Gibran: AI Bukan Lagi Teknologi Masa Depan, Kita Harus Menguasainya

AKURAT.CO Wakil Presiden, Gibran Rakabuming Raka, mengatakan perkembangan Artificial Intelligence (AI) yang semakin cepat harus dimanfaatkan untuk meningkatkan kemampuan belajar dan produktivitas, tanpa mengabaikan etika.
Saat ini, AI bukan lagi teknologi masa depan, melainkan bagian dari kehidupan saat ini yang harus dipahami dan dikuasai masyarakat. Untuk itu, pelajar, guru, dan orang tua diminta tidak hanya menjadi pengguna, namun juga menguasai teknologi AI.
"Dalam beberapa kesempatan, saya sering menyampaikan bahwa AI bukan lagi masa depan, AI adalah hari ini. Kita tidak bisa lagi menutup mata atau sekedar menjadi penonton. Kita harus menjadi pemain, kita harus menjadi penguasa teknologi tersebut," kata Gibran dalam video terbarunya yang diunggah di Youtube @GibranTV, Selasa (16/6/2026).
Dia meminta kepada para pelajar untuk memanfaatkan AI sebagai alat bantu belajar tanpa mengurangi daya kritis, kreatifitas dan berfikir. Karenanya, AI dapat membantu ketertinggalan dalam belajar di berbagai bidang.
"AI adalah alat untuk mempercepat, bukan alat untuk membuat kalian malas. Bayangkan AI sebagai asisten pribadi yang membantu kalian belajar, mencari data, mempelajari bahasa asing lebih cepat, bahkan memahami rumus matematika yang rumit dengan cara yang lebih sederhana. Gunakan AI untuk memicu kreativitas, bukan untuk menggantikan kemampuan berpikir kalian sendiri," ujarnya.
Gibran juga menyoroti peluang besar yang muncul dari perkembangan teknologi AI berbasis open source, yang dapat diakses secara luas. Menurutnya, penguasaan teknologi akan menjadi salah satu kunci dalam mewujudkan visi Indonesia Emas 2045.
"Kabar baiknya, banyak sekali teknologi AI canggih yang sekarang sifatnya open source. Ilmu gratis, kodenya terbuka, bisa diakses siapa saja. Indonesia Emas 2045 bukan lagi sekedar impian, tetapi sebuah kepastian," ucapnya.
Selain pelajar, Gibran juga meminta guru untuk terus meningkatkan kemampuan dalam memanfaatkan AI untuk mendukung proses pembelajaran yang lebih efektif.
Dengan AI, guru dapat memiliki lebih banyak waktu untuk membangun karakter dan memberikan pendampingan kepada peserta didik.
Baca Juga: Poltracking: Petani dan Nelayan Kelompok Paling Puas Kinerja Pemerintahan Prabowo-Gibran
"Guru yang menguasai AI akan memiliki kekuatan super untuk mendidik dengan lebih efektif. AI bisa membantu sisi administratif guru, baik dalam membuat pertanyaan, menyajikan penjelasan yang lebih sederhana dan diminati murid, serta memberikan contoh kasus yang membuat murid lebih bisa menyerap materi pembelajaran. Sehingga Bapak-Ibu punya lebih banyak waktu untuk menyentuh sisi humanis dan karakter murid-murid kita," jelasnya.
Kepada orang tua, Gibran juga mengingatkan untuk mengingatkan pentingnya pendampingan terhadap anak-anak di tengah perkembangan teknologi yang pesat. Sebab, teknologi tanpa etika itu sangat berbahaya.
Karenanya, AI bisa digunakan untuk membuat konten positif, tapi juga bisa dipakai untuk menyebar hoaks, melakukan plagiarisme, atau melanggar privasi orang lain.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini

Terpopuler
- 1Kalender Jawa 18 September 2026: Watak Weton Jumat Pon, Bijak dan Mudah Bergaul
- 2Persija Banding Sanksi Komdis PSSI, 2 Larangan Laga Kandang Jadi Sorotan
- 3Kalender Jawa 19 September 2026: Watak Weton Sabtu Wage, Setia dan Berpendirian Kuat
- 4FIFA ASEAN Cup: PSSI Rilis 23 Pemain Timnas Indonesia, Jay Idzes dan Beckham Putra Absen
- 5Prediksi Skor Brentford vs Chelsea 19 September 2026: Duel Ketat, Apakah Akan Berakhir Imbang?
- 6Gara-gara Kembang Api di Hotel Pemain Persib, Persija Disanksi Tak Gelar 2 Laga di Kandang
- 7Prediksi Skor Juventus vs NEC Nijmegen 18 September 2026: Siapa yang Akan Menang?
- 8Prediksi Skor Roma vs Inter 19 September 2026: Duel Dua Tim Sempurna di Olimpico
- 9Geledah Rumah Lampri, KPK Sita Bukti Dugaan Aliran Uang
- 10Presiden Prabowo: Saya Tidak Ingin Ada Orang Lapar di Indonesia








