Harapan Hidup Sehat di Indonesia Masih Rendah, Kematian Akibat Penyakit Dimulai Sejak Usia 35-39 Tahun

AKURAT.CO Kementerian Kesehatan menyebut masyarakat Indonesia kini memiliki usia harapan hidup yang lebih panjang. Namun hal tersebut tidak diikuti oleh masa hidup sehat, di mana kematian akibat penyakit mulai terjadi pada usia produktif.
Berdasarkan hasil Survei Penduduk Antar Sensus (SUPAS) 2025 yang dirilis Badan Pusat Statistik (BPS), menunjukan usia harapan hidup meningkat menjadi 74,43 tahun, sementara angka kematian bayi turun menjadi 14,12 per 1.000 kelahiran hidup.
"Sekarang baru saja keluar data dari SUPAS. Data dari BPS ini menunjukkan bahwa usia harapan hidup kita meningkat menjadi 74. Tapi kalau dilihat di sini, tadinya 72, sekarang 74," kata Direktur Jenderal Kesehatan Primer dan Komunitas Kemenkes, Maria Endang Sumiwi, saat ditemui di Kantor Kemenkes, Rabu (22/7/2026).
Baca Juga: Gandeng Kemenkes, TikTok Luncurkan Inisiatif 'Makan Dengan Makna' untuk Dorong Gaya Hidup Sehat
Meski masyarakat hidup lebih lama, kematian akibat penyakit mulai terjadi sejak usia 35-39 tahun. Dia pun membandingkan kondisi Indonesia dengan Singapura. Menurutnya, masyarakat Singapura dapat menikmati masa hidup sehat lebih panjang sebelum meninggal dunia.
"Jadi walaupun di sini kita meninggalnya berkurang, lalu meninggalnya kita di usia yang lebih tua, tapi tuanya masih kemudaan, karena kita mulai meninggal 35-39. Nah ini masih seperti itu. Kalau Singapura hidup sehat sampai 74 meninggal 84. Kalau kita hidup sehat sampai 60 meninggal 74," ujarnya.
Menurutnya, penyakit stroke masih mendominasi penyebab kematian utama di Indonesia. Penyakit jantung iskemik menjadi peringkat kedua dan setelahnya diikuti diabetes dan gagal ginjal kini masuk 10 besar penyebab kematian.
Hal ini mengakibatkan perubahan pola penyakit itu juga berdampak pada pembiayaan kesehatan nasional melalui BPJS Kesehatan.
Baca Juga: AIA Healthy Longevity Meluncur, Layanan Terpadu untuk Bantu Tingkatkan Periode Hidup Sehat
Dengan demikian, masih terdapat berbagai persoalan kesehatan yang harus diselesaikan, mulai dari ibu hamil yang mengalami kurang energi kronis hingga prevalensi stunting yang masih tinggi.
Karenanya, tujuan pembangunan kesehatan adalah menciptakan masyarakat yang sehat sepanjang siklus hidup sehingga penyakit seperti serangan jantung, stroke, diabetes, dan hipertensi dapat dicegah.
"Nomor satu pembiayaannya untuk jantung, operasi jantung. Nomor dua untuk cuci darah, lalu kanker, stroke. Jadi ini sekarang masyarakat kita seperti ini kondisinya. Kita hidup lebih lama, tapi belum hidup sehat lebih lama. Kematian sudah dimulai pada usia-usia dewasa, belum usia-usia lansia," tegasnya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Kalender Jawa 28 Oktober 2026: Watak Weton Rabu Pon, Benarkah Dikenal Pekerja Keras?
- 2Putin Nyatakan Rusia Siap Perang dengan Eropa Meskipun Tidak Menginginkannya
- 3Pemimpin Oposisi Israel Berjanji akan Mengganti Pemerintahan Netanyahu setelah Pemilu
- 44 Link CCTV Jakarta Hari Ini, 28 Oktober 2026: Pantau Situasi Demo di Bundaran HI!
- 5Viking Sebut Terduga Pembunuh ARK Bukan Pendukung Persija, Terindikasi Kelompok Suporter Klub Lain
- 6Luhut soal Polemik Ekspor Gas: Ngapain Berkelahi dengan Singapura?
- 7Pentagon Minta Negara NATO Redam Pernyataan Mengancam Rusia, Ada Apa?
- 8Kalender Jawa 29 Oktober 2026: Watak Weton Kamis Wage Dikenal Punya Cita-Cita Tinggi
- 9Geledah Kantor PT IPPS, Kejagung Sita Ponsel dan Temukan Akses Ruangan Rahasia
- 10KPK Geledah Kantor Bea Cukai Semarang dan Kanwil Jateng, Sita Uang Tunai









