Akurat

Trump Effect, Wamen ESDM Periode Jokowi Sebut NZE Bakal Lamban

M. Rahman | 11 November 2024, 16:36 WIB
Trump Effect, Wamen ESDM Periode Jokowi Sebut NZE Bakal Lamban

AKURAT.CO Presiden AS terpilih, Donald Trump bakal kembali ke Gedung Putih pada 20 Januari 2025 mendatang. Sayangnya, kembalinya Trump akan mempengaruhi bebagai lini kebijakan baik ekonomi, sosial hingga energi.

Kandidat dari Partai Republik tersebut menyampaikan kepada para pendukungnya yang antusias di Florida bahwa mereka akan memulai “era keemasan baru bagi Amerika" dengan Trump sebagai presiden pada periode mendatang.

Menurut Wakil Menteri ESDM periode 2016-2019, Arcandra Tahar, kembalinya Donald Trump sebagai Presiden Amerika Serikat justru akan menimbulkan setidaknya 3 tantangan besar bagi upaya mitigasi perubahan iklim global. Pasalnya, sejumlah program yang berdampak pada mitigasi perubahan iklim terancam dihentikan oleh Trump.

"Pertama, program net zero emission diperkirakan akan mengalami perlambatan. Hal ini disebabkan karena insentif perpajakan untuk pengembangan energi angin, matahari, baterai dan kendaraan Listrik (EV) akan ditinjau ulang walaupun sudah tertuang dalam Inflation Reduction Act (IRA)," katanya dikutip dari akun IG pribadinya @archandra.tahar, Senin (11/11/2024).

Baca Juga: Trump Effect Picu Lonjakan Kripto, OJK: Tetap Waspada

Menurut Arcandra, perlambatan program net zero emission diperparah oleh naiknya tarif impor dari barang-barang yang diperlukan untuk membangun Pembangkit Listrik Tenaga Bayu (PLTB) dan Tenaga Surya (PLTS), baterai dan EV.

Ia memperkirakan project-project ini akan berkurang, setidaknya sepertiga dari yang direncanakan oleh Presiden Biden. Sebagai akibat, Presiden Trump akan memberikan kelonggaran pada standar emisi gas buang dari kendaraan yang berbahan bakar fosil.

Tekanan terhadap penggunaan teknologi rendah emisi akan melambat sehingga kendaraan BBM yang ada akan tetap mendominasi pemakaiannya di AS dibandingkan EV. Di mana kebutuhan terhadap mineral strategis seperti tembaga, nikel dan cobalt akan berkurang dengan sendirinya.

Kedua, harga minyak dalam tekanan. Mantan Wamen ESDM ini menyebut, dampak lainnya akan mengenai sektor minyak di mana harga minyak akan dalam tekanan ketidakpastian. Ia melihat akan ada pengenaan tarif impor yang lebih tinggi, maka pertumbuhan ekonomi dunia dan AS akan melemah. Dengan konsumsi minyak AS yang sangat besar atau sekitar 20% produksi dunia maka perlambatan ekonomi AS berakibat pada turunnya kebutuhan minyak sekitar setengah juta barrel per hari atau sama dengan 0.5% produksi minyak dunia.

Arcandra menjelaskan, walaupun secara angka turun 0,5% namun harga minyak mentah bisa turun banyak tergantung bagaimana kebijakan Presiden Trump menghadapi konflik Israel, Palestina dan Iran. Jika tidak berhasil mendamaikan maka pengaruh turunnya demand minyak mentah terhadap harga tidak akan signifikan.

Indonesia perlu mewaspadai juga jika terjadi balas dendam dari negara-negara yang terkena tarif impor yang tinggi di AS dengan mengenakan juga tarif impor  barang-barang yang berasal dari AS. Perang dagang mungkin akan terjadi yang akan berdampak sangat signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi dunia.

Ketiga, eksplorasi migas digas lagi. Presiden Trump akan meningkatkan aktivitas eksplorasi dan produksi minyak dan gas di dalam negeri. Kebijakan-kebijakan Presiden Biden kata Arcandra yang menghambat sektor minyak dan gas di AS kemungkinan besar akan ditinjau ulang di periode Trump. Wilayah-wilayah yang dulunya terlarang untuk aktivitas migas diwacanakan untuk diperbolehkan dan jika eksplorasinya berhasil tentu akan menambah cadangan migas AS.

Tak hanya itu pelarangan ekspor LNG ke negara-negara yang tidak punya perjanjian dagang dengan AS juga akan ditinjau ulang. Beberapa proyek LNG yang terhenti di zaman Presiden Biden akibat pelarangan ini akan mulai beraktivitas kembali paling tidak pertengahan tahun depan.

Lebih jauh lagi Presiden Trump berencana meninjau ulang standard baru dari sisi lingkungan yang memberatkan sektor minyak dan gas. "Dari perubahan strategi ini, dapat kita tarik pelajaran bahwa aktivitas migas akan tetap menjadi prioritas AS dalam masa transisi energi," tukasnya.

 
Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

M
Reporter
M. Rahman
Yosi Winosa