Patut Diacungi Jempol, Produksi Beras 2026 Indonesia Meroket Saat Produksi Dunia Turun

AKURAT.CO Indonesia mencatatkan pencapaian yang membanggakan di sektor pertanian. Di saat panen dunia terkontraksi dan cadangan global menipis, produksi beras pemerintah justru menembus rekor tertinggi sepanjang sejarah.
"Ketika dunia memanen lebih sedikit, Indonesia justru memanen lebih banyak," kata Menteri Pertanian Amran Sulaiman dikutip Senin (22/6/2026).
Laporan terbaru Organisasi Pangan dan Pertanian Perserikatan Bangsa-Bangsa (FAO) menempatkan Indonesia sebagai salah satu titik terang di peta pangan dunia pada 2026.
Baca Juga: Bukan Sekadar Beras, Bantuan Tzu Chi ASG Bantu Warga Teluknaga Atur Kebutuhan Rumah Tangga
Dalam laporan setebal 137 halaman yang seluruh asesmen berasnya mengacu pada data hingga 13 Mei 2026 tersebut, FAO memproyeksikan produksi beras dunia pada 2026/2027 turun 1,6 persen menjadi 552,4 juta ton.
Kementerian Pertanian (Kementan) mencatat Ini merupakan koreksi pertama setelah dua musim panen rekor berturut-turut. "Namun, di tengah kontraksi global itu, grafik produksi Indonesia justru bergerak naik," kata Amran.
FAO menempatkan produksi beras Indonesia pada angka 38,6 juta ton setara beras giling pada 2026/2027, melonjak secara signifikan dari 34,0 juta ton pada 2024/25. Dengan capaian ini, Indonesia kini bertengger sebagai produsen beras terbesar keempat di dunia.
Indonesia berada di bawah India, China, dan Bangladesh. Indonesia sekaligus menjadi satu dari sedikit produsen besar yang produksinya terus meningkat saat raksasa-raksasa pangan lain tengah tersandung.
Daftar negara produsen yang mengalami penyusutan tahun ini terbilang masif. FAO mencatat produksi Thailand anjlok 6,1 persen menjadi 21,8 juta ton. Amerika Serikat mengalami penurunan produksi 15,2 persen atau merupakan panen terendahnya dalam empat tahun terakhir.
Baca Juga: Dua Tahun Harga Beras Stabil, GPM Digeber untuk Jaga Daya Beli
Sementara itu, produksi Brasil merosot hingga 12,9 persen. Kamboja sebagai pemasok penting di kawasan, juga mencatatkan penurunan sebesar 2,8 persen.
Catatan Kementan, secara agregat hampir seluruh kawasan di dunia diperkirakan mencatat hasil panen yang lebih rendah, dengan pengecualian Benua Afrika.
Menurut FAO, penyebab fenomena ini menunjuk pada dua tekanan utama, yakni ketidakpastian iklim akibat prediksi munculnya badai kering El Niño, serta merosotnya margin keuntungan (profitabilitas) usaha tani akibat harga jual yang melemah namun berbenturan dengan lonjakan biaya input.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini


Terpopuler
- 1Soal Gugatan Syarat Pendidikan Gibran ke MK, Margarito Kamis: Saya Tak Mengerti Kenapa Disidangkan
- 2Link Live Score Indonesia vs Thailand Final FIFA ASEAN Cup 2026, Cek Skor dan Susunan Pemain Sekarang!
- 3Link Live Streaming Indonesia vs Thailand di Final FIFA ASEAN Cup 2026, Nonton di Sini!
- 4Trump Siapkan Tambahan 10.000 Pasukan AS ke Timur Tengah, Senator Desak Kongres Hentikan Dana Perang Iran
- 5Kalender Jawa 5 Oktober 2026: Watak Weton Senin Kliwon Dikenal Ramah dan Mudah Bergaul
- 6Link Live Streaming Indonesia vs Thailand Final FIFA ASEAN Cup 2026: Jam Berapa dan Tayang di Mana?
- 7Dokumen Pendidikan Gibran Dilaporkan ke Bareskrim, Keaslian Syarat Cawapres 2024 Jadi Sorotan
- 8Prediksi Skor Wales vs Denmark 5 Oktober 2026: Duel Ketat di Cardiff
- 9Presiden Prabowo: Satgas PKH Selamatkan Uang Negara Rp52 Triliun dalam Dua Tahun
- 10Prabowo Saksikan Penyerahan Hasil Penyelamatan Uang Negara Rp13,2 Triliun dari Satgas PKH






