Sektor Luar Negeri yang Terabaikan

KELEMAHAN, kekurangan atau bahkan kesalahan kebijakan ekonomi terkait upaya meningkatkan pertumbuhan ekonomi utamanya hanya satu yakni mengabaikan sektor luar negeri. Seluruh upaya dan dinamika selama ini terlalu inward looking.
Hanya sektor dalam negeri yang dikemas dengan berbagai kontroversi kebijakan, tetapi hasilnya tetap bertumbuh moderat sekitar 5%. Dengan kebijakan selama ini tidak mungkin pertumbuhan ekonomi bisa menyamai Vietnam, yang berhasil mencaatkan pertumbuhan tahunan sampai 8,3%.
Jika kelemahan kebijakan ini bisa diatasi dan kebijakan ekonomi ditransformasikan menjadi outward looking maka investasi luar negeri akan masuk karena ada sistem insentif, dukungan infrastruktur yang baik dan birokrasi yang ramah dan efisien.
Baca Juga: War Room Deregulasi dan Reformasi Birokrasi
Pada saat yang sama, investasi dalam negeri bisa bertumbuh bersamaan dengan investasi luar negeri yang masuk karena rancangan kebijakan orientasi ekspor (outward looking). Sektor industri akan berkembang jauh lebih baik dari yang sekarang ini karena dukungan sumberdaya nasional yang kuat (resource based industry).
Pemerintah mesti membahas kembali kebijakan ekonomi untuk mengatasi masalah kelemahan kebijakan selama ini. Untuk menuju pertumbuhan 7-8% seperti Vietnam, perubahan orientasi kebijakan ekonomi dari inward looking menjadi ouward looking mutlak harus dilakukan.
Jika tidak dan hanya mengandalkan sumber daya dan pasar dalam negeri, maka tidak harus puas dengan tingkat pertumbuhan moderat 5% atau bahkan di bawahnya. Tanpa perubahan kebijakan, maka janji kampanye sulit untuk bisa diwujudkan.
Memang kita tidak sama sekali mengabaikan sektor luar negeri dan tetap ada kegiatan dan dunia usaha yamg melakukan mengekspor, menarik FDI, dan melakukan hilirisasi.
Masalahnya adalah sektor luar negeri belum dijadikan mesin utama transformasi struktural dan industrialisasi. Kebijakan masih relatif terlalu berorientasi ke pasar domestik, substitusi impor, penguasaan sumber daya, dan konsumsi domestik.
Karena itu harus diubah menjadi kebijakan sebaliknya, yang menetrasi pasar internasional dengan daya saing industri yang kuat, orientasi ekspor, memanfaatkan investasi dan supply chain global. Hanya dengan memperhitungkan kembali sektor luar negeri dengan kebijakan yang baik, maka tingkat pertumbuhan lebih tinggi bisa diwujudkan.
Pertumbuhan ekonomi tidak akan lebih tinggi dari yang dicapai sekarang. Ini harus disadari karena faktor ekspor belum menjadi growth engine yang cukup kuat untuk mendorong transformasi industri.
Padahal, bagi negara sebesar Indonesia, pasar domestik memang penting, tetapi pasar domestik saja tidak cukup untuk menghasilkan industrialisasi berkelas dunia. Untuk menuju ke sana tidak ada jalan lain kecuali mengelola sektor luar negeri dengan kebijakan orientasi ekspor.
Indonesia dengan jumlah penduduk yang besar memang mempunyai pasar domestik yang besar pula. Tetapi masalahnya bukan hanya mengandalkan konsumsi domestik yang besar, tetapi dunia usaha Indonesia mampu naik kelas karena dipaksa dan diberi kesempatan untuk bersaing di pasar global.
Di sinilah kebijakan outward looking menjadi penting karena bisa mendorong Indonesia eksis dalam persaingan global dengan harapan bisa memperoleh devisa yang besar.
Indonesia pernah mempunyai best practice strategi outward looking seperti tahun 1980-an dimana negara mendorong investasi dan industri yang berorientasi ekspor. Pada tahun 1980-an kebijakan outward looking ini menghasilkan pertumbuhan ekonomi 7-8% selama 2 dekade.
Jadi pemerintah cukup mengulangi kebijakan yang pernah berhasil mengangkat pertumbuhan ekonomi yang tinggi tiga dekade lalu. Belanja pemerintah tidak bisa diandalkan untuk pertumbuhan tinggi.
Selama ini belanja pemerintah tidak akan langgeng karena hanya menjadi penyangga agar pertumbuhan ekonomi tidak jatuh di bawah 5%.
Apalagi fiskal juga punya masalah dari sisi penerimaan maupun pengeluaran sehingga tidak akan bertahan lama dan hanya bisa menyangga dalam jangka yang sangat pendek.
Sementara itu, faktor konsumsi masyarakat sudah tidak bisa diandalkan karena kelas menengah sudah tergerus dan menurun jumlahnya sehingga menghambat pertumbuhan ekonomi dari sisi konsumsi masyarakat.
Didik J Rachbini, Ekonom Senior INDEF
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini


Terpopuler
- 1Soal Gugatan Syarat Pendidikan Gibran ke MK, Margarito Kamis: Saya Tak Mengerti Kenapa Disidangkan
- 2Link Live Score Indonesia vs Thailand Final FIFA ASEAN Cup 2026, Cek Skor dan Susunan Pemain Sekarang!
- 3Link Live Streaming Indonesia vs Thailand di Final FIFA ASEAN Cup 2026, Nonton di Sini!
- 4Trump Siapkan Tambahan 10.000 Pasukan AS ke Timur Tengah, Senator Desak Kongres Hentikan Dana Perang Iran
- 5Kalender Jawa 5 Oktober 2026: Watak Weton Senin Kliwon Dikenal Ramah dan Mudah Bergaul
- 6Link Live Streaming Indonesia vs Thailand Final FIFA ASEAN Cup 2026: Jam Berapa dan Tayang di Mana?
- 7Dokumen Pendidikan Gibran Dilaporkan ke Bareskrim, Keaslian Syarat Cawapres 2024 Jadi Sorotan
- 8Prediksi Skor Wales vs Denmark 5 Oktober 2026: Duel Ketat di Cardiff
- 9DPR Sahkan RUU Pelindungan Ketenagakerjaan dalam Rapat Paripurna Besok
- 10Bos Maktour Travel Fuad Hasan Masyhur: Nama Saya Hancur Sehancur-hancurnya







