroperasi Akhir Tahun





