Apa Itu Politik Divide et Impera? Penjelasan dan Penerapannya di Masa Kolonial

AKURAT.CO Tahukah kamu mengapa Belanda bisa menguasai Indonesia selama berabad-abad lamanya? Itu semua karena strategi politik divide et impera atau politik adu domba.
Tapi apa itu politik Divide et Impera? Dan bagaimana hal itu bisa mempengaruhi kolonialisme Belanda di Indonesia?
Baca Juga: Bagaimana Dampak dari Monopoli yang Dilakukan oleh Belanda di Maluku pada Masa Kolonial VOC?
Apa itu Politik Divide et Impera?
Dilansir dari Media Indonesia, politik divide et impera berasal dari bahasa Latin yang berarti “pecah belah dan kuasai.” Strategi ini digunakan untuk memecah belah suatu kelompok dengan cara mengadu domba kekuasaan internalnya.
Dengan adanya perpecahan, kelompok yang lemah akan lebih mudah dikendalikan oleh pihak yang berkuasa.
Sejarah dan Asal-Usul Divide et Impera
Melansir laman Roman Empire Times, politik divide et impera sudah digunakan sejak masa Philip II dari Makedonia, ayah dari Alexander Agung, untuk menaklukkan kota-kota Yunani.
Di masa Romawi, Julius Caesar sudah menggunakan strategi ini untuk penaklukan Galia.
Caesar menulis Commentarii de Bello Gallico untuk membangun citra dirinya sebagai pahlawan dan membenarkan tindakannya di mata rakyat Roma.
Divide et Impera Pada Masa Kolonial di Indonesia
Strategi ini juga dilakukan oleh Belanda dalam mempertahankan wilayah jajahannya, yaitu Indonesia.
Vereenigde Oost-indische Compagnie (VOC) adalah yang pertama kali memperkenalkan strategi ini di Indonesia.
Berikut bentuk penerapan politik divide et impera yang dilakukan Belanda mengutip dari repositori.kemendikdasmen:
- Membagi masyarakat berdasarkan kesamaan, baik itu kesamaan ras, etnis, pemikiran, agama, dan sebagainya. Awal mula pendekatan ini adalah make friends and create common enemy. Alhasil, di masa kolonial terdapat beberapa kelas sosial, yaitu Eropa, Timur Asing (India, Tionghoa, dan Arab), dan pribumi.
- Membuat propaganda yang disebarkan melalui media massa. Belanda dalam hal ini menyajikan berita yang subjektif seperti memotivasi pejabat untuk semangat bekerja dan membuat berita yang menimbulkan konflik antar-etnis.
- Memihak pada dua kubu yang sedang bertentangan. Belanda sering berpura-pura netral dalam konflik internal suatu kerajaan sehingga siapapun yang menang, Belanda tetap diuntungkan (win-win solution). Pola ini efektif untuk melemahkan kekuatan politik lokal dan memastikan Belanda tetap punya kendali.
- Merekrut pemimpin lokal sebagai bagian dari manajemen kekuasaan di tingkat bawah. Strategi ini membuat Belanda tidak perlu menguasai langsung semua wilayah, tetapi tetap bisa mengendalikan lewat pejabat lokal.
- Mengisolasi wilayah dengan menutup akses komunikasi, perdagangan, hingga melakukan blokade militer. Tujuannya memutus jaringan sosial dan ekonomi antarkerajaan yang terbentuk lewat perdagangan maupun pernikahan politik.
- Mengatur perang saudara dengan menggunakan pribumi untuk melawan bangsanya sendiri.
- Menggunakan kekerasan seperti penyiksaan, hukuman gantung, dan serangan militer kepada tokoh-tokoh yang melakukan perlawanan kepada Belanda.
Dampak Politik Divide et Impera
Perlawanan bersifat lokal dan lemah untuk melawan militer Belanda.
Perjuangan untuk meraih kemerdekaan berlangsung lebih lama. Meninggalkan warisan berupa perpecahan dalam kehidupan sosial dan politik di Indonesia.
Politik divide et impera menjadi salah satu strategi paling efektif yang membuat Belanda mampu menguasai Indonesia dalam waktu tiga abad lamanya.
Dengan memanfaatkan perpecahan antar kelompok, Belanda tidak hanya melemahkan perlawanan, tetapi juga meninggalkan warisan konflik sosial yang masih terasa hingga kini.
Hal ini menjadi pengingat akan pentingnya persatuan Indonesia di masa kini.
Perbedaan suku, agama, budaya, maupun pandangan politik seharusnya tidak lagi menjadi alasan untuk diadu domba karena keberagaman di Indonesia begitu indah jika kita bersatu.
Shera Amalia Ghaitsa (Magang)
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini

Terpopuler
- 1Kenapa Massa Geruduk Rumah Doa GKPI Tangerang? Ini Kronologi dan Duduk Perkaranya
- 2Update Medali Asian Games 2026 Hari Ini: Indonesia Raih 20 Medali, Cek Klasemennya!
- 3Dua Land Cruiser Disebut Bawa Rp480 Miliar ke Muktamar NU, Gus Lilur Kaitkan Rp180 Miliar dengan Nusron
- 4Prediksi Skor Norwegia vs Denmark di Nations League 25 September 2026
- 5Prediksi Skor Serbia vs Yunani di UEFA Nations League 2026-27: Starting XI, H2H, dan Semua Prediksi
- 6Presiden Suriah Bercanda dengan Trump: Kenapa Tak Beri New Jersey ke Israel?
- 7Prediksi Skor Belanda vs Jerman 25 September 2026: Debut Xavi dan Klopp
- 8Kalender Jawa 23 September 2026: Watak Weton Rabu Pon Dikenal Cerdas dan Mudah Bergaul
- 9Prabowo Undang Pakar dan Akademisi ke Istana, Diskusi Pengelolaan Gambut hingga Pencegahan Karhutla
- 10Aliran Dana Rp3,5 Miliar Waskita Karya ke Mantan Ketum Hipmi Akbar Himawan Sudah Masuk Gelar Perkara KPK






