Psikolog: Rasa Aman dan Dukungan Keluarga Kunci Pemulihan Anak Korban Kekerasan

AKURAT.CO Anak-anak korban kekerasan membutuhkan perlakuan khusus untuk bisa pulih dari trauma yang mereka alami.
Psikolog dari Ikatan Psikolog Klinis (IPK-HIMPSI) Kalimantan Timur, Aulia Suhesty, mengatakan, langkah pertama yang paling penting adalah memastikan anak merasa aman.
"Langkah awal yang harus diambil adalah menciptakan lingkungan yang aman bagi anak. Jika kekerasan yang dialami melibatkan kekerasan seksual, segera laporkan ke pihak berwajib dan lakukan visum untuk memastikan bukti-bukti yang ada tetap terjaga," ungkap Aulia dalam keterangan persnya, Minggu (12/1/2025).
Aulia menekankan, keluarga memiliki peran sentral dalam proses penyembuhan anak korban kekerasan.
Kehangatan dan rasa aman yang diberikan oleh keluarga, seperti pelukan, dapat membantu anak menghadapi ketakutannya setelah mengalami trauma.
Baca Juga: Dunia Diplomasi Berduka, Hasjim Djalal Sang Pejuang Laut Nusantara Tutup Usia
"Anak yang mengalami kekerasan sangat memerlukan rasa aman. Kehadiran dan kasih sayang keluarga adalah fondasi utama yang dapat mempercepat proses pemulihan mereka," tambahnya.
Selain itu, Aulia mengingatkan bahwa lembaga perlindungan seperti UPTD Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) di daerah dapat memberikan pendampingan psikologis dan hukum yang diperlukan oleh korban.
"Lembaga ini mendampingi anak sesuai kasus dan tingkat dampak psikologisnya, memastikan setiap anak mendapat perhatian yang sesuai dengan kebutuhannya," jelas Aulia.
Aulia menekankan, pendampingan psikologis dapat membuat perbedaan besar.
Anak yang mendapatkan bantuan psikologis cenderung pulih lebih cepat dibandingkan mereka yang tidak.
"Langkah awal dari pendampingan adalah asesmen untuk memahami sejauh mana dampak psikologis yang dialami korban. Ini menentukan jenis terapi yang diperlukan, apakah korban membutuhkan terapi untuk PTSD ringan, sedang, atau berat," katanya.
Baca Juga: KPK Sita Aset Rp8,1 Miliar Terkait Kasus Korupsi Dana Hibah di Jawa Timur
Ia juga menyoroti pentingnya peran sekolah dalam mencegah kekerasan dengan memberikan edukasi yang memadai.
Sekolah bisa menggunakan media seperti poster dan leaflet serta mengadakan diskusi terkait jenis-jenis kekerasan.
"Pengetahuan ini membantu siswa untuk mengenali kekerasan dan mendorong mereka memilih perilaku yang lebih baik," ujarnya.
Dukungan masyarakat juga menjadi elemen penting dalam proses penyembuhan anak korban kekerasan.
Aulia menegaskan, menyalahkan korban atau menganggap kekerasan sebagai hal biasa justru memperparah dampak trauma.
"Dukungan moral dan empati sangat diperlukan. Jika keluarga, sekolah, dan masyarakat bergerak bersama dengan pendekatan yang tepat, kita bisa membantu anak-anak pulih dengan lebih cepat dan membangun masa depan yang lebih cerah," tutupnya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Eks Ketua KY Soroti Putusan MK soal Ijazah Gibran: Tidak Menemukan Bukti Bukan Berarti Terbukti
- 2Kalender Jawa 12 Oktober 2026: Watak Weton Senin Pahing Dikenal Tegas dan Punya Cita-Cita Tinggi
- 3Belajar dari Jepang, Erick Thohir Ingin Timnas Indonesia Punya Dua Skuad Berkualitas
- 4Kalender Jawa 14 Oktober 2026: Rabu Wage Dikenal Punya Watak Teguh dan Penuh Pertimbangan
- 5Aprilia Buang Peluang Emas Meski Kuasai 4 Besar di Mandalika, Marc Marquez Pemenang Sesungguhnya!
- 6Prediksi Lens vs Sporting CP 13 Oktober 2026: Skor, H2H, dan Susunan Pemain
- 7Kalender Jawa 13 Oktober 2026: Watak Weton Selasa Pon, Setia tetapi Mudah Cemburu
- 8Kalender Jawa 15 Oktober 2026: Watak Weton Kamis Kliwon Dikenal Ramah dan Mudah Bergaul
- 9BGN Resmikan 980 Dapur MBG untuk Wilayah 3T
- 10KPK Tetapkan Lima Tersangka OTT BNPB, Adik hingga Orang Kepercayaan Suharyanto Terjerat








