Penularan TBC di Jakarta Dipengaruhi Masih Rendahnya Septic Tank dan MCK Layak

AKURAT.CO Anggota Komisi C DPRD Jakarta dari Fraksi Partai Solidaritas Indonesia (PSI), August Hamonangan, menilai persoalan tuberkulosis (TBC) di Jakarta tidak dapat dipisahkan dari buruknya sanitasi lingkungan.
Kondisi demikian masih dijumpai di permukiman padat penduduk dan harus menjadi perhatian serius Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jakarta.
Untuk itu, dia meminta Pemprov Jakarta mempercepat penyediaan septic tank dan sarana mandi, cuci, kakus (MCK) yang layak, terutama di kawasan permukiman padat dan wilayah RW kumuh, untuk menekan penyebaran penyakit tersebut.
Baca Juga: Kemhan Pastikan Peserta SPPI yang Meninggal Bukan karena TBC
Menurutnya, lingkungan yang kotor menjadi salah satu faktor yang meningkatkan risiko masyarakat terserang TBC. Masih minimnya ketersediaan septic tank di sejumlah kawasan permukiman menjadi persoalan mendasar yang harus segera diselesaikan.
"Isu TBC ini erat kaitannya dengan masalah kebersihan. Warga kita bisa jatuh sakit karena lingkungan di sekitarnya kotor. Dan salah satu masalah terbesar di Jakarta yang sedang kita hadapi ini adalah masih kurangnya septic tank di wilayah pemukiman warga," kata August kepada wartawan di Gedung DPRD Jakarta, Selasa (30/6/2026).
Dia menyoroti persoalan itu sebagai ironi bagi Jakarta yang menargetkan diri sebagai kota global, namun masih menghadapi persoalan sanitasi dasar. Menurutnya, masih banyak warga yang terpaksa membuang air besar sembarangan karena belum memiliki fasilitas sanitasi yang memadai.
"Jakarta ini katanya mau jadi Kota Global. Tapi, ribuan warganya masih BAB secara sembarangan di tempat-tempat terbuka. Ini bisa diakibatkan oleh ketiadaan sarana mandi, cuci, kakus (MCK) yang memadai. Atau, juga karena tempat tinggalnya tidak punya septic tank untuk menampung kotoran-kotoran buangannya," ujarnya.
August juga menilai program penyediaan Sistem Pengelolaan Air Limbah Domestik (SPALD) atau septic tank komunal yang dijalankan Pemprov Jakarta belum mampu menjawab kebutuhan masyarakat secara menyeluruh. Dia menilai, pembangunan fasilitas sanitasi tersebut masih tertinggal, terutama di kawasan permukiman kumuh.
"Bahkan, upaya Pemprov Jakarta menyediakan SPALD alias septic tank komunal juga belum berhasil sepenuhnya. Terlebih, di daerah-daerah RW Kumuh," katanya.
Baca Juga: Wacana MBG untuk Pasien TBC Perlu Dikaji Ulang
August pun meminta Pemprov Jakarta meningkatkan realisasi pembangunan septic tank, baik untuk rumah tangga maupun secara komunal, agar akses sanitasi masyarakat semakin merata.
Menurutnya, capaian pembangunan pada tahun lalu masih berada di bawah target sehingga masih banyak warga yang belum memperoleh fasilitas sanitasi yang layak.
"Pelaksanaannya pada tahun lalu masih kurang dari target yang ditetapkan. Masih ada banyak warga yang membutuhkan septic tank untuk dibangun di rumah kediamannya, atau sekurang-kurangnya di lingkungannya agar bisa dipakai komunal," tandasnya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Ekspor Minyak Timur Tengah Pulih 80 Persen, Strategi Iran di Selat Hormuz Mulai Kehilangan Taji?
- 2Prediksi Skor Thailand vs Vietnam 29 September 2026: Vietnam Berpeluang Menang Lagi?
- 3Klik Link Live Streaming Indonesia vs Malaysia FIFA ASEAN Cup 2026 Malam Ini
- 4Prediksi Skor Argentina vs Bolivia 1 Oktober 2026: La Albiceleste Dijagokan
- 5Sinyal Aliansi Militer Baru? Telepon Khusus Erdogan ke Prabowo Bongkar Ambisi Besar Jakarta-Ankara
- 6Prediksi Indonesia vs Malaysia di FIFA ASEAN Cup 2026: Susunan Pemain dan Skor!
- 7Klasemen FIFA ASEAN Cup 2026 Terbaru: Indonesia vs Bangladesh, Cek Jadwal dan Posisi Grup A!
- 8Cek Bansos Tahap 4 Oktober-Desember 2026, Begini Cara Cek Desil dan Status Penerima Pakai NIK
- 9KPK Hadirkan Delapan Saksi dari Kesthuri, Himpuh, Amphuri hingga Maktour untuk Pembuktian Korupsi Kuota Haji
- 10Terima Jemaat GKPI Rajeg, Wapres Gibran Tekankan Kerukunan dan Kebebasan Beribadah




