AHY Dorong Aglomerasi Polisentris untuk Genjot Ekonomi Kawasan Kunci Bersama

AKURAT.CO Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), menekankan pentingnya konektivitas infrastruktur dalam mendorong pertumbuhan ekonomi di kawasan Kunci Bersama.
Langkah tersebut dinilai krusial untuk mengikis ketimpangan ekonomi antarwilayah. Kunci Bersama sendiri terdiri dari 10 daerah, di antaranya Kuningan, Ciamis, Kota Banjar, Indramayu, Cirebon, Cilacap, Majalengka, Kota Cirebon, Brebes, dan Pangandaran.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), pertumbuhan ekonomi di 10 kabupaten/kota kawasan Kunci Bersama saat ini masih belum merata. Beberapa daerah tercatat masih tumbuh di bawah 5 persen, sementara sebagian lainnya sudah berada di atas rerata nasional.
Baca Juga: Piala Presiden 2026 Diharapkan Jadi Hiburan dan Genjot Ekonomi Masyarakat
Untuk mengatasi persoalan tersebut, AHY menawarkan konsep pengembangan wilayah berbasis aglomerasi polisentris. Pendekatan ini diharapkan mampu menghapus ego sektoral antar-pemerintah daerah.
"Saya tadi mengedepankan sebuah paradigma pengembangan wilayah aglomerasi polisentris," ujar AHY saat menghadiri Kunci Bersama Summit 2026 di Jakarta, Senin (27/7/2026).
Dia menjelaskan, konsep aglomerasi bertujuan menghimpun daerah-daerah yang berdekatan agar saling terhubung meskipun terpisah secara administratif. Sementara pendekatan polisentris akan membagi peran tiap daerah sebagai pusat pertumbuhan baru.
Baca Juga: Menkeu Purbaya: Likuiditas Cukup, Ekonomi RI Optimis Tumbuh Lebih Cepat
"Aglomerasi artinya ya tadi kawasan-kawasan kabupaten kota coba kita himpun dan kita upayakan agar walaupun ini berbeda secara administratif tapi terhubung satu sama lain. Dan polisentris artinya tidak harus membangun satu pusat kota besar tapi masing-masing itu menjadi pusat-pusat baru," ujarnya.
Dia mencontohkan keberhasilan model integrasi kawasan tersebut di sejumlah wilayah Eropa dan China. Di negara-negara tersebut, setiap daerah dikembangkan dengan fungsi-fungsi spesifik yang saling menopang satu sama lain.
"Kami hadirkan sebuah studi kasus misalnya perbandingan dengan negara-negara di Eropa termasuk China sendiri itu ada kawasan-kawasan yang dikembangkan dengan fungsi-fungsi spesifik. Jadi kita saling menghubungkan satu sama lain, berbeda tapi saling mendukung satu sama lain," ungkapnya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini

Terpopuler
- 1Kalender Jawa 28 Oktober 2026: Watak Weton Rabu Pon, Benarkah Dikenal Pekerja Keras?
- 2Putin Nyatakan Rusia Siap Perang dengan Eropa Meskipun Tidak Menginginkannya
- 3Pemimpin Oposisi Israel Berjanji akan Mengganti Pemerintahan Netanyahu setelah Pemilu
- 44 Link CCTV Jakarta Hari Ini, 28 Oktober 2026: Pantau Situasi Demo di Bundaran HI!
- 5Viking Sebut Terduga Pembunuh ARK Bukan Pendukung Persija, Terindikasi Kelompok Suporter Klub Lain
- 6Luhut soal Polemik Ekspor Gas: Ngapain Berkelahi dengan Singapura?
- 7Pentagon Minta Negara NATO Redam Pernyataan Mengancam Rusia, Ada Apa?
- 8Kalender Jawa 29 Oktober 2026: Watak Weton Kamis Wage Dikenal Punya Cita-Cita Tinggi
- 9Geledah Kantor PT IPPS, Kejagung Sita Ponsel dan Temukan Akses Ruangan Rahasia
- 10KPK Geledah Kantor Bea Cukai Semarang dan Kanwil Jateng, Sita Uang Tunai







